Karyawan Bervisi Wirausaha

Tidak mudah mendapatkan karyawan bervisi wirausaha saat ini. Umumnya orang-orang smart semacam ini telah laris manis diperebutkan para pelaku usaha besar sejak mereka duduk ditingkat akhir Perguruan tinggi. Tak heran, bila para pelaku UKM dan UMKM harus mendapatkan SDM sisa yang tersisih dari bursa persaingan kerja.
Kegagalan mendapatkan SDM bermutu sejauh ini masih menjadi salah satu kendala terbesar bagi pelaku UMKM dan UKM untuk naik kelas ke level bisnis berikutnya yaitu busness manajemen atau UKM dan seterusnya ke-level bussness owner. Sebagaimana tercermin dari kisah berikut ini.
Setelah menyeleksi kelengkapan administrasi, ketersediaan lowongan posisi di perusahaannya, seorang bos UKM turun langsung untuk melakukan final interview kepada seorang pelamar yakni seorang calon manajer baru diperusahaannya.
" Berapa Gaji yang anda harapkan sehingga anda bisa fokus mengurusi usaha kami ini, termasuk memberikan waktu terbaikmu ketika dibutuhkan perusahaan?" tanya seorang pengusaha kepada calon manajer barunya – seorang anak muda, lulusan cumlade dari sebuah perguan tinggi elit dan juga pernah berpengalaman menjadi manajer diperusahaan lainnya.
Merasa bahwa Gaji yang diharapkannya telah dituliskan dalam lamaran pekerjaannya, sang pemuda itu bingung untuk menjawab. "Bukankah seharusnya sang pemilik usaha tersebut, terlebih dahulu membaca jumlah gaji dan fasilitas yang diajukannya, sebelum membaca kelengkapan administasi yang lain, dan memanggilnya untuk wawancara final"? pikir pemuda itu dengan kaca mata seorang karyawan.
" Maaf pak, kami sudah tuliskan jumlah gaji yang kami harapkan dalam lamaran kami" jawab calon manajer tersebut berkilah.
" Lho itukan gaji untuk seorang karyawan, bukan gaji untuk seorang manajer. Yang kami butuhkan adalah seorang manajer yang siap bekerja all out dan memberi nilai tambah bagi kemajuan usaha ini. Kami memerlukan ketegasan dan argumentasi saudara, kenapa anda mengajukan jumlah gaji sebesar itu dan fasilitas sebanyak itu? jelas sang owner UKM tersebut.
" Pasti pak, kami siap memajukan usaha bapak. Kami telah berpengalaman sebelumnya dibeberapa perusahaan" rayu sang Pemuda tersebut.
"Kontribusi apa yang bisa anda berikan untuk kemajuan usaha ini? Sehingga kami harus mengeluarkan gaji sebesar itu?" tegas sang pemimpin tersebut membalas.
Sang calon manajer itu diam seribu bahasa. Ia kehabisan kata-kata mendebat sang Pengusaha tersebut.
" 5 kali dari gaji yang anda ajukan pun dapat kami penuhi, asalkan anda bisa menyakinkan kami bahwa kontribusi anda lebih besar bagi kemajuan usaha ini-ketimbang kewajiban perusahaan untuk membayar anda " tegas sang Pemilik itu.
Sang pemuda itu diam seribu bahasa. Ia kecele. Baru kali ini ia mendapatkan big bos, setegas orang tua yang hanya tamat SLTA tersebut. Dia pikir dengar modal gelar Master yang menempel di namanya serta deretan panjang pengalaman kerja dari satu perusahaan-keperusahaan lainnya, ia dapat mendikte sang Pemilik usaha yang tak sempat menikmati bangku kuliah tersebut.
Singkat cerita, sang calon manajer tersebut gagal memperdaya sang Pemilik usaha menengah tersebut karena ia tidak memahami visi dan mindset seorang pengusaha sejati. Hukum besi bisnis berkata, " Uang atau kekayaan adalah alat tukar nilai tambah. Hanya bila seorang memiliki nilai tambah baik jasa atau produk serta keahlian tertentu, maka seseorang memiliki nilai tambah dimata seorang pengusaha sejati. Nilai tambah merupakan idiom sakti nan perkasa bagi setiap pengusaha. Mindset enterpreneurship ini umumnya hanya dimiliki para pelaku usaha dan karyawan bervisi wirausaha.
Sahabat Indonesia Yang SMART
Dikantor anda, di perusahaan tetangga, ada ribuan bahkan jutaan karyawan bahkan manajer yang menggangap bosnya orang bodoh, bisa didekte, bisa diakali dan dieksploitasi. Barulah ketika seorang karyawan atau manajer tersebut terpaksa merintis usaha sendiri, kemudian menyadari betapa hebatnya bos nya dahulu.
Kegagalan memahami visi dan mindset seorang pengusaha dan tiadanya spirit kerja sebagai ibadah serta ketiadaan cita-cita karyawan untuk menjadi pengusaha, merupakan penyebab rendahnya produktivitas kerja banyak karyawan.
Umumnya mindset karyawan adalah barter waktu dengan uang. Sementara mindset seorang pengusaha, adalah how to making sustainable profit dan menghindari rugi dengan cara membuat nilai tambah baru. Siapapun yang bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan, maka orang tersebut menjadi pahlawan bagi pengusaha tersebut. Pengusaha menyadari betul rumus kesuksesan bisnis, bahwa usahanya akan bisa bertahan dalam gelombang kompetisi hanya bila jika mampu bertumbuh secara finansial dan memiliki SDM tangguh yang cerdas, berdedikasi serta mencintai perusahaan tersebut.
Kerja adalah Medium Pembelajaran bisnis Terbaik
Problem diatas semestinya tidak perlu terjadi, jika sejak awal seseorang melamar kerja disebuah perusahaan telah memiliki cita-cita untuk menjadi pengusaha ( belajar bisnis diperusahaan orang lain dan dengan modal orang lain), bukan semata-mata mencari pekerjaan ( barter waktu dan tenaga demi uang).
Seorang karyawan yang memiliki visi seorang pengusaha, akan jeli mengamati detail kegiatan usaha. Ia akan rajin mendokumentasikan setiap data dan fakta sebagai modal nya kelak ketika merintis usaha. Seorang karyawan bervisi wirausaha akan menghargai lembar demi lembar kertas di kantornya, tetes demi tetes tinta, melayani konsumen dengan pelayanan terbaik serta membangun networking dengan karyawan dari divisi lainnya. Singkatnya mencintai usaha tersebut sebagaimana pemilik usaha tersebut mencintainnya.
Karyawan tersebut juga diam-diam akan menghitung, bahwa jumlah kontribusinya harus lebih besar daripada gaji dan fasilitas yang ia terima setiap bulannya. Singkat nya ia ingin menjadi Lebah yang memberikan madu bagi perusahaan tersebut bukan benalu yang membuat usaha bos nya bangkrut. Inilah hakekat dari visi kewirausahaan.
Bila seorang karyawan, kualitasnya SDM nya sudah seperti itu, mari bertaruh dengan penulis, bila karyawan itu akan mengundurkan diri dari perusahaan, maka bosnya akan menolaknya dengan seribu satu rayuan maut. Namun bila ia tetap kekeuh untuk keluar, sang bosnya akan menawarkan jabatan yang lebih tinggi, atau reward yang lebih besar. Dan bila dengan semua tawaran tersebut juga masih gagal untuk menahan sang karyawan idaman tersebut, sang Pengusaha tersebut akan rela untuk merogoh koceknya dan memodali karyawannya tersebut untuk mendirikan usaha baru ( Joint bisnis ) dengannya. Karyawan bervisi wirausaha semacam inilah yang menjadi idaman seluruh pengusaha dan sekaligus aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Semoga Bermanfaat !
• DH.Ismail, M.Si adalah Pengusaha dan Penulis buku rahasia sukses para juara dan etos bisnis tiada merugi.