Meningkatkan Daya Saing Organisasi dengan KM

Stephen Covey mendeskripsikan knowledge economy sebagai suatu sistem ekonomi yang ditandai oleh beberapa faktor. Pertama, globalisasi pasar dan teknologi. Saat ini hampir tidak ada pasar yang tidak dapat ditembus oleh produk negara mana pun. Dengan bantuan teknologi, siapa pun dapat mendekatkan lokasi produksi ke pasar-pasar regional.
Kedua, demokrasi dari informasi dan ekspektasi. Saat ini pengetahuan tentang apa pun tersedia melimpah di internet dan aksesibilitas masyarakat ke internet dari hari ke hari semakin terbuka. Ketiga, konektivitas universal. Hubungan antarmanusia tidak lagi dapat dibatasi oleh jarak dan bahasa, sehingga saat ini networking dan sinergi semakin mempermudah penyediaan jasa dan produk.
Keempat, peningkatan intensitas kompetisi yang bersifat eksponensial. Hal ini ditandai dengan adanya kompetisi yang bersifat global dengan terbukanya perdagangan bebas. Kelima, pergeseran kekayaan (modal) dari uang ke manusia. Dan keenam, knowledge worker market. Para profesional yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan organisasi kini semakin bebas menentukan pilihan tempat kerjanya.
Percaya atau tidak, intensitas kompetisi di masa datang akan semakin meningkat. Dalam buku Knowledge Management: Konsep, Arsitektur dan Implementasi (2007), Paul L Tobing mengungkapkan, ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh perusahaan yang ingin memenangkan kompetisi di masa depan, yaitu: kolaborasi, inovasi, adaptasi, penguasaan teknologi dan pasar, serta pengelolaan aset-aset intelektual perusahaan. Tantangan-tantangan inilah yang mendorong munculnya kebutuhan terhadap penerapan knowledge management (KM).
Tobing menjelaskan, kolaborasi merupakan kata kunci bagi perusahaan yang ingin tetap meminpin dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Perusahaan yang ingin menang dalam kompetisi, tidak hanya mengandalkan kemampuan individu atau pengetahuan yang dimiliki unit kerja tertentu. Menurutnya, hasil terbaik hanya dapat diperoleh melalui kolaborasi antarindividu, antarunit, antarfungsi, dan antardisiplin pengetahuan. Di samping itu, juga diperlukan kerja sama yang kreatif antarperspektif dan skill yang berbeda.
Kolaborasi yang efektif akan meningkatkan daya saing organisasi yang difasilitasi dan dihasilkan oleh penerapan KM. Selain kolaborasi, eksistensi KM di organisasi didorong oleh kebutuhan untuk selalu inovatif, serta adanya tantangan untuk mempercepat penyediaan produk dan layanan. ”Tanpa produk dan layanan yang inovatif, perusahaan akan tertinggal dari kompetitornya,” Tobing menandaskan. Ia menilai, implementasi KM dapat merangsang inovasi dengan menyediakan kanal yang luas untuk munculnya ide-ide kreatif dan hadirnya pengetahuan baru dari karyawan.
Tantangan lain yang menurut Tobing dihadapi organisasi saat ini adalah menjadikan perusahaan adaptif terhadap berbagai dinamika di pasar dan pelanggan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu melakukan perubahan strategi yang biasanya diikuti dengan perubahan struktur organisasi. Masalah akan muncul ketika perubahan organisasi terhambat oleh kelangkaan personel yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mengisi posisi-posisi strategis. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar pengetahuan tersedia dalam bentuk tacit knowledge yang tersimpan pada personel tertentu yang memiliki mobilitas tinggi.
Masalah tersebut dapat diatasi dengan membangun komunitas yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan dari orang-orang yang memiliki minat dan kepentingan yang sama demi mengembangkan pengetahuan karyawan dalam praktik tertentu. Komunitas seperti ini disebut Community of Practice (CoP). Proses transfer pengetahuan sebaiknya dilakukan secara sukarela, bukan dengan paksaan, sehingga hasilnya pun optimal. Bagaimanapun, implementasi KM bertujuan untuk menjaga dan mengalirkan pengetahuan di organisasi agar tetap terpelihara dan senantiasa tersedia bagi karyawan yang membutuhkan. â–