Korelasi Seminar Motivasi, Engagement dan Kinerja dalam Perseroan

Mengapa banyak perseroan merasa sudah melakukan upaya engagement, tetapi performancenya tetap jeblok.

Tidak ada keraguan bahwa engagement berpengaruh besar pada performance. Ia modal dasar yang sangat baik untuk meningkatkan daya kohesif perseroan. Namun sebagian besar organisasi yang punya kohesif yang tinggi, esprit de corp yang hebat, tidak otomatis akan punya kinerja yang baik.

Salah satu alasan mengapa ada begitu banyak usaha engagement tidak memberikan hasil nyata di lapangan adalah, perseroan tidak men-desain apa relevansi antara engagement dengan strategi bisnis perseroan.

Hal itu terjadi karena organisasi tidak meng-establish suatu link antara engagement dengan business strategy yang bermuara pada corporate goal. Impact dari missing link ini adalah tidak adanya penajamam eksekusi strategi bisnis. Tidak terbangunnya kaitan antara engagement dengan values addition terhadap customers. Keduanya seperti berjalan sendiri-sendiri. Engagement hanya menjadi buzzword yang bersifat event, tetapi tidak membawa implikasi strategis pada competitiveness business.

Satu kumpulan pasukan organisasi yang punya esprit de corps, tetapi tidak sanggup melihat kaitan hal itu dengan strategi dan tujuan besar yang ingin dicapai, bisa menjadi resources yang berbahaya. Ia bisa menjadi bumerang, jika organisasi gagal memberikan kanal outlet yang relevant.

Kita sering mendengar, organisasi yang pasukannya punya esprit de corps yang tinggi, namum tidak punya medium deployment. Akibatnya mereka melakukan hal-hal yang membuat kita terperanjat. Apalagi jika tidak punya faktor enabler, maka engagement yang tinggi,  sering membuat energi yang sudah teraktivasi itu, terlampiaskan ke dalam situasi yang destruktif. Corporate citizen tersebut tidak bisa melihat apa hubungan antara engagement dengan strategi yang mereka anut untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Akibat dari hal tersebut, pemusatan dan penggalangan resources akibat engagement, kehilangan arah mau ‘ditumpahkan ke mana’. Tidak ada yang lebih membuat kebingungan dan frustrasi daripada melihat suatu kelompok orang yang energized, motivated dan engaged, tapi tidak tahu kemana semua energi dan kegairahan yang terkumpul tersebut harus bermuara secara produktif.

Bisa Anda bayangkan spirit dan antusiasme yang sudah terbangun itu kehilangan orientasi aplikasi. “Mesin yang sudah panas” itu akhirnya dingin dan melempem kembali. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan motivasi yang sudah terbangun itu dengan adanya engagement itu. Dengan demikian tidak terjadi penajamam strategi.  Kalau sebuah strategi tidak makin tajam,  ia tidak akan punya faktor pembeda- differentiating factors-Konsumen tidak bisa merasakan distinctive advantage yang dihadirkan oleh produk atau jasa perseroan. Akibatnya tidak juga terjadi peningkatan competitive edge.

Energi yang terhimpun dengan baik, seperti air terjun di Niagara, tidak berarti ia telah  menghasilkan energi listrik bagi sebuah kota. Kecuali kita telah menyediakan alat turbin  konversi untuk hal tersebut. Suatu faktor enabler. Begitu juga dengan engagement perseroan.

Tanpa satu model dan metodologi yang komprehensif, insan perseroan bisa saja mendengarkan puluhan intervensi motivational, dan menjadi bergairah karenanya. Hal- hal seperti ini tentu saja baik, untuk menaikkan morale pekerja sesaat. Namun pakem motivasi seasonal seperti itu akan melempem kembali beberapa saat kemudian, jika perseroan tidak membangun suatu konstruksi  yang kokoh dan efektif untuk mengkaitkannya dengan kinerja. Tolong jangan salah mengerti, saya senang dengan gagasan motivational yang membesarkan hati dan memberikan kita semangat agar lebih terpacu. Semua itu baik. Namun sebagai organisasi perseroan yang mengusung akuntablitas, kita juga perlu tahu apa metodologi yang bisa dipakai, setelah mendapatkan siraman penyemangat. Hal seperti ini menjadi amat penting untuk memastikan adanya akuntabilitas dan follow up.

 

 

*) Penulis adalah CEO Defora Consulting, Penulis buku bisnis:  ABG (Adaptif, Besar, Gesit), Strategi Transformasi Perseroan

 

Tags: , ,