Merekrut via Social Media, Tak Perlu Jadi Mata-mata

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, seorang teman memperkenalkan saya kepada pria yang tampan dan cerdas, dan tidak lama, saya akhirnya pergi kencan dengan pria itu.

Ketika itu kami sedang menikmati segelas anggur sebelum makan malam, dan tiba-tiba ia mengangkat sebuah topik mengenai Google, dan berkata demikian, “Luar biasa ya, teknologi membuat kita bisa mengetahui apa saja mengenai seseorang, misalnya apakah mereka pernah memenangkan lomba lari 5 Kilometer dengan catatan waktu kurang dari 30 menit.”

Saat itu adalah tahun 2004, dan pria yang saya kencani tersebut berbicara mengenai lomba lari amal Susan G. Komen yang saya menangkan di tahun 1995. Di mata saya, ia langsung berubah dari pria yang keren menjadi mata-mata yang menakutkan, dan saya ingin segera angkat kaki dari situ.

Saat ini, ada lebih dari 238 juta anggota LinkedIn yang terdaftar dari 200 negara serta wilayah. Facebook melaporkan bahwa pengguna aktifnya berjumlah 700 juta dalam perempat tahun kedua di 2013 ini. Di bulan Maret, ketika Twitter berusia tujuh tahun, para penggunanya mengirimkan lebih dari 400 juta tweet per hari! Jejaring sosial sudah memperluas penggunanya dari sekelompok kecil pengguna awal (early adopters) menjadi sebuah masyarakat online, dan dengan cepat menjadi mainstream.

Sehubungan dengan rekrutmen, tentu saja perekrut ingin memanfaatkan sumber-sumber yang kaya akan informasi ini. Walau demikian, informasi mengenai kandidat yang didapat lewat jejaring sosial harus ditangani dengan hati-hati agar perekrut tidak dicap sebagai mata-mata.

Menurut artikel di Wired.com, biasanya perekrut menghabiskan empat hingga lima jam per hari di LinkedIn, dan menurut survei Bullhorn, 98.2 persen dari perekrut memanfaatkan jejaring sosial untuk perekrutan tenaga kerja di tahun 2012. Walau demikian, tidak semua kandidat ada di LinkedIn, dan demikian juga sebaliknya, tidak semua kandidat berpendapat bahwa partisipasi mereka di jejaring sosial memiliki keterkaitan dengan pekerjaan.

Ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar, sama halnya dengan kasus ‘pria baik-baik’ yang mendadak berubah menjadi mata-mata menakutkan setelah satu tegukan anggur. Ini adalah lima tips yang bisa membantu Anda mengenal kandidat lebih jauh tanpa dianggap ‘menguntit’ mereka terlalu dekat.

1. Kenali obyektif Anda secara jelas. Mengapa Anda menggunakan jejaring sosial untuk menggali informasi mengenai seorang kandidat? Apa perantara yang cocok untuk mencapai obyektif itu? Apakah Anda ingin memahami latar belakang kandidat, cara ia menulis, atau budaya yang ia miliki? Jawaban atas semua pertanyaan itu akan berujung pada jalur jejaring sosial yang berbeda. Obyektif yang jelas juga akan membantu Anda menjawab apabila kandidat bertanya “Apa tujuan Anda melihat-lihat profil [situs jejaring sosial] saya?”.

2. Pahami betul konteksnya. Apa jejaring sosial yang cocok untuk rekrutmen yang Anda lakukan? Cocokkan dengan peran yang akan diisi oleh kandidat tersebut. Jika Anda mencari kandidat untuk posisi tinggi di bidang marketing, mungkin Anda bisa mencari tahu kanal sosial apa saja yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Di sisi lain, halaman Facebook dari seorang insinyur teknik kimia isinya mungkin tidak akan relevan dengan apa yang Anda cari.

3. Pertimbangkan aktivitas jejaring sosial kandidat. Hanya karena Anda sudah menemukan profil LinkedIn dari seorang kandidat, bukan berarti bahwa ia adalah seorang pengguna aktif ataupun mengerti pengaturan privacy yang ada. Seorang yang ahli dalam subyek tertentu di Twitter mungkin berharap bahwa Anda sudah melihat kontribusi mereka di jejaring sosial. Kandidat dengan 12 koneksi LinkedIn dari perusahaan yang sama harus ditangani dengan cara berbeda dari seorang LinkedIn Open Networker (LION). Seorang LION sangat terbuka dalam membuat koneksi di LinkedIn dan mungkin memiliki beberapa ratus atau ribu orang di dalam jaringan kontak mereka. LION juga biasanya berharap Anda sudah melihat profil mereka. Lain halnya dengan kandidat yang memiliki aktivitas sedikit di jejaring sosial, Anda harus menanganinya secara lebih berhati-hati.

4. Ikuti perbincangan di dunia jejaring sosial. Kita semua tahu bahwa berbicara secara langsung dengan seseorang, atau menatap matanya dan berdiri berhadapan, jauh lebih berharga daripada informasi yang didapatkan dari jejaring sosial manapun. Ketika Anda berbicara langsung dengan kandidat, terutama ketika Anda mencoba untuk berbicara dengan kandidat yang kurang aktif, perhalus pembicaraan untuk meraba sebanyak apa informasi yang mereka mau berikan kepada Anda. Walaupun Anda tergoda untuk mengeluarkan pertanyaan pamungkas, seperti “Mengapa Anda berpindah kota tempat tinggal di tahun 2002 walau kondisi pasar sedang tidak mendukung?” , cukup berikan waktu sedikit, dan biarkan pembicaraan berkembang dengan sendirinya. Dengan cara ini Anda bisa mendapatkan kepercayaan dari mereka dan tidak serta merta membuka sesi tanya jawab dengan pertanyaan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

5. Mengaculah pada ‘Golden Rule’. Ketika dalam keraguan, lakukan apa yang Anda pikir orang lain akan lakukan kepada Anda. Golden Rule ini selalu bisa membuat Anda berada di posisi yang baik. Lihat dari sudut pandang mereka. Jika masih ragu, tanyakan kepada teman-teman atau rekan kerja seberapa jauh Anda boleh mengorek informasi. Lebih baik bekerja berhati-hati daripada kandidat yang Anda sudah pelajari susah-susah melarikan diri karena ketakutan.

 

*) Laura adalah Direktur Insight dan Strategi Konsumen Oracle yang berbasis di London, Inggris Raya

Tags: , ,