Mari Beri Ruang Spiritualitas Dalam Organisasi

We know how to invest in technology and machinery, but we’re at a loss when it comes to investing in people.

–Peter Senge

 

Saya pernah melakukan interview terhadap seorang anak muda yang sangat berdedikasi dan sangat talented, sebut saja namanya Ira, yang terpaksa mengundurkan diri dari suatu perusahaan BUMN yang sangat terkemuka karena ternyata dalam pekerjaannya sehari-hari ia merasa sangat kesulitan untuk beribadah dan bahkan untuk sekedar makan siang. Hal ini karena ia terpaksa harus terus menerus bekerja melayani pelanggan dan juga harus menjalankan pekerjaan-pekerjaan operasional yang bersifat administrasi yang selalu harus ia bereskan di hari yang sama. Saya tanyakan mengapa perusahaannya tidak menambah jumlah karyawan sehingga dapat mengurangi beban kerja harian yang luar biasa tersebut? Dalam penjelasan Ira, ia sudah memintakan kepada manajernya dan bahkan manajernya sudah meminta ke kantor pusat, akan tetapi meskipun secara jatah standard manpower yang seharusnya kantor cabangnya masih di bawah batas yang diharuskan, response dari kantor pusat sangat lambat sekali untuk menambah tenaga kerja, sehingga dapat ditebak untuk orang seperti Ira, ia memilih meninggalkan perusahaannya dan semua fasilitas dan nama institusi yang “wah” yang bagi banyak orang membanggakan.

Untuk sebagian orang seperti Ira, uang dan keterpandangan jabatan bukanlah segalanya. Dan kesadaran keseimbangan akan kehidupan kerja dan spiritualitas akan dirasakan oleh semua orang di organisasi, pada satu titik, manusia akan selalu berkembang mencari keseimbangan irama hidupnya dan mulai menyadari bahwa yang ia cari bukanlah sekedar materi semata tetapi lebih dari itu kita mulai mempertanyakan esensi dari kehidupan itu sendiri dengan pertanyaan yang mendasar, untuk apa kita hidup? Dan apa yang akan kita bawa dan tinggalkan setelah kita mati? Dan itu bukan hanya berlaku untuk manusia, tetapi juga bagi organisasi dan perusahaan, karena esensi dari keberadaan sebuah perusahaan adalah tentunya membawa manfaat bagi semua orang di organisasi.

Penggunaan istilah “spiritualitas” telah berubah sepanjang zaman. Dalam zaman modern spiritualitas berkembang pesat lebih dari sekedar keterkaitannya dengan religi, tetapi berkonotasi campuran psikologi humanistik dengan tradisi, esoteris dan agama yang bertujuan untuk kesejahteraan pribadi-kesejahteraan dan pengembangan pribadi.

Spiritualitas di tempat kerja adalah suatu kesadaran yang dimulai pada awal tahun 1920 an, dimana karyawan mencari nilai-nilai spiritualitas di dalam organisasi. Salah satu artikel yang mempertanyakan mengenai spiritualitas di dalam organisasi di tempat kerja adalah yang dimuat di Business Week bulan Juni 2005: “Companies hit the road less traveled: Can spirituality enlighten the bottom line?” dan sebelumnya, William Miller menulis suatu artikel berjudul “How Do We Put Our Spiritual Values to Work,” yang dipublikasikan di “New Traditions in Business: Spirit and Leadership in the 21st Century,” pada tahun 1992. Dalam perkembangannya spiritualitas dikaitkan bukan hanya terhadap masalah ke-Tuhanan tetapi juga lebih luas lagi dalam kepuasan kerja, keseimbangan hidup dan Budaya Kerja di Organisasi.

Semua yang diciptakan Tuhan pada dasarnya adalah berdasarkan kepada suatu hukum keseimbangan. Tubuh kita pun akan menunjukkan penolakan jika kita melampaui batas-batas keseimbangan begitu juga alam semesta dan tentunya itu berlaku juga bagi organisasi. Spiritualitas dapat diimplementasikan dalam berbagai bentuk dan berbagai hal dimana salah satu tujuannya adalah memenuhi keseimbangan bagi seorang karyawan dan bagi organisasi. Maka apabila kita menginginkan terjadinya engagement karyawan terhadap organisasi, sudah semestinya organisasi memberikan ruang-ruang sipiritualitas dan work life balance di dalam organisasi.

Maka mari kita luangkan waktu untuk melihat apa yang terjadi pada banyak perusahaan di Indonesia, betapa masih banyak yang kita lihat karyawan terpaksa mencuri waktu dan kadang merasa tergesa bahkan kadang hingga bertengkar dengan organisasi hanya untuk sekedar memperjuangkan tempat sholat dan mendapatkan waktu yang cukup untuk sholat. Bahkan baru-baru ini saya membacanya di social media mengenai apa yang dialami oleh Lamoy Farante (Lami) seorang karyawati yang bekerja di kawasan Berikat Nusantara Cakung, dengan perasaan sangat sedih, tentang bagaimana ia harus mengalami pemecatan karena ia sholat di tempat yang tidak seharusnya.

Betapa banyak perkantoran yang tidak menyediakan tempat ibadah yang memadai, terkadang di area parkir yang panas dan tidak terawat. Betapa banyak Mall yang juga hadir tanpa adanya fasilitas Musholla yang memadai. Sementara kadang kita melihat ruang arsip dan tentunya ruang-ruang meeting yang keadaannya jauh lebih bagus dibandingkan dengan ruang untuk beribadah? Apakah kita berpikir bahwa urusan bisnis kita jauh lebih mulia dan berharga daripada urusan kita dengan Tuhan? Bukankah energy yang didapatkan oleh setiap karyawan setelah ia berinteraksi dengan Tuhan pada akhirnya akan memberikan energy yang sangat positif untuk perusahaannya?

Maka sudah seharusnya keseimbangan hidup karyawan dan pencarian makna spiritualitas harus lebih diperhatikan dan diberikan tempat yang utama oleh suatu perusahaan, karena saya sama sekali tidak melihat adanya hal yang negatif dari memberikan ruang-ruang spiritualitas di dalam organisasi. Semoga semua perusahaan di Indonesia memiliki kesadaran itu dan saya sangat menunggu adanya suatu Undang-Undang Ketenagakerjaan yang dengan tegas mengharuskan organisasi untuk harus menyediakan ruang ibadah yang sangat layak dan memberikan waktu ibadah yang cukup bagi semua karyawannya.

Maka sebagai penutup, saya atas nama PortalHR mengucapkan Selamat menjalani ibadah di akhir-akhir Ramadhan yang suci ini, sekaligus mengucapkan Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1434 H bagi Umat Islam yang merayakannya. Semoga kita kembali ke fitrah sebagai manusia yang suci dan seimbang dalam menjalani kehidupan di organisasi. @krisbi27

 

Tags: