Lagi-lagi Komunikasi

Kalau saja “komunikasi” itu binatang, ia pasti seekor kambing. Kalau saja kambing, ia pasti berwarna hitam. Tidak meleset, kalau membuat metafora dengan mengandaikan “komunikasi” sebagai “kambing hitam”.

Itu yang terjadi di dunia saat ini. Bila masalah atau konflik muncul, selalu menuduh “komunikasi” sebagai penyebabnya. “Komunikasi” selalu diletakkan sebagai syarat pertama dan utama, agar urusan berjalan smooth dan sukses. Problem muncul bila “si kambing hitam” tak berperan sebagaimana mestinya. Penelitian menyebutkan, 80% masalah di dunia industri, disebabkan karena komunikasi yang tidak semestinya. Yang benar bisa berantakan bila disampaikan dengan cara yang keliru. Warna hitam bisa memudar, bila dibicarakan dengan bijak dan baik-baik.

Kejahatan pertama dalam sejarah umat manusia, disebabkan karena komunikasi yang tak tulus dan tak becus. Korban bakaran milik Kain, anak Adam dan Hawa, tak diterima karena hatinya tak ikhlas. Asap berwarna hitam dan melingkar-lingkar berputar di sekitar meja altar. Yahwe tak berkenan menerimanya.

Habil, sebaliknya. Asap putih melenggang naik, masuk surga. Kambing muda yang putih dan tambun menunjukkan keihklasan hati Habil. Komunikasi Habil dengan Tuhan sukses, sementara kakaknya, gagal. Akhirnya Kain marah, iri dengan adiknya. Kegagalan komunikasi dengan Tuhan melebar ke Habil. Terjadi gagal komunikasi 2 kali. Kejahatan lahir akibat komunikasi yang amburadul. Habil dipukul tengkuknya, dan tewas, 1-0 untuk kekerasan. Kegagalan komunikasi menjadi dalang pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia.

Komunikasi yang semula alamiah dan naluriah, sekarang dibuat canggih. Ilmunya galik-galik, bikin orang pusing tujuh keliling. Mungkin karena tuntutannya berbeda. Universitas membuat Komunikasi menjadi ilmu elit yang keren. Agar kelihatan kompleks, mata kuliah dibuat macam-macam. Ada komunikasi-politik, komunikasi-massa, komunikasi-interpersonal, dan komunikasi-organisasi. Mahasiswa yang gagal, drop out atau bermasalah, disebut “gagal komunikasi”.

Karena gampang-gampang susah, orang harus hati-hati menyikapinya. Orang disebut sukses, karena piawai melakukan komunikasi. Bung Karno mempersatukan 100 juta rakyat Indonesia dari berbagai suku, bahasa, tradisi dan agama, karena jago pidato. Meski tak paham isinya, banyak yang terpukau gaya pidato si Bung. Yang penting, orang menangkap spiritnya. Indonesia bersatu, membuahkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, sentosa, selama-lamanya. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertarahaja, maka, rakyat nurut. Mereka bagaikan tersihir oleh kata-kata Bung Karno. Itu karena Bung Karno orator, jagoan komunikasi.

Pilihannya sederhana, jelas, masuk akal, dan mudah dicerna. Jangan heran kalau ratusan ribu orang menyemut di lapangan IKADA, saat Bung Karno pidato. Kuncinya hanya satu, komunikator harus tahu apa isi yang disampaikan. Penampilan bisa diperankan sesuai gaya masing-masing. Bahasa harus menarik, timing tepat, intonasi pas, seakan tahu kapan hadirin ngantuk, bosan atau lagi bersemangat.

Sahabat saya, executive perusahaan MIGAS nasional, mengatakan : “Tidak ada istilah terlalu banyak, untuk komunikasi”. Tidak berlebihan, tetapi pesan yang ingin disampaikan adalah menjalin komunikasi antar stakeholder sangat penting. Semua masalah bisa diselesaikan, asal mau saling membagi dan mengungkapkan. Catat, betapa digdayanya komunikasi.

Komunikasi itu bakat. Bung Karno mempunyainya dengan sangat kental. Tanpa perlu banyak belajar atau latihan, mampu bicara berjam-jam, dan tetap menarik. Tapi, tak semua orang seperti Bung Karno. Bakat orang berbeda-beda. “Humans differ widely from one another”. Maka, tak usah kecil hati kalau merasa tak mempunyainya.

Silakan bercermin, apakah punya talenta ini. Kalau tidak, kegigihan dan pantang menyerah adalah kuncinya. Latihan dan jam terbang berperan penting. Kalau dua-duanya tak ada, jangan marah kalau disebut “orang tak mampu berkomunikasi”.

