Deep (Mindful) Listening

deep-listening

“Women like silent men, they think they are listening.” (Marcel Achard).

“Every good conversation starts with good listening.” (nabeeladeni.com).

deep-listening

Setting pertama

Seorang bapak mendapat telepon dari telemarketing asuransi.

Sales: “Selamat siang pak, boleh ganggu sebentar Pak?”

Bapak: “Ada apa mbak?”

Sales: “Maaf, bapak pergi dan pulang kerja naik mobil?”

Bapak: “Iya jelas.”

Sales: “Bapak nyetir sendiri?”

Bapak: “Tidak, sopir yang bawa.”

Sales: “Apakah sudah masuk asuransi mobilnya?”

Bapak: “Saya kira sudah, coba saya cek ke sopir. Saya terima beres!”

Sales: “Berapa nilai mobil bapak? Di bawah 1M atau di atas 1M?”

Bapak: “Yang jelas di atas 1M”

Sales: “Mobil merek apa yang bapak pakai?”

Bapak: “TransJakarta, mbak.”

Tiba-tiba telepon ditutup..!

Bapak: “Salahku itu apa….???”

Ini jenis komunikasi 100% satu arah, tidak elegan, tidak equal, tidak sopan dan jelas kasar.  Komunikasi yang sangat buruk!  Hanya satu pihak  yang punya mau (penjual, pembicara). Gaya komunikasi penjual (pembicara, fasilitator, trainer, presenter) biasanya kebanyakan mirip seperti itu. Pihak lainnya (listener, pendengar) hanya jadi korban, obyek, dianggap lemah, dimanipulasi atau pelengkap komunikasi.

Pembicara akhirnya 100% kecewa. Pendengar bingung lalu kecewa. Citra perusahaan menjadi kurang baik. Lama kelamaan jika dibiarkan menjadi “tidak baik” karena konsumen berubah dari tak puas menjadi tak percaya. Siapa yang rugi? Si Mbak Sales, Manager Sales dan seluruh karyawan yang tidak berdosa. Satu divisi Sales perlu di-upgrade gaya komunikasinya.

Setting kedua

Guru: “Anak-anak, jika pesawat Boeing 737 kecelakaan menabrak gunung dan penumpangnya seluruh anggota DPR, berapa yang akan selamat?”

Murid: “Seluruh rakyat Indonesia, 250 juta, Bu!”

Ini jenis komunikasi yang sarkastik halus. Pembicara tidak tersinggung, karena maksudnya joke. Si pendengar (listener), ketawa terhibur. Dua-duanya ketawa, sama-sama tahu maknanya dalam, bahwa anggota DPR merugikan rakyat, bukan sebaliknya. Cocok untuk joke komunikasi bersayap.

Setting ketiga

Kakek: “Nek, tolong buatkan teh manis, pakai jeruk nipis.”

Nenek: “Siap kek… pakai tambah susu?”

Kakek: iya boleh sedikit nek.

Tak lama kemudian, Nenek keluar dari dapur: “Ini kek…!”

Kakek: “Lho kok kopi susu..???”

Nenek : “Lho tadi kakek minta apa sih…???”

Kakek: “Wedang jahe…..!??!**”

Ini jenis komunikasi yang tak nyambung. Dua-duanya kecewa. Kakek kecewa. Nenek kecewa.

“Listening is often the only thing needed to help someone.” (unknown).

Di keseharian organisasi, banyak komunikasi menyenangkan, produktif dan equal.

Tapi juga banyak komunikasi mengecewakan. Pembicara tidak mau mendengarkan, sarkastik, tidak nyambung, menang sendiri (self centered), tidak equal, manipulatif, terlebih lagi dipelintir, dst, serta  banyak juga joke dan humor sehat untuk memberi bumbu dialog agar tidak membosankan.

Telinga tidak cukup

Mendengar dengan telinga saja, kurang. Telinga mungkin membantu sampai di level menjadi pendengar yang baik (good listener). Mendengar dengan indera lain, seperti pikiran dan hati mungkin lebih komplit, karena akan membawa ke level yang lebih tinggi (naik kelas). Mendengarkan bisa menawarkan skill baru. Namun sering, sudah mendengarkan baik-baik saja, masih saja ada yang missed (terlewatkan). Sudah dicatat dengan teliti setiap kata, masih saja belum lengkap karena ada yang belum tersampaikan. Sudah melewati deep-investigation, masih kurang, karena ada yang masih disembunyikan oleh satu pihak. Kreativitas harus datang membantu. Hal yang baru harus diekplore, bukan?

Bagaimana teknik komunikasi yang lebih  kreatif, menyenangkan dan yang paling penting memuaskan? Teknik berikut ini semoga tidak membuat komunikasi jadi tambah breakdown, tapi sebaliknya, membangkitkan, membangun, membawa gairah baru berkomunikasi dan memuaskan.

Coba dengan “deep listening.” Robert E. Huskell, 2001 dalam “Deep listening,” menggambarakan bahwa, disingkat saja, DL, ialah mendengarkan yang tidak terkatakan dan tersembunyi. Nampaknya tugas yang berat, bukan?  Mendengarkan yang tidak terkatakan dan tersembunyi? Seakan-akan sulit bukan main?  Ada manusia yang bisa mendengarkan alam semesta,  suara angin, suara air menetes di antara daun, dst. Namun percayalah, hal baru selalu menantang untuk dicoba. Saya sungguh percaya, ada di antara pembaca yang penasaran dengan new skill/talent ini, bukan?

Deep listening atau DL, adalah teknik mendengarkan apa yang tidak tersampaikan, mendengarkan yang tidak terungkap, mendengarkan apa yang ada di balik kata-kata dengan memakai segala cara dan metode, untuk mengungkap dan mengerti sesuatu lebih baik.

Deep atau mendalam

“Look deep into nature, and then you will understand everything better,” (Albert Einstein).

Key-word-nya, deep, mendalam, mindful, menyelami kata-kata atau tindakan. Berarti,  mesti banyak waktu disediakan, tidak bisa saat kejar dead-line atau kejar tayang, suasana khusus yang tenang, setting tertentu dan untuk tujuan tertentu (khusus). Deep listening dilakukan untuk menangkap arti dari deep-talking (nature kata Einstein). DL dilakukan untuk tujuan khusus. Silahkan Anda yang tentukan apa tujuan tsb bagi Anda. Feel free!

Persyaratannya, mesti ada waktu untuk berlama-lama dari komunikan, kesungguhan untuk mendengar dan mencari, dengan extra-fokus, kesabaran dan ketekunan. Si pendengar diminta banyak berdiam diri (mindful) untuk merasakan dengan pikiran dan hati.

Ini jenis komunikasi bukan sambil lewat atau asal komunikasi. Ini jenis komunikasi khusus. Komunikasi  kreatif plus daya seni tinggi untuk manusia lain.  Karena tak ditentukan harus dengan cara/metode apa? Kreatifitaslah yang akan menuntun kita dengan cara baru dan metode baru, asalkan tujuan tercapai, yaitu lebih mengerti manusia lain, bukan hanya sekedar isi pesannya.

Kriteria suksesnya, jika pengertian baru berhasil diungkapkan, pemahaman baru berhasil didapatkan, fakta yang tersembunyi bisa disibakkan. Yang terpenting, si pembicara dan pendengar sama-sama puas karena saling mengerti dan dimengerti (interpersonal relation yang berkualitas).

Lebih lanjut, mindful (deep) listening, menurut ahli komunikasi dan meditasi, John Kabat Zinn, dalam bukunya “Whereever you go, there you are,” (1994), adalah mendengarkan dengan cara khusus dan dengan tujuan khusus, dengan kesadaran penuh di saat sekarang dan tanpa menghakimi.

Mindful (deep) listening, dalam bisnis praktis menjadi, “mendengarkan  pesan dengan menghilangkan gangguan di pikiran sendiri, membuka diri sepenuhnya terhadap isi pesan dan manusia lain, dilakukan dengan sangat tenang (diam, mindful) untuk mengerti secara penuh.”

Manfaat mindful (deep) listening atau DL, menurut ahli komunikasi Rebecca Z Shafir, dalam bukunya “The Zen of Listening” (2003) di antaranya:

  • mampu mengingat informasi untuk jangka lama,
  • mampu berhenti (pause, jeda) sebelum bicara lebih lanjut untuk memungkinkan kita mengerti efek dari suara sendiri,
  • mampu mempertahankan fokus/ perhatian dalam jangka lama,
  • menaikkan self-esteem karena rasa puas yang didapatkan,
  • bisa lupa diri sendiri saking fokus pada orang lain,
  • menurunkan tensi darah dan
  • menenangkan (soothing, relaxing, bliss).

Contoh-contoh latihan DL yang bisa dicoba :

  • mendengarkan presentasi yang sangat menarik dengan mata terpejam dan fokus penuh,
  • interview VIP person tanpa sorotan kamera, banyak jeda untuk mendengarkan dan banyak pengulangan atas jawaban,
  • mendengarkan berita yang sangat penting sambil duduk diam fokus ke sumber suara tanpa gangguan,
  • duduk diam di teras (atau balkon) sambil mendengarkan suara jangkrik,
  • meditasi tenang pagi hari di halaman belakang rumah atau teras rumah,
  • aktifitas persiapan yang tenang sebelum do’a (saat teduh),
  • terbaring diam di tempat tidur sambil mengingat dialog tadi siang,
  • detik-detik diam dan berdo’a sebelum operasi di meja operasi,
  • memejamkan mata dan berdiam diri saat merenungkan sesuatu (latihan fokus),
  • terdiam sejenak di saat sunyi sepi untuk mendengarkan suara alam,
  • menghitung mundur dari 100 sambil memandangi satu titik di dinding atau pohon, dst.

