Good Bye My Dearest Top Talent…Wish U All The Best

Seberapa sakit seorang leader kehilangan seorang talent? Mungkin sangat menyakitkan mungkin juga sama sakitnya seperti kehilangan anak jika karyawan yang pergi itu memang benar-benar talent yang sangat berharga untuk organsasinya. Betapa tidak, karena seperti layaknya seorang anak, seorang leader sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengajarinya banyak hal dan tiba-tiba sang anak harus pergi meninggalkan rumahnya karena memang dia merasa telah beranjak dewasa dan harus menentukan nasibnya sendiri entah untuk menikah atau untuk hal penting dalam mencapai cita-cita yang ingin ia raih.

Maka kehilangan talent tidak saja melanda organisasi besar, atau sekedar melanda tukang martabak langganan saya yang selalu kehilangan anak buahnya yang setelah susah payah ia didik akhirnya pergi membuka usaha martabak sendiri.

Atau pun seperti cerita pewayangan purwa yang sangat klasik ketika Pandawa Lima meninggalkan pendeta Durna yang terkenal begitu culas yang anehnya mampu menangis tersedu karena kehilangan anak-anak didiknya para Pandawa yang terpaksa meninggalkannya karena harus melanjutkan pengembaraan mereka untuk menuntut ilmu dan menjalani kehidupan yang mereka percayai.

Seperti layaknya kematian, maka perpisahan dan kehilangan seorang talent adalah sesuatu yang niscaya yang akan dialami semua leader maupun organisasi, maka sebaiknya memang organisasi harus mempersiapkan diri dan mempercayai bahwa suatu saat itu akan terjadi. Banyak sekali leader yang bercerita dan mengeluh, betapa ia sudah menghabiskan waktu, biaya dan usaha untuk me-retain atau menahan seorang top talent di organisasinya dan akhirnya berakhir dengan ditinggalkan oleh talent tersebut.

Maka ketika ia dimintai ijin untuk pamit, dia tercekat, tertampar dan terdiam tak percaya karena talent yang ia besarkan akan pergi meninggalkannya.

Menurut saya seorang top talent bukanlah seorang kekasih atau isteri, seorang kekasih sudah selayaknya selalu setia berada di samping kita dan mendampingi kita dalam keadaan suka dan duka. Seorang top talent kurang pas apabila kita samakan sebagai seorang kekasih, tapi lebih pas untuk kita anggap sebagai seorang anak. Ia berhak mendapatkan kehidupan yang menurutnya lebih layak, lebih baik dan lebih sesuai. Tugas kita sebagai seorang leader adalah memastikan bahwa Ia memilih kehidupan ke depan dan tujuan tempat berlabuh yang paling tidak “lebih baik.”

Setidaknya sebagai seorang leader ada beberapa hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi keinginan pergi dari seorang Top Talent:

– Tanyalah ke mana dia pergi, ini penting agar kita mengerti apakah dia memilih organisasi yang menurut kita lebih baik dan sesuai dengan pilihan karirnya. Mungkin seorang leader bukanlah orang yang selalu lebih pandai dan lebih sempurna, tetapi paling tidak kita cukup layak untuk ikut memberikan pandangan dan memastikan bahwa talent yang pergi memang pergi ke tempat yang sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya dengan alasan-alasan yang masuk akal. Ingatlah tidak semua head hunter adalah professional head hunter, cukup banyak head hunter yang tujuan akhirnya adalah hanya mendapatkan transaksi pemindahan talent.