Komunikasi tak lepas dari budaya. Ngobrol dengan orang Jerman, berbeda cara dengan orang Jepang. Berbeda lagi bila lawan bicaranya orang Jawa atau Batak. Orang harus tahu gerak-gerik mereka, sebelum diskusi dimulai. Tak ketinggalan tujuan utama, mengapa komunikasi harus dilakukan.

Cerita tentang kelucuan Srimulat jangan ditengah-tengah melayat kerabat meninggal. Atau, jangan cerita yang menguras air mata, bila sedang di tengah kegembiraan pesta ulang tahun seorang teman. Semua ada waktunya, ada tempatnya, ada spiritnya. Satu lagi, karakter konstituen. Sikap orang yang diajak komunikasi, juga sangat penting untuk dipelajari, agar persepsi yang lahir tidak salah arah.

Di samping Komunikasi-politik, Komunikasi-organisasi, terutama komunikasi dengan pekerja, saat ini menjadi isu yang hangat. Di sana ada status, yang tanpa disadari, bisa menjadi hambatan bagi efektivitas komunikasi. Atasan dengan bawahan, atasan dengan sesama atasan, sesama anggota tim atau pimpinan dengan seluruh masyarakat organisasi, adalah leveling yang mudah menjadi jebakan komunikasi.

Komunikasi-pekerja menjadi kritis karena zaman berubah dengan pesat. Informasi yang menjalar dengan sangat cepat melahirkan budaya organisasi yang gampang berubah, volatile, bahkan liar. Salah sedikit dalam penerapan, bisa membuat trust tergerus, bahkan merusak budaya yang dengan susah payah dibangun dalam tempo yang tak sebentar.

Untung, biasanya mereka mempunyai values yang dicanangkan sebagai pilar penyusun budaya. Apalagi kalau salah satunya adalah “keterbukaan”. Itu harapan stakeholder yang ingin dianggap insider, atau bahkan berperan sebagai ambassadors of commitment.

Transparansi menciptakan trust. Trust melahirkan sinergi. Sinergi membuat kinerja. Slogan mudah diucapkan atau ditulis, namun sangat-sangat sulit diterapkan. Apalagi kalau di sana ada dominasi kepentingan, yang sering tersembunyi dan tak disadari.

Memang tidak semua informasi di sebuah organisasi boleh dibagi. Tetapi sebagian besar darinya bisa membuat morale para anggota organisasi terdongkrak. Sekali lagi, kuncinya adalah “cara menyampaikan”.

Mengumumkan berita gembira, seperti kenaikan gaji atau pembagian bonus, di depan rapat umum adalah keceriaan, dus gampang dilakukan. Tetapi menyampaikan bad news, dengan bungkus apa saja, harus dikemas apik dan saksama. Waktunya ditimbang, suasananya dihitung. Jangan asal ucap, lebih-lebih bila belum rampung disiapkan. Bad news tidak lazim diumumkan di depan khalayak ramai, karena mudah melahirkan sikap defensif yang kontra-produktif. Berita menyenangkan mudah disampaikan, kabar sedih memerlukan perhatian ekstra agar tak mengecewakan orang banyak.

Sekali lagi, komunikasi itu gampang-gampang susah. Menjadi lebih mudah bila empati kedua belah pihak, terus menerus dibangun. Sabar harus dikedepankan, telaten harus dijunjung tinggi. Dijamin, trust gampang muncul di antara atasan dan bawahan.

Banyak hal-ihwal komunikasi di tempat kerja yang harus disimak dengan hati-hati. Komunikasi dalam rapat, komunikasi melalui tulisan, komunikasi dalam krisis, komunikasi melalui grapevine, atau komunikasi informal. Secanggih apa pun alat komunikasi yang digunakan, faktor manusia tetap paling menentukan. Di sana ada “roh” dan “niat” yang tak bisa digantikan dengan teknologi apa pun. Jangan ada agenda kecil yang disembunyikan.

Komunikasi bukan hanya apa yang didengar, dilihat, atau dirasakan. Bukan hanya sesuatu yang bisa ditangkap dengan panca indera. Bukan pula sekedar tulisan, gambar atau ucapan semata-mata. Ia lebih banyak berada di balik semua media itu. Ia obyek tak kasat mata, sering mewujud dalam bentuk abstrak, karena ia adalah seni.

“The most important thing in communication is hearing what isn’t said.” – (Peter Drucker – Management Guru).

Catatan :
Beberapa ilustrasi dan istilah saya ambil dari “Argenti, Paul A, Corporate Communication, 1998”, dengan beberapa penyesuaian cerita.

 

*) P.M. Susbandono, Senior Advisor Human Resources Star Energy

Tags: , ,