HRD: Hanya Rekrut Doang atau Human Resource Department?

 

Judul di atas mungkin sedikit menggelitik bagi Anda yang menekuni dunia HRD, seolah-olah ruang lingkup HRD hanya sebatas recruitment semata, padahal semestinya lebih dari itu. Tapi mungkin pernyataan tersebut muncul karena sebagian orang tidak terlalu merasakan dampak dari kehadiran HRD di perusahaannya, yang dirasakan betul hanyalah bagian recruitment, dimana ketika ada user yang ingin mengisi posisi baru di timnya atau karena turnover yang tinggi dan ia harus mengisi kekosongan yang ada, maka user ini datang ke HRD hanya untuk membantunya dalam proses recruitment semata.

Selain kondisi tersebut, salah seorang professional kerja juga pernah bercerita bahwa betapa kagetnya ia karena HRD terus menambah karyawan hanya untuk menangani bagian recruitment saja. Apakah perusahaan ini mau berubah menjadi jasa penyuplai tenaga kerja/headhunter?, sampai harus memiliki banyak tenaga recruitment, padahal perusahaannya bukan tergolong perusahaan yang besar. Apa yang dikeluhkan professional kerja tersebut tergolong menarik untuk dibahas, karena itulah judul di atas muncul.

Dua situasi di atas mungkin terjadi bagi sebagian organisasi atau juga mungkin sama sekali tidak pernah terjadi di organisasi yang tergolong sudah mature pola berpikir mengenai dunia HR. Tapi menjadi menarik bagi Anda yang menggeluti dunia HR untuk lebih berpikir kritis bila menghadapi situasi tersebut dengan bertanya, apakah saya sudah menjalankan fungsi HR yang sebenarnya?, apakah saya bisa membawa divisi HR saya menjadi lebih baik dan tidak sekedar administratif semata?, apakah saya bisa menjadi business partner untuk divisi lain dan bukan sekedar ‘taking order’ untuk memenuhi kuota karyawan?

Business Partner atau Busy Partner

Jika Anda sibuk, sibuklah untuk sesuatu yang tepat sasaran dan memang bernilai manfaat. Jangan sampai kita sibuk untuk sesuatu yang melelahkan dan tidak memberikan solusi yang efektif. Kalimat ini merespon apa yang yang terjadi pada situasi pertama yang saya gambarkan. Menjadi sebuah kelelahan bagi orang HRD khususnya bagian recruitment manakala ia harus mengisi beberapa posisi dalam waktu tertentu. Alasannya terkadang beragam, ada yang memang karena posisi baru dan adapula yang karena mengganti karyawan yang baru saja. Bila turnovernya tinggi, maka tingkat stress rekan-rekan di recruitment cenderung meningkat karena harus berpikir bagaimana mencari penggantinya.

Ketika peran HRD hanya memenuhi permintaan departemen lain tanpa mengidentifikasi dan mendiskusikan lebih lanjut mengenai manpower planningnya, tanpa menganalisa kenapa turnover tinggi, maka di sinilah titik rawan dimana HRD mulai menjadi busy partner. Mari kita tanyakan kepada tim kita masing-masing, tahukah kita kenapa diminta me-recruit puluhan orang dalam waktu singkat?, apakah hal ini memang sudah diproyeksikan di tahun sebelumnya?, bagaimana dengan tahun depan?, lalu mengapa untuk posisi tertentu turnover nya begitu tinggi?, bagaimana HR menyikapinya?, apakah sekedar berpikir yang penting sudah terisi penuh manpowernya?

Jika HR mau dipandang sebagai mitra bisnis dalam sebuah organisasi, maka saatnya mengubah cara pandang dan cara kerja HR itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dijawab sendiri oleh HRD, melainkan HRD harus mampu duduk bersama dengan divisi lain dan mencari solusi, sehingga persepsi sekedar ‘recruit’ saja dapat lambat laun bergeser menjadi business partner dan betul betul menjadi Human Resource Department

HRD Self-Check

Saatnya untuk melakukan self-checking kepada internal tim kita masing-masing. Apakah scope of work nya jelas untuk setiap personil yang ada tim Anda?, jangan sampai ‘resource’ terbuang sia-sia dan organisasi tidak mendapatkan kontribusi yang signifikan dari ‘resource’ yang di hire. Mulai berpikir kritis dengan terus mempertanyakan apa yang HRD dapat lakukan untuk membuat perubahan di perusahaan. Yang membedakan mengapa HR di sebuah perusahaan dapat di kagumi dan tidak terlalu di anggap, adalah cara kerja HR itu sendiri. Jika HRD menempatkan dirinya sebagai admin support maka sampai kapanpun mindset tersebut akan tertanam dan tertuang dalam pola kerja yang hanya sebatas sebagai admin support.

Semoga HR mampu memberi pengaruh dan memberi nilai tambah untuk organisasi. Salam HR!

 

*) Muk Kuang adalah penulis buku Messages of Hope, Amazing Life, dan Think and Act Like A Winner. Beliau juga seorang professional trainer dan pembicara di bidang people development, soft-skills, dan motivasi. Twitter: @mukkuang

 

Tags: ,