Lagi-Lagi SDM

PM susbandono 1

BEBERAPA TEMAN mengkritik saya melalui media elektronik. Sebagian bahkan dengan nada menyindir. “Kok artikelmu tak pernah lagi menyasar isu Sumber Daya Manusia?Apakah sudah beralih profesi menjadi politikus, pengamat sosial-ekonomi, kritikus film atau bahkan artis?”

Saya terhenyak dan nyaris tak bereaksi. Kritik itu pas sekali. Selama ini saya nggrambyang, melebar ke mana-mana. Menimbulkan tanda tanya, apakah SDM sudah tak penting lagi? Apakah isu SDM tak hangat lagi? Apakah SDM Indonesia sudah “baik-baik aja”?

Tanpa terasa, tak sengaja, “Renungan akhir Minggu”, yang selama ini, terbit setiap Kamis malam atau Jumat pagi, sudah lama (sekali) tak mengurai masalah SDM. Tepatnya, tidak lagi bicara mengenai hal yang menyoal “Pengembangan SDM” atau “People Development”. Bukankah itu ranah inti pergumulan hidup saya dan kritis untuk diangkat ke permukaan?

Baiklah, izinkan saya “menebus dosa” dengan, kali ini, mengajak Anda berbincang ringan tentang masalah SDM. Di samping untuk memupus kritik di atas, juga menegaskan bahwa topik SDM tak pernah kurang urgensinya bagi negara kita tercinta.

Kebetulan, saya baru saja membaca sebuah blog, “Blog Strategi + Managemen”. Terbitan terbaru memuat artikel berjudul : “Kenapa 92% Karyawan Indonesia Tidak Termotivasi dengan Pekerjaannya?”

Kaget saya membaca judul yang bombastis dan dramatis. Statistik yang mengejutkan dan membuat nyali mereka, yang mengaku profesional di ranah SDM, merosot ke titik nadir. Benarkah hampir semua (92%) karyawan Indonesia unmotivated? Gallup Worldwide, lembaga riset internasional, yang melansir hasil penelitian lembaga riset internasional itu, mengaku menelisik 73 ribu responden dari 141 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Masih menurut Gallup, karyawan yang ditandai tidak mempunyai motivasi itu, hanya melakukan ritual harian di tempat kerja, dengan aktivitas “begitu-begitu” saja. Berangkat kerja, menyelesaikan tugas seadanya, segera pulang, dan terima gaji setiap akhir bulan.

Mungkin yang dimaksud adalah mereka bekerja tanpa passion, tak memahami tujuan pekerjaan itu sendiri, apalagi bersentuhan dengan objektif dari organisasi. “Gambar besar” dari seluruh rangkaian pekerjaan tak berkaitan dan tak bermakna bagi spirit hidupnya. Goal perusahaan tak align dengan individu dan karyawan bekerja secara mekanistis semata-mata.

Artikel kedua, yang juga saya kutip dari blog di atas, tak kalah menyedihkan bagi dunia industri kita. Judulnya : “Kenapa Produktivitas Karyawan Indonesia hanya Sepersepuluh Karyawan Singapore”.

Bahwa manusia Indonesia pada umumnya kalah produktif dibanding Singaporean, tentunya sudah menjadi rahasia umum. Tetapi, kalau perbandingannya begitu njomplang, 1 melawan 10, pantas membuat shock dan ternganga-nganga. Apa benar output yang dikeluarkan manusia Indonesia hanya sepersepuluh dibanding orang Singapore? Apa boleh buat, hitung-hitungan matematika mengatakan demikian.

Yang membuat kita tambah nelangsa, negara tetangga kita lainnya, Malaysia, mempunyai angka 4 kali lebih tinggi dibanding Indonesia. Satu orang Indonesia mengeluarkan produk hanya seperempat kali dibanding seorang Malay.

Rumus produktivitas yang dipakai, dibuat berdasarkan total output ekonomi negara yang bersangkutan, (yang lazim direpresentasikan dengan Produk Domestik Bruto/PDB) dibagi dengan jumlah total tenaga kerja yang ada di negara tersebut.

Meski akurasi dari dua indikator tadi masih bisa dipertanyakan, tapi cukup membuat kita kecil hati. Dua angka yang seolah-olah berdiri sendiri, ternyata berkaitan erat, satu sama lain. Manusia kerja yang tidak mempunyai motivasi, tidak engaged, tidak happy, tidak antusias, atau tidak mempunyai passion, hampir pasti hanya menjadi mediocre, mengeluarkan produktivitas yang pas-pasan. Masalahnya kelihatan seperti lingkaran setan, chick or egg atau bagaikan makan buah simalakama.

Menjadi gamblang bahwa kunci dari semua masalah tadi terletak pada kualitas manusia Indonesia. Kegigihan belum menjadi sikap dalam berkarya, sementara perseverance bukan salah satu values yang terinternalisasi dengan sungguh-sungguh.

Meski studi Gallup dan hitung-hitungan produktivitas untuk mengukur prestasi nasional, namun formulanya bisa diterapkan dalam skala perusahaan atau organisasi. Pendekatan yang sama bisa digunakan, dengan asumsi yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi lokal. Yang penting adalah, premis yang dipakai sama. Karyawan dengan motivasi tinggi, mempunyai produktivitas yang tinggi pula. Begitu juga sebaliknya.

Menjadi tantangan bagi seluruh pelaku bisnis di Indonesia, agar membuat karyawan bermotivasi lebih tinggi dengan passion yang lebih dalam. Motivasi dipacu bila mereka tahu apa yang dikerjakannya dan paham implikasinya bagi obyektif perusahaan yang lebih besar. Karyawan dan organisasi adalah dua “makhluk” yang saling tergantung dan membutuhkan, symbiosis mutualistic.

Kalau karyawan bekerja lebih produktif, maka perusahaan akan lebih maju. Kalau perusahaan tumbuh berkembang, kesempatan karyawan untuk meningkat juga lebih terbuka. Singkatnya, karyawan berjalan seiring dengan organisasi. Karyawan yang produktif, membuat perusahaan bertambah maju, lantas memantul ke karyawan menjadi lebih maju lagi. Begitu mekanismenya, bergulir otomatis, seperti spiral yang melingkar keluar, semakin lama semakin lebar.

Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah, dari titik mana pertama kali harus melangkah. Lingkup kecil, seperti organisasi atau besar seperti negara, mempunyai model yang sama, meski dengan skala yang berbeda.

Banyak pertanyaan dengan jawaban yang sama, yaitu “pendidikan bangsa”, atau “pengembangan SDM”. “People development” adalah utama dan pertama. Dalam konteks itu, yang dimaksud adalah pendidikan manusia yang paripurna, pengembangan manusia seutuhnya. Pertama, mendidik karakternya, kemudian raganya. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”.

Dengan ungkapan yang senada, Collin Powel, pensiunan jenderal perang, mantan Menteri Sekretaris Negara Amerika Serikat, mengatakan:

“Organization does not really accomplish anything.
Plans do not accomplish anything, either.
Theories of Management do not matter much.
Endeavors succeed or fail because of the people involved.
Only by developing people to be the best will you accomplish great deeds.”

*) P.M. Susbandono, Senior Advisor Human Resources Star Energy

Tags: ,