Thich Nhat Hanh, seorang master/guru mindfullnes, menuturkan pengalamannya, “Deep listening is the kind of listening that can help relieve the suffering of another person. You can call it compassionate listening. You listen with only one purpose: to help him or her to empty his/her heart.” (www.wkup.org)

Thich Nhat Hanh lebih lanjut membagikan apa yang ia lakukan di Plum Village, Perancis, sbb:

“I am determined to practice deep listening. I am determined to practice loving speech” (true love) 

Empat (4) langkah praktis untuk melatih DL, skill baru Anda sbb:

  1. Diam, silent. Awali setiap proses dialog atau mendengakan, dengan diam sejenak (silent). Berapa lama? Relatif antar pribadi cukup 2-5 menit. Tenangkan pikiran, diam sejenak. Pejamkan mata dan tariklah nafas dalam sebanyak 10x. Diam adalah diam (emas). Kita tidak melakukan apa-apa dan tidak berusaha berfikir apa-apa. Diam, mindful adalah prasyarat awal untuk mendengar dengan bijaksana. Di sinilah letak seni mendengar yang tinggi. Diam, berarti mental kita siap untuk mendengar dengan seksama, sepenuh-penuhnya.
  1. Ekstra fokus. Diam tapi penuh fokus kepada si pemberi pesan (pembicara atau sumber suara). Usahakan untuk terus fokus kepada si pemberi pesan, tanpa terganggu oleh suara/kegaduhan/ aktifitas lain. Off-kan semua kegiatan yang lain. Kita hadir hanya untuk dia. Kita ada untuk mendengar langsung, mengumpulkan informasi/data dengan akurat dan benar. Lakukan konsentrasi dengan hanya memandang wajah/eye-contact cukup lama kepada si pemberi pesan. Jika menulis/mencatat, tetaplah fokus kepada isi pesan, bukan kepada tulisannya/notebook. Hindarilah untuk menerima telp/sms/WA/pesan. Jagalah fokus sepanjang diskusi/dialog/pembicaraan.
  2. Esens. Semakin kita diam dan fokus, semakin kita menemukan “esens” dari informasi yang kita terima. Cari dan temukanlah esens (makna) dari setiap kata, gesture dan isyarat si pemberi pesan. Esens adalah hasil dari pencarian makna (listen deeply). Esens adalah substansi, pin-point atau key issue dari pesan. Ringkaslah essens menjadi maksimum 3 pin-points saja, minimum, jika pendek, cukup 1 key issue saja. Temukan substansi yang bermakna dari ribuan dan jutaan kata-kata. Esens dapat ditemukan melalui: questioning dan paraphrasing. Bertanyalah selagi dia “berhenti” bicara (pause/ jeda). Bertanya untuk 2 tujuan. Pertama, sebagai klarifikasi (agar tidak salah, tersesat). Kedua, untuk mencari kedalaman (menggali lebih dalam). Deep listening atau DL, maknanya ialah masuk “ke dalam” inti pesan. Galilah dengan terus bertanya. Berikan pertanyaan yang semakin lama semakin mendalam (deep). Berapa banyak? Relatif, sesuai tujuan kita. Jika sudah cukup, berhentilah. Aturlah jeda di antara pertanyaan (bukan bombardir). Paraphrasing, adalah mengulang beberapa kata/istilah/klausal/paragraf yang kurang jelas saja. Paraphrasing tidak harus dilakukan, jika semua tanda/pesan sudah jelas, tidak perlu lagi. Paraphrasing, memang memberikan kesan positif empatik bahwa kita benar-benar sedang mengamati setiap kata/kalimat dari si pemberi pesan. Indah bukan?
  1. Pasca mendengar. Pada deep listening, tiada kata akhir pembicaraan/diskusi/dialog (tiada pemutusan dialog). Dialog adalah proses komunikasi panjang, tidak tergesa-gesa dan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Meski dialog/ komunikasi sudah usai, semua informasi akan terus digali dan dikembangkan sendiri untuk lebih memperdalam isi pesan. Daya analisa dan pencarian data sekunder lainnya, akan terus dilakukan untuk memperkuat kesimpulan dan pengambilan keputusan. Itulah mengapa disebut deep (dalam).

Karena ke manapun dan kapanpun kita berada, di situlah informasi/ data tersedia lebih luas dan lebih dalam. Sehingga itulah yang membedakan deep listening (listening deeply) dengan “regular listening” biasa. Apalagi jika tujuan kita mendengar adalah untuk menolong seseorang menyelesaikan masalahnya, mengambil keputusan penting atau menjadi pendengar yang super sabar untuk orang yang kita cintai. Luangkan waktu Anda untuk terus mendengar orang tsb, tanpa henti. Di situlah true-love Anda padanya! Biarlah waktu yang akan melupakan apa yang sudah kita dengar sebelumnya, bukan niat kita.

Berikan telingamu, pikiranmu dan hatimu sepenuhnya kepada orang yang Anda cintai dengan deep-listening. Dan rasakan kualitas kehidupan Anda berdua.

Semoga mencerahkan. (*)

[Harry Purnama, Trainer Leadership pada Mature Leadership Center (MLC)]