– Tanyalah mengapa dia pergi, ini juga penting untuk mengerti apakah ada kekurangan di dalam organisasi, apakah dia pergi karena remunerasi, karir, lingkungan kerja dan semua faktor yang kita sebut “push factor” atau karena daya tarik head hunter maupun organisasi lain atau biasa kita sebut “pull factor.” Push factor maupun pull factor adalah masukan yang berguna untuk organisasi. Saya pernah hidup dalam berbagai organisasi, dan saya pernah menjalankan peran sebagai orang yang pergi maupun sebagai leader yang ditinggal pergi. Lebih berat rasanya sebagai orang yang ditinggal pergi, dan menghadapi dan mengalaminya sangatlah tidak menyenangkan dan terkadang menyisakan sakit dan perenungan yang dalam. Jika alasannya adalah pull factor mungkin kita dapat sedikit menghibur diri dan berpikir mungkin banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan di luar organisasi, tetapi jika banyak alasan-alasan push factor maka banyak sekali pekerjaan rumah yang harus kita benahi di organisasi.

– Apakah kita mampu dan layak menahannya? Saya menghadapi ratusan peristiwa yang saya anggap sepele yang membuat seorang top talent pergi, seperti kelelahan akan pekerjaan, intimidasi atasan, ketidaknyamanan, atau sekedar masalah rumah tangga yang terkadang memberatkan. Berhenti bekerja atau pindah kerja kadang-kadang dilakukan top talent hanya untuk keluar sementara dari kejenuhan atau kebuntuan solusi. Jika ini masalahnya, sebagai seorang leader kita dapat menimbangnya dari berbagai sisi untuk membantunya mencarikan solusi. Apabila masalah utamanya adalah penghasilan yang kurang maka kita harus menimbang secara matang apakah dia layak segera disesuaikan dan jangan lupa menimbang bagaimana dengan keseluruhan talent lain yang tidak bermasalah di organisasi dan bagaimana kemampuan perusahaan? Jangan sampai kita mengobankan keseluruhan organisasi karena seseorang yang akan pergi adalah orang yang ingin kita pertahankan.

– Selanjutnya tugas kita harus memutuskan apa hal terbaik yang harus diputuskan oleh manajemen, dan terkadang keputusan terpahit adalah terpaksa membiarkan seorang talent untuk pergi.

Pada akhirnya kalaupun setelah kita timbang menurut kita seorang top talent salah memilih dan ia tetap percaya pada pilihan hidup karir selanjutnya maka sebagai leader kita harus tetap mendukung dan mendoakannya untuk sukses, karena begitulah seharusnya sikap seorang leader sejati di suatu organisasi. Ingatlah, bahwa yang akan pergi meninggalkan kita adalah seseorang yang pernah ikut berkontribusi dan pernah ikut bekerja keras dalam membesarkan organisasi, dan seringkali banyak kejadian seorang talent dapat pergi dan datang kembali.

Saya pernah menjalani “drama” datang dan pergi dan saya juga pernah menerima seorang top talent yang pergi dan kembali lagi. Menurut saya tidak ada yang salah dan tabu atas hal tersebut. Banyak atasan saya yang terdahulu yang menyimpan dendam dan melarang menerima orang-orang yang ingin kembali. Secara pribadi saya tidak menganut aliran kebencian. Sejauh organisasi memang membutuhkan, tidak ada salahnya seorang top talent pergi dan kembali lagi membawa pemikiran dan hal-hal baru dan lebih menyegarkan organisasi. Tetapi hal yang jauh lebih penting menurut saya bagi suatu organisasi adalah mempersiapkan diri dan akhirnya menjaga keyakinan bahwa “the show must go on!!”

Tidak ada gunanya menyesali kepergian seseorang dan melihat ke belakang. Lebih berguna untuk terus menatap ke depan dan memikirkan apa yang terbaik bagi organisasi. Maka setiap kali kehilangan seorang Top Talent saya selalu teringat puisi Kahlil Gibran mengenai anak, rasanya apa yang ia gambarkan cukup pas memberikan nasihat yang baik kepada semua leader yang ditinggalkan seorang Talent.

Percayalah bahwa rasa sakit ditinggal seorang Top Talent terkadang perlu untuk melecut organisasi agar dapat bekerja lebih keras lagi untuk mencapai keberhasilan…

 

*) Penulis adalah Senior Partner pada People Consulting

Tags: