Masih Perlukah Ikut Training?

Suatu hari seorang kawan mengajukan pertanyaan bernada menggugat, “Menurut kamu, kegiatan seperti ini (training) ada gunanya tidak sih?” Gugatan itu menyeruak dalam percakapan santai tentang training. Saya terhenyak juga, meskipun pertanyaan itu cukup klasik dan klise, ternyata jawabannya tidaklah sederhana. Jawaban “Ya pastilah, tergantung pesertanya juga, bisa memanfaatkan momen itu tidak,”, rasanya akan mendapat serangan balik, “Kalau tergantung sih tergantung….”
Jika kita memasukkan kata training di mesin Google, pasti bertumpuk data akan langsung tersaji, baik presentasi, iklan hingga e-book yang mengupas dari A hingga Z. Begitu pun dalam percakapan santai di kantin kantor, isu training hampir seperti suplemen penting untuk ditelan. Bagi perusahaan yang telah memiliki budaya training secara teratur, ini menjadi makanan pokok. Tapi, tidak semua beruntung, sebagian orang harus bersabar dan mencari kesempatan untuk bisa mendapatkan tugas mengikuti training apalagi yang berskala nasional atau internasional. Maklum, rupiah yang tertera untuk investasi tidak memiliki angka nol pendek alias mahal.
Lantas, mengapa masih ada pertanyaan semacam itu? Tidak mungkin iseng, karena nadanya hingga lima oktaf seriusnya.
<B>Kesangsian (Calon) Peserta</B>
Asumsi pertama yang umumnya muncul di benak karyawan ketika mendengar kata training adalah tema yang berulang, sama, mirip, hanya berbeda judul dan bumbu di sana-sini sebagai hasil kreativitas tim marketing. Sebut saja training kewirausahaan, tema yang beredar tidak jauh dari ’bagaimana menjadi pebisnis handal’, ’bagaimana memulai bisnis dari tangan kosong’ hingga ’<I>skill</I> manajemen bagi pebisnis pemula’. Training motivasi bermain di ranah ‘berpikir positif’, ‘bagaimana menemukan kedamaian dalam diri’, hingga ’berani menghadapi perubahan’. Masih banyak tema lain yang tidak asing seperti kepemimpinan, kepribadian hingga training bertemakan <I>skill</I> teknik seperti desainer ramah lingkungan, mahir menggunakan alat tes psikologi hingga menjadi skill untuk menjadi akuntan handal.
Asumsi kedua, biaya yang mencapai berjuta-juta bahkan untuk <I>one day workshop/training</I>. Faktor ini yang membuat calon peserta mengernyitkan kening dan tidak jarang kecewa. Calon peserta di sini termasuk juga perusahaan terutama tingkat menengah sehingga masih harus memilah prioritas bagi pengembangan sumber dayanya. Kalaupun mengirimkan wakil, tingginya biaya investasi membuat perusahaan harus lebih menyeleksi siapa yang layak dalam jumlah terbatas sehingga yang lain harus bersabar menunggu (giliran) kesempatan.
Asumsi ketiga, tingginya biaya dan jangka waktu dalam hitungan hari, bahkan jam, membuat sebagian orang menjadi begitu sensitif menagih manfaat praktis yang didapatkan setelah mengikuti training. Apabila yang diharapkan adalah dari tidak tahu menjadi ahli dengan mengikuti training, atau keahlian untuk bisa mengendalikan pikiran ke arah positif, secara logika pun jawabannya ’tidak’ sepanjang masih dalam kurva normal.
<B>Mengapa Masih Tetap Ikut Training?</B>
Pertanyaan selanjutnya, mengapa banyaknya training dengan tema yang tidak terlalu berbeda tetap saja mendapatkan peserta? Sebenarnya hal ini secara tidak langsung menunjukkan adanya kebutuhan training dalam masyarakat. Sementara untuk mengetahui alasan di balik kedatangan para peserta dalam kegiatan ini, mari kita lihat dari jenis pesertanya terlebih dahulu.
Kita mudah menemui peserta yang hadir secara ’gratis’ karena memang sebagai duta perusahaan, dan jenis lain yang menjadi duta diri sendiri. Kondisi ini secara implisit telah menunjukkan adanya perbedaan cukup tajam yang mewarnai motivasi dan tujuan mereka. Kemungkinan besar Anda juga pernah menjadi keduanya.
