Menciptakan Leader

Pebisnis skala UKM sering kali lekat dengan gaya manajemen one man show. Dia yang membangun, dia yang menjalankan, dia pula yang menuai hasilnya. Dari mulai meletakkan visi, mencari pelanggan, membeli dari pemasok, memproduksi dan mengemas barang, mengurusi keuangan, mengirim barang kepada para pelanggan, bahkan mungkin hingga menunggu toko atau outlet.

Di masa awal memulai bisnis, ketika modal dan omzet mungkin belum mencukupi untuk membayar tenaga profesional, manajemen ala one man show memang menjadi satu-satunya pilihan untuk survive. Namun ketika bisnis semakin berkembang, tenaga-tenaga baru pun direkrut,  pasar semakin meluas bahkan mungkin cabang mulai berdiri di beberapa tempat, banyak pebisnis UKM yang masih tetap mempertahankan gaya one man show ini.

Bentuknya bisa bermacam-macam. Ada pemilik waralaba makanan yang outletnya sudah puluhan, namun masih meracik sendiri bahan dasar secara tertutup di dalam kamar dengan alasan khawatir formula rahasianya bocor pada karyawan dan pihak luar. Ada pemilik jasa pembiayaan yang skala omzetnya sudah milyaran per bulan, tetapi masih turun langsung untuk negosiasi harga dengan para pelanggannya satu per satu dari hari ke hari. Ada pemilik toko ritel yang sudah memiliki beberapa cabang tetapi masih terus turun sendiri untuk pembelian barang dan pengecekan stok toko-tokonya.

Hasilnya mudah ditebak. Para pebisnis ini mulai kehabisan waktu dalam mengelola usahanya, termasuk kehabisan waktu untuk menikmati kehangatan bersama keluarganya. Pada saat yang sama, umumnya para karyawan mereka cenderung bersikap pasif, menunggu keputusan dan perintah sang pemilik, tanpa berani mengambil resiko untuk mengambil keputusan segera. Tidak hanya sang pebisnis yang rugi karena kehabisan waktu untuk menikmati kesuksesan usahanya, tetapi proses bisnis cenderung menjadi semakin lambat sejalan dengan semakin besarnya organisasi usaha, dan ekspansi  usaha pun turut terhambat karena semua keputusan masih harus terpusat pada sang pemilik usaha.

Di sini pentingnya menciptakan leader-leader baru dalam lapisan-lapisan manajemen di bawah kita sebagai pebisnis UKM. Bagaimanapun waktu yang kita miliki sebagai manusia tetap hanya 24 jam, tenaga dan kapasitas kita juga bukan tanpa batas, sementara peluang di depan begitu luas. Leader-leader ini tidak hanya meringankan banyak beban tugas yang sifatnya operasional harian dan taktis, namun juga membantu percepatan ekspansi usaha. Dengan demikian kita sebagai pemilik usaha dapat lebih berkonsentrasi pada pengambilan keputusan yang bersifat strategis, seperti tren produk baru, pengembangan ke lokasi-lokasi baru, kebijakan pembiayaan untuk ekspansi, dan sejenisnya. Lagipula, bukankah dengan membuka usaha kita ingin menjadi manusia merdeka dan bukan justru menjadi tawanan atau budak dari usaha kita sendiri ?

Tantangan yang muncul kemudian adalah bagaimana cara menciptakan leader-leader yang benar-benar memahami visi dan misi kita dalam usaha, serta memiliki kompetensi yang mampu mencapai standar yang kita inginkan. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, pembagian fungsi. Sebagai pebisnis kita harus menguasai aspek A sampai Z dari usaha, mulai dari pemasaran, keuangan, pembelian, pembiayaan, operasional, dan sebagainya. Namun tidak mudah untuk menemukan tenaga yang mampu mengelola seluruh aspek usaha yang ada. Akan jauh lebih logis dan mudah untuk membagi fungsi-fungsi kritikal dalam usaha kita, dan menciptakan leader-leader yang kita percaya di masing-masing fungsi itu.

Kedua, kesamaan nilai dan integritas. Kedua hal ini membantu memastikan bahwa perusahaan akan berjalan dengan arah dan bentuk sebagaimana yang kita inginkan. Gaya kepemimpinan dan karakter boleh berbeda, namun tata nilai yang melandasi pengambilan keputusan dan standar integritas yang membentuk budaya perusahaan sepatutnya selaras dengan tata nilai dan standar integritas kita sebagai pemilik usaha.

Ketiga, mentoring. Peralihan estafet kepemimpinan di masing-masing fungsi sebaiknya bertahap, dimulai dari fungsi yang paling rutin dan mudah untuk didelegasikan, dengan disertai proses mentoring bagi para leader tersebut. Mentoring mencakup proses training, coaching, dan controlling untuk memastikan bahwa para leader betul-betul memahami visi dan grand strategy usaha, mampu menterjemahkannya ke lapangan dalam bentuk keputusan dan aksi, serta mampu mengerahkan seluruh potensi dan kapasitas yang dimilikinya untuk menjalankan fungsi yang dipimpinnya dengan baik – bahkan mungkin jauh lebih baik dari kita pada posisi yang sama.

Para leader adalah miniatur parsial kita di setiap bidang yang berbeda dari kesatuan organisasi usaha yang sama. Maka, pada gilirannya, kesediaan kita untuk melepaskan sebagian wewenang dan keinginan untuk mencampuri setiap urusan secara rinci adalah kunci dari keberhasilan penciptaan jajaran leader. Sebab, seberapa jauh kita bisa berharap untuk sukses dalam jangka panjang, jika seluruh proses bisnis masih terpusat pada diri kita? Wallahu’alam.

Lyra Puspa, Founder PILLAR Business Accelerator, Pendamping UMKM Indonesia