Effective Tool Kit for Servanthood Leadership Implementation

Akar kata Servanthood Leadership adalah Leadership! Bukan Servanthood.  Pemahaman leadership membawa konsekwensi dan arti strategic:  You have something to impact.  Sedangkan servanthood, sebuah kata adjective yang memberi warna implementasi.

Akar dasar kata Servanthood Leadership adalah leadership. Jadi sama sekali bukan sebuah pakem untuk menyenangkan orang lain,  apa saja boleh, serba permisif, soft- power, kemayu gemulai, tidak boleh “marah”, anggun,  boleh “diinjek-injek”,  tidak berontak meskipun dijadikan ‘keset kaki’ dan dianggap seperti babu. No! Semua interpretasi subyektif ini menimbulkan kekacauan. Corporate citizen yang punya persepsi ini akan kecewa ketika seorang leaders-nya tidak mendeliver gambaran semu tersebut.   Sementara leaders yang punya konsepsi leadership yang keliru perihal servanthood akan merasa tidak berdaya, merasa  tidak pernah memenuhi kualifikasi (unadequate), bingung dan jantungan.

Mendudukkan konsep ini secara benar bisa membuat organisasi menjadi amat efektif.  Ada dua hal yang perlu digarisbawahi jika Anda ingin mengimplemtasikan konsepsi ini secara efektif.

Pertama, konsep strategis servanthood leadership adalah leadership. Ini berarti

(i) fungsi strategis perumusan apa yang benar-benar ingin dicapai (business values creation) atau

(ii) kemampuan memformulasikan apa yang ingin dilihat organisasi pada masa yang akan datang secara jelas dan menarik. Bukan sekedar reaktif dan ad-hoc semata.

(iii) Menciptakan aturan dengan jelas tentang Guiding Principles dan Values dan

(iv) menggerakan semua elemen organisasi untuk terlibat di dalamnya (deployment). Pun juga melumasi oli organisasi dengan spirit motivasi tentang alasan dasar mengapa hal-hal yang ingin dicapai itu begitu penting (engagement); apa dampaknya kalau hal -hal tersebut terwujud. Jadi piramida segitiga hirarki servanthood leadership tetap segitiga ke atas dalam sisi strategis perumusan organisasi.

Kedua, hanya setelah sisi leadership-nya ini clear, barulah organisasi bisa mengadakan sisi implementasi, operasional. Pada sisi ini piramida hirarki dibalik menjadi segitiga menghadap ke bawah.  Struktur pucuk leaders menjadi pendukung, pendorong bagi garis depan operasional untuk tampil ke depan berhubungan dengan insan organisasi atau pelanggan dalam mendeliver pelayanan organisasi. Fungsi strategis leadership yang tadinya berada di sisi atas kini berbalik menjadi sisi pemberdaya, pelayan yang memungkinkan konsep strategis menjadi nyata terimplementasi. Ia berdiri di barisan depan dalam mengayunkan momentum implementasi.

Kombinasi fungsi strategis dan seni implementasi ini yang membuatnya menjadi begitu menarik. Kalau boleh meminjam terminologi dunia persilatan, sama seperti seorang  kungfu master yang sudah amat mahir, ia menjadi amat lentur ketika terjun dalam sisi praktis. Dan tidaklah mungkin orang bersikap lentur fleksibel dan praktis kalau ia sendiri tidak tahu dan menguasi secara mendalam hingga level master. Mereka yang paham sepotong-potong servanthood leadership sering seperti seorang trainee pesilat yang masih  sabuk kuning, tetapi mencoba berimprovisasi lentur seperti master.

Untuk memastikan implementasi yang efektif perihal servanthood leadership, seorang leaders haruslah punya pemahaman konsep dan identitas diri haruslah utuh, tidak distortif ataupun corrupted. Tanpa kejelasan pemahaman, praktek leadership sehari-hari tentang kata ini menimbulkan amat banyak salah pengertian, salah ekspektasi dan kekecewaan, baik dari sisi hirarki atas maupun maupun level operational.  Namun dengan pemahaman yang benar, konsep ini akan melahirkan engagement dan deployment yang amat kuat.

 

*) Penulis adalah CEO Defora Consulting

Tags: , ,