Employee Choice: Change or Die!

jumadi subur2_portalhr

SEBAGIAN orang bilang, dinosaurus punah karena ia tidak dapat mengikuti perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Benar tidaknya teori ini, yang jelas dinosaurus sekarang sudah punah dan hanya meninggalkan fosil-fosil yang juga sudah tidak utuh lagi. Perubahan merupakan proses alamiah.

Selama masih menjadi bagian dari alam, jangan berani mengatakan diri tak akan pernah berubah. Salah satu teori Darwin mengatakan bahwa makhluk yang bisa bertahan hingga saat ini adalah yang bisa mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan alam. Jika tidak, punah!

Rekan profesional, saya yakin kita semua tidak ada yang ingin punah dan hanya meninggalkan tulang-belulang seperti dinosaurus. Jika demikian, maka kita semua, manusia harus siap sedia mengikuti perubahan yang akan selalu terjadi sepanjang zaman.

Jika kisah dinosaurus diatas dianalogikan ke perusahaan dan dunia bisnis, maka hanya perusahaan yang bisa mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan di dunia bisnislah yang akan bisa bertahan. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan perlu memperhatikan manajemen perubahan. Manajemen perubahan adalah kemampuan mengelola dan menjalankan bisnis dalam situasi yang berbeda-beda

Ada sebuah kisah yang ingin saya ceritakan kepada Anda.

Dewi sudah lama bekerja di perusahaan telekomunikasi. Sudah hampir 18 tahun. Sungguh, bukan waktu yang singkat. Karyawan-karyawan baru kagum melihat Dewi betah bekerja selama itu di perusahaan yang sama. Tidak pindah-pindah. Kok bisa ya? Hebat. Banyak orang yang ingin mendengar cerita dibalik ketekunan dan kesetiaan Dewi terhadap pekerjaannya.

Tapi, sebenarnya Dewi tidak merasa bangga dengan masa kerjanya yang lama. Malah hatinya terasa kosong. Baginya, bekerja sekian lama biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Dia hanya sekedar menjalani hidup dan bekerja dari hari ke hari. Tahu- tahu tanpa terasa sudah 18 tahun dia bekerja. Memang dia sekarang punya bawahan yang membantunya bekerja. Tapi dia malah merasa lebih pusing karena harus membimbing mereka.

Mereka semua sungguh menyita waktunya. Dia harus mengajarkan semuanya. Sepertinya mereka sulit disuruh belajar. Berbeda jauh dengan Dewi dulu. Ketika dia masuk kerja, segala sesuatu dipelajarinya dengan cepat dan penuh semangat.

Lama-kelamaan Dewi merasa jenuh dengan pekerjaannya, dia seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya. Tidak ada motivasi lagi untuk bekerja seperti dulu.

Hingga suatu saat Dewi mencoba merubah dirinya. Ia mengikuti pelatihan kepribadian, pengembangan diri dan seminar-seminar motivasi.

Bulan berikutnya, suatu perubahan terjadi pada dirinya, ia mulai terbuka, menjalin hubungan baik dengan bawahannya dan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuannya.

Dewi mencoba mengunjungi toko buku lagi dan mulai melihat-lihat. Ternyata banyak buku-buku baru yang bagus. Keinginannya untuk membaca timbul kembali. Diapun mulai menyisihkan dana untuk membeli sebuah buku baru setiap bulan. Dengan demikian tiap bulan dia harus membaca habis satu buku. Semangat membacanya tumbuh kembali. Demikian pula semangat belajarnya.

Baru dua minggu ini dia bekerja dengan lebih bersemangat. Semua orang heran. Kini Dewi berubah. Dia tetap tegas, tapi kata-katanya dan sikapnya tidak galak lagi. Dia lebih rajin memantau perkembangan bawahannya dan pekerjaan mereka. Dia selalu menanyakan apa kesulitan yang dihadapi dan bersedia membantu memberi solusi. Dia memotivasi mereka untuk semakin menyukai pekerjaan.

Tanpa terasa, divisinya mengalami perubahan positif. Semua bawahannya tanpa terasa menjadi lebih giat bekerja. Semua tugas diselesaikan lebih cepat. Suasana kerja menjadi penuh semangat dan menyenangkan. Semua senang.

Saya punya kisah lagi tentang sahabat saya, yang kerja di Indosat. Panggil saja Dewa. Dia sudah bekerja di perusahaan ini sejak saya berusia 5 tahun. Berarti sudah 30 tahun dia pekerja di perusahaannya itu. Dia memulai bekerja benar-benar dari bawah. Mulai bekerja sebagai operator telepon. Saat itu bisnis Indosat ’hanya’ sebagai operator telekomunikasi internasional. Kemudian, Indosat berubah bisnisnya menjadi penyedia layanan sambungan telekomunikasi internasional secara otomatis, yang dengan demikian tenaga operator berkurang, karena semuanya dilakukan dengan mesin dan komputer.

Dewa juga pindah bagian ke beberapa unit kerja, pernah sebagai Humas, pemasaran, customer service, pindah ke beberapa cabang dan sekarang menjadi Kepala Divisi yang mengurusi distribusi kartu pra bayar, mengelola outlet dan dealership. Sesuatu yang jauh berbeda dengan pekerjaan Dewa sebelumnya.

Pada saat bertemunya dengan Dewa, dia pernah menceritakan bahwa sejak pertama bekerja di Indosat sampai sekarang, perusahaan itu telah menjalani berbagai macam perubahan, baik kepemilikan, jenis layanan, bentuk perusahaan sampai orang-orangnya. Apalagi perusahaan ini pernah merger dari tiga perusahaan yang berbeda menjadi satu. Perubahan yang dramatis, menurutnya, dan disinilah diperlukan perubahan, tepatnya penyesuaian sikap kita untuk terus bisa mengikuti perkembangan bisnis.

Menurutnya juga sudah banyak teman-teman seangkatanya yang harus pensiun dini karena merasa tidak sanggup bersaing dengan karyawan baru yang usianya jauh lebih muda, lebih enerjik, lebih pintar dan mengusai teknologi.

Rekan profesional, Dewi dan Dewa adalah contoh diantara sedikit orang yang sanggup melakukan perubahan dan menyesuaikan dengan perkembangan bisnis di perusahaan mereka. Dengan demikian mereka bisa terus berkiprah, menunjukkan kualitas pekerjaan yang tidak kalah dengan tenaga-tenaga muda yang bergabung dengan perusahaannya.

Kita juga tidak akan sanggup mengikuti perubahan kalau kita sendiri tidak mengadakan perubahan dalam diri kita. Jadi, sekaranglah saatnya berubah. Berubah atau mati. (*/images: coolthings.com)

*Jumadi Subur.
Praktisi HR. Trainer & Employee Motivator. Belum lama ini menerbitkan buku bertemakan SDM berjudul: “Employee Revolution”. Karyanya yang lain adalah buku berjudul: “99 Ideas for Happy Life”. Pandangannya tentang SDM, dunia kerja dan karir, bisa disimak melalui blog: www.jumadisubur.com, atau follow Twitter: @jumadisubur

Tags: , ,