Optimis vs Pesimis (2): Ke Mana Arah sang Optimistik?

Di tulisan sebelumnya, saya memaparkan bahwa tipe pesimistik merangkak ke papan atas manajemen. Lantas, kemana si optimis bakal meraih posisi terbaiknya?
<I>Where the heck are they doing?</I>
Kita tahu, bahwa sang Optimis: <I>expect the expected</I>. Sebaliknya, modus operandi manajemen adalah pesimistik: <I>expect the unexpected</I>. Jangan diterjemahkan: mengharap bencana, melainkan SIAP menghadapi yang terburuk.
Eksportir misalnya cenderung pesimis bahwa barang yang dikirim tidak dibayar sehingga menuntut dibayar sebelum dikirim. Importir tidak mau membayar sebelum barang dikirim, takut jika barang tersebut ternyata tidak dikirim. Sang pemberi kontrak menuntut jaminan uang muka karena takut uang mukanya dibawa kabur kontraktor. Sang pemberi kontrak juga menuntut jaminan mutu, takut kalau rusak kontraktornya tidak mau memperbaiki. Itulah basis manajemen: <I>expect the unexpected</i>.
Manajemen terdiri atas <I>planning, directing, controling</I> dan <I>excecuting</I>. Pada <I>planning</i> umumnya dipakai <I>pesimistic plan: the worst case scenario</i>. Jika rencana A gagal, maka sudah disiapkan rencana B. Hal ini tersurat dalam kontrak-kontrak perusahaan: waktu pengerjaan sudah ditentukan dan kalau tidak selesai tepat waktu maka konsekuensinya sudah disepakati. Jika ada perubahan, juga telah diantisipasi di kontrak. Bahkan jika ada sengketa pun, pasal-pasal itu termuat di kontrak. Sangat pesimistik.
Birokrasi adalah sebentuk pesimisme yang sangat menjengkelkan. Bahkan kita menyerahkan suatu dokumen kepada sejawat seruang harus pakai tanda terima. <I>What the heck!</I> Banyak aturan! Nuansa yang demikian ini membuat beberapa optimis tidak nyaman. Beberapa di antaranya akhirnya hengkang. Itu salah satu penjelasan kenapa orang-orang yang berpembawaan optimis kurang betah duduk di manajemen. Mereka frustrasi dengan atmosfir pesimistik yang tidak sesuai dengan sifatnya.
Di sisi lain, orang-orang yang optimistik sangat menjengkelkan manajemen. Mereka selalu bilang bisa bisa bisa, nanti beres beres beres, sudah selesai selesai selesai, sambil cengengesan setor wajah optimis. Nyatanya, tidak beres, tidak selesai dan gagal! Berbeda dengan si pesimis, sesudah di-<I>thuthuk</I> biasanya selesai dan beres karena mereka takut di-PHK. Tidak demikian halnya dengan si optimis, mereka tidak gentar di-PHK dan tetap saja pasang muka optimis.
Di-<I>thuthuk</I> berkali-kali tetap saja optimis tidak di-PHK. Akirnya benar-benar di-PHK. Dari sinilah ejekan buat optimistik muncul: <I>It doesn’t hurt to be optimistic. You can always cry later.</i>
Itu penjelasan lain mengapa orang-orang berpembawaan cenderung optimis jarang sampai ke tangga atas manajemen. Jadi, sebagian optimis SP ada yang keluar, tidak tahan kerja manajemen yang bagi mereka barangkali terasa muram, banyak aturan, monoton. Sebagian lagi kena tendang. Sebagian yang bisa merangkak ke papan atas adalah orang-orang dengan ‘plus’. Entah berbakat, anak orang penting/kaya/berkuasa, punya koneksi bagus/luas, sangat pandai, pintar mengambil hati/menjilat, atau memiliki sesuatu yang sangat dibutuhkan korporasi tersebut.
Yang lain ke mana? Sebagian besar ada di papan bawah, sebagai tukang-tukang, teknisi-teknisi, sopir-sopir, dan di sektor-sektor informal. Mereka nyaman dalam ketidaktentuan. Sebagian lagi sebagai artis, seniman, olahragawan, penghibur, dan bidang-bidang lain di mana optimisme dihargai. Mereka optimis, periang dan tidak gentar menghadapi esok.
<I>Entrepreneur</I>, mulai dari tukang sate sampai sekelas Rupert Murdoch, didominasi para optimis. Dalam kewirausahaan optimisme mutlak diperlukan. Optimisme mereka mampu menarik banyak pihak (kreditor, pemodal, karyawan, supplier) bergabung. Sifat positif para optimis adalah tidak gentar mengalami kegagalan.
Kalau gagal mereka bangkit dengan sangat mudahnya. Gagal, bangkit lagi; gagal lagi bangkit lagi. Optimis umumnya besar nyalinya, baik yang besifat fisik maupun finansial, berani duel dengan risiko.
Sifat buruk optimis adalah mengulang-ulang kesalahan yang sama. Sangat kontras dengan pesimis, yang takut gagal. Kalau gagal mereka akan mati-matian supaya tidak gagal lagi.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, masing-masing karakter punya kelebihan dan kekurangan. Jika Anda bos sebaiknya mengisi beberapa orang yang optimistik dalam jajaran manajemen, biar pun kerjaannya tidak beres. Mereka membawa cuaca cerah. Kalau tidak, suasana akan kelabu: <I>seeing doom and gloom</I>. Kalau Anda <I>entrepreneur</I>, rekrut wajah-wajah muram pesimistik. Mereka akan membentengi Anda dari babak belur. Sudah pasti Anda akan frustrasi <I>nuthak-nuthuk</i> tapi mereka akan melindungi Anda.
Jika ada yang paham MBTI, di puncak tangga manajemen 80-90% terdiri dari 4 tipe: ESTJ (terbanyak), ISTJ, ENTJ, INTJ. Perhatikan 2 huruf terakhir: TJ.
Karakter khas mereka: andal dan pesimistik.
Yang dua terakir sedikit jumlahnya karena populasinya sedikit. Entrepreneur didominasi 3 tipe: ESTP, ISTP dan ENTP. Perhatikan 2 huruf terakir: TP.
Karakteristik mereka optimis, gesit dan tidak gentar.
Dunia seni didominasi ESFP dan ISFP. Karakteristik mereka: <I>entertaining</I> dan optimistik.
Dunia kemasyarakatan, kemanusiaan, sosial, spriritual, relijius, pendidikan, penyuluhan, perawatan didominasi eNFj, eNFp, iNFj, iNFp, esfj, isfj. Sifat khas: spiritual, relijius, moralistik dan…mistis.