Koum

Koum

Renungan Akhir Minggu

Seorang teman tiba-tiba mengeluh berkepanjangan. Tak tahu persis apa juntrungannya. Tapi tak jauh dari masalah gadget yang dipakainya. “Ponselku ngadat. HP-ku nge-hang. Sudah 3 hari nggak bisa pakai WA.” Yang dimaksud tentunya WhatsApp. Bisa ditebak, bagaimana bete dia,  hidup tanpa ponsel. Itu fenomena jamak yang berlaku bagi banyak orang.  Tak peduli apa pekerjaan yang disandangnya. HP menjadi kebutuhan pokok setelah nasi dan lauk-pauk.

KoumSelidik punya selidik, ternyata ponsel sang teman keberatan beban. Sarana WhatsApp overload, terlalu banyak  friends dan pesan.  Dia mempunyai 10 grup WA.  Coba dihitung, kalau tiap grup rata-rata mempunyai 20 anggota, dan tiap member, rata-rata mengirim 1 pesan per hari, berapa padat lalu lintas yang sliweran lewat di  ponselnya yang sudah tak muda lagi.  Jangan lupa, lalu-lintas pesan di grup WA, bisa on 24 jam sehari.  Tak peduli paska buka atau menjelang sahur.  Bulan puasa, jam kantor boleh mundur, pulang kantor silakan maju,  tapi chatting di dunia maya tak boleh berkurang sedetik pun.

Semula, orang tak melirik aplikasi WA, saat itu Facebook sedang booming.   Saya termasuk diantaranya.  Beberapa teman mengajak bergabung masuk grup WA yang baru mereka rintis, namun saya bergeming.  Facebook nyaman dipakai dan efektif.  Mengirim pesan, gambar, data, video, audio atau link juga oke banget.  Facebook sudah kadung menyatu dengan kebiasaan sehari-hari.  Pokoknya, Facebook is the best lah.  Itu perasaan saya, saat awal digoda masuk WA.

Lama-lama, saya tak mampu bertahan untuk terus fanatik dengan Facebook.  Desakan teman dan kebutuhan ngobrol memaksa saya, sedikit demi sedikit beralih ke WA dan ke beberapa aplikasi medsos lainnya, seperti  Line, BBM, Twitter dan WeChat.  Facebook mulai saya tinggalkan dan kemudian sangat minimal pemakaiannya.  WA mendominasi waktu-waktu saya ketika menggenggam dan memencet tombol huruf dan angka di ponsel.  Hampir saja musibah yang menimpa sang teman menimpa saya.  Beban HP semakin memuncak, karena kapasitas terbatas dan model yang jadul.  Untung saya tahu diri.  Seleksi pemakaian, sebelum hang.

Meski bukan nomer satu, WA banyak dipakai orang.  Kehebatannya terlihat dan diakui di seluruh antero jagad.  Namun sangat sedikit yang tahu siapa dan bagaimana WA lahir.

Dia orang biasa-biasa saja, bahkan drop out perguruan tinggi, San Jose University.  Ini gara-gara minatnya terlalu berat untuk mengembangkan kemampuan programming, mengalahkan ritual belajar formal yang harus dilakukan di universitas.  Namanya Jan Koum, biasa dipanggil Koum.

Meski sukses di Amerika, Koum bukan native America.  Dia imigran asal Ukraina yang berpetualang ke Amerika, pada saat usianya baru menginjak 17 tahun.  Mimpi-mimpi Amerika membiusnya akan sebuah kehidupan yang glamour, senang-senang dan kaya-raya.  Tapi hidup nyata tak seindah mimpi.  Amerika tak semudah bayangan yang ada di benaknya.   Tak heran Koum pernah menjadi salah satu imigran yang dicatat sebagai penduduk miskin yang berhak mendapat subsidi makanan gratis.

Kilau berlian susah disembunyikan.  Jon Koum adalah salah satu butir berlian itu.  Meski sukses berkarier di Yahoo selama 10 tahun tanpa gelar insinyur, Koum, yang mendapat posisi engineer, akhirnya menyerah juga.  Dia tak betah lama di Yahoo, kariernya mentok.  Yahoo tidak bisa menuntun dia menuju puncak jenjang yang lebih tinggi.  “Enough is enough, good bye Yahoo.”

