Transformasi Kultur Perseroan yang Menghasilkan Business Impact

Transformasi kultur perseroan haruslah berbasis strategi. Berbagai alat dan bahan bisa digunakan untuk perseroan melakukan transformasi kultur. Di antaranya perihal  modifikasi perilaku kolektif,- behavioral approach- , kemampuan response- ability, perombakan mind set, perception, motive dan lain lain. Namun semua itu tidak boleh berdiri sendiri. Tetapi dalam rangka membuat implementasi strategi berfungsi tajam.

Kultur organisasi haruslah didesain dan dibentuk agar ia sejalan dengan senjata andalan tempur perseroan dalam memenangkan pasar. Tidak akan banyak gunanya mendesain sebuah corporate culture kalau tidak ada alignment terhadap strategi bisnis perseroan.

Misalnya perseroan yang mengandalkan basis strategi harga sebagai senjata perang mereka di dunia bisnis, maka spirit kultur korporat yang harus dibangun adalah efisiensi,operational excellence dan kesadaran kolektif terhadap biaya dan penghematan atau penekanan cost. Setiap langkah dan proses yang paling efisien dan murah harus selalu dipikirkan. Ia menjadi pola baku organisasi. Biaya overhead ditekan serendah mungkin. Kultur untuk menghasilkan atau menyempurnakan suatu proses yang efisien menjadi titik sentral diskusi: Bagaimana kita bisa membuatnya menjadi lebih murah? Mulai dari pengadaan, proses produksi hingga delivery, dan tentu saja overhead dan struktur yang ramping.

Setiap kontribusi yang bisa menekan dan mengurangi biaya akan membuat strategi tempur perseroan makin kinclong. Dan siapapun insan perseroan yang berkontribusi pada efisiensi akan paham bahwa merekalah yang membuat senjata tempur menjadi tajam. Pemahaman seperti itu akan mendatangkan kepuasan kerja. Yes, seorang individu hanya akan puas kalau ia tahu ia punya peran dan kontribusi dalam suatu keberhasilan operasi.

Strategi perseroan yang berbeda menuntut penyesuaian Kultur

Misalnya kalau perseroan mengandalkan kehebatan fitur dan inovasi  produk sebagai basis untuk memenangkan pasar, maka kultur yang mendorong semangat jelajah, experiment,  dan pintu kreasi harus di buka lebar- lebar. Spirit untuk melakukan  sesuatu secara berbeda, risk taking dan kreatif harus menjadi ciri khusus dalam organisasi seperti itu.

Begitu pula jika perseron Anda mengandalkan “superior customer service” sebagai distinctive strategy, maka spirit of excellence menjadi keharusan. Semua parameter pelayanan  harus disajikan secara sempurna dan berkelas. Spirit “lumayan, asal-asalan, secukupnya” dan kompromi terhadap mutu tidak bisa boleh hidup di organisasi yang mengandalkan premium service sebagai strategi bisnisnya.

Jika kultur perseroan saat ini tidak sesuai dengan strategi tempur yang dipilih perseroan, maka perseroan mau tidak mau harus melakukan transformasi kultur; maklum saja zaman berubah, preferensi konsumen juga berkembang amat cepat; Strategi bisnis berubah, maka corporate culture juga harus di sesuaikan. Tidak ada gunanya terhadap ketajaman bisnis  perseroan, jika sebuah  organisasi mendesign kultur semata mata berdasarkan trend, idealsime atau pun sesuatu yang terlihat indah dipandang. Itu sebabnya seorang eksekutif yang bertanggung jawab dalam corporate culture harus paham sisi bisnis perseroan.

Ia harus bisa menggabungkan sisi bisnis dan sisi “people”; Lalu mendesign suatu kultur kolektif yang bisa mendukung keberhasilan eksekusi strategi tersebut. Tanpa kemampuan memahami sisi  teknik bisnis, seorang praktisi HRD sering membuat kultur korporat yang tidak punya business impact. Culture yang tidak punya implikasi kinerja bisnis, Ia hanya kata- kata indah dan kering disegel dalam bingkai.

Kalau Anda merasa Kultur dan Values yang dicanangkan perseroan tidak banyak artinya terhadap laju penjualan dan pertumbuhan market share, amat mungkin kini saatnya melakukan transformasi kultur.

 

Penulis adalah Managing Director Defora Consult, penulis best selling “Adaptif Besar Gesit”, Strategi Transformasi Perseroan.