Menginderakan Karier

KARIR bagi sebagian orang adalah sebuah perjalanan menapaki tangga kesuksesan dalam hidup. Lebih spesifik lagi, simbol-simbol posisi atau jabatan tertentu menjadi tolak ukur prestasi tertinggi dalam kehidupan karir seseorang.  Tidak heran kita mengupayakan diri sejak bangku sekolah dan kuliah untuk membekali diri untuk meraih karir yang baik.

Apalagi dengan era hiperkompetitif, semakin memacu para social climber untuk lebih memilih tangga-tangga instan dalam kehidupan. Kuliah S1, S2 bahkan S3 kemudian bekerja di perusahaan-perusahaan terbaik, meniti karir dengan mengisi pengetahuan yang termutakhir dan pada akhirnya mencapai jenjang tertinggi di organisasi.  Tidak salah memang, tetapi tidak juga memperkaya pandangan akan karir yang sesungguhnya.

Bukannya itu realita dan keinginan yang sangat wajar?  Betul, tetapi tidak juga serta-merta bisa menjawab apakah pencapaian karir tersebut diiringi dengan pencapaian kebahagian dalam hidup yang memberi kemanfaatan secara luas.

Ibarat sebuah pohon: aspek prestatif dilambangkan dengan rimbunnya daun dan ranumnya buah, tetapi ironisnya terkadang hanya ditopang oleh batang rapuh karena tidak menumbuhkan cabang-cabang, dan akar yang lemah karena kurang pendalaman.  Seperti pohon kurma, agar menghasilkan buah yang banyak dan manis harus ditanam di pasir yang sangat dalam terlebih dahulu kemudian ditimpa dengan bebatuan supaya akar-akarnya menjalar. Sesungguhnya karir juga mengalami proses yang serupa, dimulai dari pemahaman dan kedalaman yang memadai, selanjutnya akan menumbuhkan batang yang siap untuk menumbuhkan cabang dan ranting-ranting. Ranting-rantingnyalah yang kemudian menumbuhkan daun dan menghasilkan buah.

Karir bukanlah milik individu, pencapaian karir yang terbesar adalah bukan dari destinasi tetapi dari proses yang memampukan setiap individu dalam organisasi. Spirit yang sama terungkap dalam artikel Wharton on Managing Your Career, what it takes to keep people plugged into their jobs while feeling personally fulfilled.

Ya, ini adalah saat kita mengkalibrasikan tujuan-tujuan karir kita. Menilik kehidupan yang lebih holistik memaksa kita untuk menyeimbangkan antara hard dan soft goal, menata kembali ruang karir dan sosial. Kuncinya hanya satu: keseimbangan untuk bisa memastikan kebertumbuhan. Banyak kisah sukses sesorang berhasil meniti karirnya, tetapi kita tidak serta merta bisa mengcopy-paste-kan dengan mudah.  Seperti halnya tulisan Glenn Llopis di Majalah Forbes beberapa waktu yang lalu: You have a choice to play in that field at a time when the ground rules for success are being rewritten.

Mengelola karir menjadi penting untuk menjadikan perjalanan karir menjadi lebih bermakna, tidak hanya sekedar mengikuti ayunan pendulum. Jeffrey H Greenhaus dalam Buku Career Management juga mengingatkan bahwa mengelola karir adalah sebuah proses dimana kita dapat mengembangkan, mengimplementasikan serta memonitor tujuan dan strategi karir.

Pertanyaannya adalah sudah punyakah tujuan yang bermakna itu?  Apakah kita sudah memiliki strategi yang terukur untuk mencapai tujuan? Apakah kita juga merelakan hati bersabar untuk berproses dan melihat dahan dan ranting yang tumbuh? Dengan menginderakan karir, kita dapat melihat tujuan karir yang lebih luas, mendengarkan dinamika lingkungan, menumbuhkan individu dan mengolah rasa apakah karir yang kita rintis sudah memberikan makna bagi kehidupan. Niscaya, pada akhirnya proses penginderaan ini dapat memfasilitasi pertumbuhan karir yang tidak hanya memperbesar ruang masa depan tetapi juga kebersemaian hidup. (*)

 

(Fredericus Radix W, Head of Knowledge Management, PT. Astra International Tbk)

Tags: , , ,