Peserta atas nama perusahaan.
a. Karyawan dinilai potensial secara skill dan motivasi, di sisi lain, peserta pun memiliki motivasi sejalan dengan perusahaan.
b. Karyawan dinilai potensial, namun ia sendiri menganggap training sebagai selingan dari rutinitas kantor yang membosankan
c. Perusahaan hanya memenuhi kewajiban ’fasilitas’ pengembangan karyawan dan gengsi asosiasi bisnis (profesi), namun karyawan memiliki potensi skill dan motivasi internal.
d. Perusahaan hanya memenuhi kewajiban seperti di atas dan karyawan pun menyambut sebagai tugas tidak jauh berbeda dengan rutinitas di dalam kantor
Peserta mandiri
a.Peserta ingin mengembangkan dan mengasah skill yang telah ada
b.Peserta membutuhkan legalisasi atau sertifikasi satu skill, misalnya penguasaan suatu jenis alat tes dalam psikologi termasuk ijin penggunaanya
c. Peserta ingin mengetahui perkembangan atas suatu disiplin (profesi) terkini dan prediksi terdekat atas peluangnya dalam dunia praktis di masyarakat.
d. Peserta ingin mengembangkan jejaring kerja (network), terutama dalam pelatihan wirausaha atau dunia usaha dan mereka yang sedang merintis usaha mandiri.
<B>Trend dan Network</B>
Setelah mempertimbangkan dua faktor umum suatu training, yakni tema yang berulang atau mirip dan waktu pembelajaran yang singkat, apa sebenarnya manfaat yang paling realistis dan berlaku bagi kedua jenis peserta di atas?
Perkembangan <I>skill</I>, keilmuan, pengetahuan tidak mampu dibendung dengan sekat-sekat gedung perkantoran. Dinamikanya menjadi semakin tidak sederhana manakala bertemu dengan kebutuhan untuk eksis dalam masyarakat, mengingat kompetisi dan ragam sosial yang melingkupi.  Maka, membaca dan membuat peta kekinian menjadi faktor yang patut diperhitungkan dalam memilih dan mengikuti sebuah training.
Jika kita bukan pebisnis atau belum terpikir untuk membuka bisnis mandiri, bukan berarti tidak perlu mengembangkan network. Secara praktis dan langsung terlihat adalah kemungkinan terbukanya peluang bagi kita yang menemui masalah dalam meniti karir di tempat bekerja sekarang sehingga berpindah perusahaan menjadi salah satu solusi. Akan tetapi terdapat alasan lain yang tidak kalah luas terkait dengan pengembangan skill dan perkembangan dunia profesional yang kita geluti. Semakin luas network, semakin luas pula kemungkinan akan akses informasi terutama di tingkat praktis masyarakat. Bukan tidak mungkin interaksi positif ini memberikan inspirasi untuk membuat atau mengembangkan bisnis mandiri.
<B>Inspirasi dan Semangat</B>
Faktor lain yang berperan penting sebagai manfaat dalam training adalah sebagai sumber inspirasi dan semangat.
Mengingat sebagian besar training menyajikan "<I>the same song, the same lyrics</I>", maka salah satu fungsi yang ditawarkan adalah kemampuannya memberikan inspirasi. Tidak ada jaminan secara eksplisit oleh panitia penyelenggara atau tokoh yang menjadi nara sumber, tapi tidak sedikit yang gemar mendatangi pelatihan karena pengalaman positif mendapatkan inspirasi sehingga membuat mereka kembali menghadiri bahkan training yang sama.
Training sebagai sumber semangat, di sini peserta merasa mendapatkan suntikan semangat baru yang tergerus oleh kepelikan hidup, bisa juga menguatkan semangat yang telah ada di hati peserta. Peran sebagai peserta yang bisa dibahasakan sebagai ’pihak pembelajar’ bersama sejumlah peserta lain dalam waktu dan tempat yang sama, memberikan keuntungan semangat tersendiri. Posisi "senasib" ini tidak jarang mampu memetikkan perasaan <I>I’m not alone who learns this new thing</I>, atau <I>I’m not the only one who doesn’t understand the skill yet</I>.
Inspirasi dan semangat adalah dua hal yang bisa hadir dalam hitungan detik. Kita bisa menemukan dalam kalimat yang terselip di antara halaman novel hingga musik atau percakapan dengan seorang kawan. Dua vitamin yang mampu mengubah kelembaman yang kadang menghinggapi kita menjadi lompatan kangguru yang tinggi dan jauh.
Training merupakan salah satu bentuk apresiasi dan media ’pembelajaran’ dalam memahami dinamika kehidupan manusia. Karena itu pula, training terus mengalir dengan tema-tema yang mungkin akan membosankan telinga kita hingga bibir kita menggumam, "…<I>again?</I>" Toh, kita memiliki hak untuk memilih menu dari banyaknya hidangan ini. Bagaimana jika sebagai duta perusahaan? Tentu, kita masih bisa memilih untuk mengaktifkan segala ’kesadaran’ untuk menikmati ’penugasan’ dalam kedamaian, atau bersungut dan membiarkan waktu berdetak sia-sia.
<I>Penulis adalah alumnus Magister Psikologi UI, penulis artikel psikologi-sosial dan praktisi HR</I>