Bersama teman senasib, Brian Action, Koum melamar pekerjaan ke Facebook.  Saat itu, Facebook sedang tenar di seantero dunia.  Koum dan Action bukan siapa-siapa.  Usianya masih muda, sekitar 35 tahunan, belum dinilai mampu ikut terbang bersama Facebook.  Mereka berdua jobless.

Blessing in disguise,  Koum dan Action ditolak Facebook.  Duo pengangguran ini iseng-iseng merancang aplikasi yang mereka namakan Whatsapp.  Tak lebih 6 tahun, WA meledak, dan tak hanya itu,  ia menjadi sarana ngobrol yang fenomenal.   Silakan berdecak kagum, saat tahun lalu, WA diakuisisi Facebook – perusahaan yang  dulu menolak lamaran Koum dan Action – dengan harga fantastis, USD 19 Miliar, atau ekuivalen dengan sekitar IDR 223.6 Triliun, atau 11% APBN Indonesia, 2015.

Kegigihan Koum, dan juga Action, seakan mengikuti cerita serupa dari tokoh-tokoh penemu lainnya seperti Thomas Alva Edison, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Bill Gates.  Semula, mereka bukan siapa-siapa.  Tommy, panggilan Thomas Alva Edison, bahkan “diusir” dari sekolahnya karena dianggap tak mampu mengikuti pelajaran.  Maklum, Tommy jauh dari pintar dan agak tuli.  Hari ini, tak bisa dibayangkan manusia bisa hidup nyaman tanpa temuan-temuan si budeg Tommy, yang fenomenal.

Kisah tokoh-tokoh lain mirip Tommy.   Jobs bukan sarjana apa pun, namun, pada usia 21 tahun mulai  membangun Apple Computer Co. di bilik garasi samping rumah kerabatnya.   Sekian tahun kemudian, Apple mengguncang dunia.  Cerita tentang kesuksesan Jobs selalu dilatarbelakangi hidupnya, yang semula, bukan siapa-siapa.  Bahkan bunga-bunga kisah yang terdengar adalah kegagalannya disana-sini. He was nobody and became somebody.   Begitu pula Zuckerberg, yang “tak sengaja” yang drop out dari Universitas Harvard dan menemukan Facebook.  Zuckerberg mencatatkan dirinya sebagai salah satu fenomena dunia abad 21.

Kisah para inspirator dunia, meski telah dikutip di banyak artikel dan buku atau ditonton melalui banyak video, tetap saja valid dan relevan untuk diulang.   Mereka menjadi lentera  terang  di ujung terowongan panjang dan gelap,  yang sering dilalui mereka yang bukan siapa-siapa.  Hanya kegigihan yang menuntun mereka meraih lentera itu.  Perseverance  menjadi modal utama sekaligus membuktikan bahwa dunia dapat takluk di tangan mereka.   Dalam bahasa Indonesia, perseverance berarti kegigihan, ketekunan dan jangan menyerah.

Koum, Tommy, Jobs, Zuckerberg dan Bill Gates tentu tak mengenal Rian, personel band D’Masiv, yang mendayu-dayu melafalkan syair tentang bagaimana seseorang harus terus menggenggam tekad untuk:

“Jangan Menyerah”

Tak ada manusia

yang terlahir sempurna

jangan kau sesali

segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah

dapatkan cobaan yang berat

seakan hidup ini

tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada

hidup adalah anugerah

tetap jalani hidup ini

melakukan yang terbaik

Tak ada manusia

yang terlahir sempurna

jangan kau sesali

segala yang telah terjadi

Tuhan pastikan menunjukkan

kebesaran dan kuasaNya

bagi hambaNya yang sabar

dan tak kenal putus asa

Jangan menyerah…

jangan menyerah…

jangan menyeraaah ….2x

ooh…

*) P.M. Susbandono, Senior Advisor Human Resources Star Energy