Mengelola SDM Ternyata Tidak Mudah

Saya baca berulang-ulang email tersebut. Intinya, ia merasa, bahwa di awal pendirian usaha, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun citra usaha serta bagaimana menembus pasar. Memang sumber daya manusia (SDM), serta modal usaha merupakan dua tantangan lain saat itu. Namun ia berhasil mengatasinya dengan baik saat itu. Ia misalnya, bisa merekrut orang-orang yang dikenal dan dipercayai. Modal pun bisa didapat dari berbagai cara. Nah, yang jelas terasa amat sulit di saat awal adalah bagaimana meyakinkan pasar agar mempercayainya.

Kini, setelah ia berhasil menaklukkan pasar, maka dua tantangan lainlah yang mulai dirasakan lebih berat. Ya, dengan semakin banyaknya proyek yang berdatangan, ia membutuhkan modal yang lebih banyak. Memang, dengan aset lancar dan laba ditahan perusahaan, ia cukup punya modal. Namun karena nilai proyeknya memang besar, ia membutuhkan dana investasi tambahan.

Kecuali itu, perusahaan juga membutuhkan lebih banyak SDM untuk mengelola perusahaan yang sedang berkembang tersebut. Ia sudah harus melakukan rekrutmen secara profesional, karena tak cukup hanya mengandalkan rekrutmen dari orang-orang yang dikenal. Sama dengan sebagian besar perusahaan menengah kecil dengan karyawan kurang dari 20 orang lainnya, perusahaan ini tak memiliki orang SDM karena merasa belum layak secara bisnis memilikinya. Maka pontang-pantinglah ia melakukan rekrutmen, tanpa dibekali oleh ilmu SDM. Selain harus melewati proses rekrutmen dan seleksi yang melelahkan, tak jarang perusahaan salah memilih karyawan. Kandidat yang kelihatannya pintar, antusias, profesional ketika diwawancara, bahkan berhasil lolos psikotes, ternyata memble setelah bekerja setahun. "Bagaimana mungkin, karyawan itu bisa berubah seperti itu? Apa penyebabnya? Lantas, bagaimana upaya perusahaan agar bisa mengangkat kembali motivasinya?" tulis sahabat saya itu.

Apa yang saya baca tersebut, saya yakin, juga banyak dihadapi perusahaan menengah kecil lain. Sebagai pengusaha, bagaimana pun juga mereka harus memikirkan peraturan perusahaan, jenjang karir karyawan, deksripsi kerjaan, kompensasi dan benefit, serta seabreg hal lain mengenai manajemen SDM. Perusahaan besar pun juga menghadapi masalah yang sama, namun karena kebanyakan perusahaan besar saya asumsikan sudah memiliki Manajer SDM, serta sistem yang lebih mantap untuk mengelola SDM, masalah-masalah seperti itu relatif lebih terkelola. Sebaliknya, karena berdasarkan pengamatan saya banyak perusahaan baru atau perusahaan menengah kecil yang tidak memiliki manajer SDM dan sistem yang mapan, maka seperti ditulis rekan saya itu pun terjadilah: "Mengelola sumber daya manusia ternyata tidak mudah".

Perusahaan kecil bisa naik pangkat menjadi perusahaan menengah, perusahaan menengah bisa berkembang menjadi perusahaan besar, dan perusahaan besar bisa semakin berkibar, jika bisa mengelola SDM dengan baik. "SDM adalah aset perusahaan" adalah jargon yang sering digembar-gemborkan, dan makin hari makin terasa hambar. Namun, di tingkat praktis, ini bukan lagi jargon. Ini masalah serius yang dihadapi banyak perusahaan. Banyak perusahaan akhirnya gagal memanfaatkan momentum untuk naik pangkat karena masalah yang satu ini. Sayang, sumber ilmu mengenai manajemen SDM yang asli Indonedia di Indonesia masih terasa kurang.

Wahana untuk saling berbagi masalah SDM dan media untuk bertanya masalah SDM juga masih sedikit. Dari semangat inilah lahir PortalHR.com ini tepat pada tanggal 17 Agustus 2006. Ya, kelahiran media online pertama di bidang SDM di Indonesia ini memang bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan negeri kita tercinta yang ke 61. Kami semua, manajemen dan karyawan PortalHR.com memperingati hari bersejarah ini dengan memperkaya upaya pihak-pihak lain yang selama ini juga memiliki perhatian lebih kepada dunia SDM di Indonesia. Kami semua berharap, portal ini berkembang dan menjadi acuan bagi para pakar SDM, praktisi SDM, pengusaha kecil-menengah dan besar, perguruan tinggi, serta para karyawan/pekerja/buruh agar bisa meningkatkan performa dan kualitas SDM di Indonesia.