Dan Pemenangnya Adalah…

Potret Suram di dalam dan luar negeri

Asean Free Trade Area atau pasar bebas se-ASEAN sedang hangat dibicarakan karena ada ancaman sekaligus peluang menyertainya. 2015 adalah tahun yang disepakati oleh wakil – wakil dari negara-negara se-ASEAN entah siapa master feng-shui atau pembimbing spiritual mereka sehingga angka itu yang muncul.

Bagi perusahaan besar maupun kecil kita, kenyataan AFTA akan berlaku tahun 2015 menambah hal yang harus mereka pikirkan. Perusahaan yang memiliki produk dan layanan yang kuat alias potensial alias punya daya saing yang tinggi, berpikir keras bagaimana menangkap peluang memasuki pasar negara ASEAN yang belum mereka masuki. Namun bagi perusahaan yang tidak memiliki produk dan layanan berdaya saing tinggi mereka berpikir bagaimana mempertahankan pasar mereka yang sudah ada. Pilihan terburuknya adalah bisnis mereka tutup, bangkrut atau dibeli perusahaan lain.

Hal ini sudah mulai terjadi. Terdapat 180.000 perusahaan Indonesia yang bangkrut karena banjirnya produk impor akibat kesepakatan pasar bebas, seperti ditulis surat kabar Sinar Harapan (15 November 2011), mengutip Fadel Muhammad, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang bertandang ke koran tersebut. Ternyata area pasar bebas membuat banyak rakyat Indonesia kehilangan bisnis dan pekerjaan mereka. Sebagai gantinya, mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang dimiliki asing. Lebih jauh lagi, akibat dari pasar bebas membuat 5% perusahaan—yang sebagian besar dimiliki asing—menguasai 70% perdagangan di Indonesia.

Lain stres pebisnis lain lagi stres sebagai karyawan. Karena perusahan dituntut untuk melakukan perubahan, penyesuaian atau inovasi, tekanan bagi karyawan juga tinggi. 70% lebih dari 500 profesional yang saya survei tidak antusias menghadapi hari Senin atau hari pertama shift mereka. Perasaan malas, bingung, bosan yang disebabkan oleh target yang begitu tinggi, pekerjaan yang bermasalah dan menumpuk mendominasi pendapat responden. Karyawan yang bergaji tinggi dituntut untuk semakin memberikan lebih, kasihannya lagi, hal ini juga terjadi pada karyawan yang bergaji pas-pasan. Wajar saja banyak selentingan miring tentang terjadinya “penjajahan” gaya baru.

Namun ternyata, bukan hanya rakyat dan profesional Indonesia saja yang “terjajah”. Mari kita lihat bagaimana nasib pengusaha dan pekerja di negara maju, sebut saja beberapa negara-negara yang paling getol mengibarkan globalisasi, Amerika Serikat dan Inggris.

Surat kabar China Daily menulis tentang pernyataan firma Global Deloitte yang menyatakan bahwa 194 ritel di Inggris bangkrut di tahun 2012. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada tahun 2011, yaitu sebanyak 183 ritel, dan tahun 2010 sebanyak 165 ritel. Persaingan bisnis membuat perusahaan mengambil keputusan untuk tidak kalah bersaing yang berdampak pada pekerjanya, seperti contohnya kebijakan penghematan. Dalam buku the Big Squeeze: Tough Times for The American Worker, Steven Greenhouse, wartawan Amerika Serikat di bidang tenaga kerja dan dunia kerja untuk Surat Kabar New York Times, memaparkan dengan gamblang kasus-kasus penindasan dan ketidakadilan yang diterima oleh karyawan dan pensiunan yang bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa dan tidak asing di telinga kita.

Dia menulis:

“Pekerja-pekerja Amerika Serikat diperas, maksudnya semakin tingginya kemiskinan, ketidakadilan penghasilan, ketegangan keluarga yang meningkat, kurangnya waktu untuk keluarga karena jam kerja membengkak, besar pensiun yang sangat tidak cukup, semakin banyak keluarga yang tidak memiliki asuransi kesehatan…”

Ternyata korban-korban yang kalah dalam persaingan di era globalisasi tidak hanya dari negara-negara berkembang saja tapi juga dari negara-negara maju sehingga pertanyaan berikutnya adalah apa yang dibutuhkan untuk menang?

Untuk Menang, Anda harus Kembali ke Prinsipnya.

Jika Anda pebisnis, bagaimana Anda bersaing dengan perusahaan asing yang dengan modal besar, membeli teknologi terhebat, lokasi terstrategis dan karyawan terbaik? Jawabannya bukan besarnya ukuran atau tambah modal. Jika Anda karyawan atau spesialist yang bekerja sendiri, bagaimana Anda bisa terus di-hire dengan penghasilan tinggi oleh perusahaan, klien atau pelanggan Anda? jawabannya tidak selalu kuliah di luar negeri atau ikut-ikutan melamar di perusahaan asing.

Sebagai certified career and business coach, saya sarankan untuk kembali ke prinsipnya. Saya perlu menjelaskan bahwa prinsip yang saya maksud bukan prinsip dalam bahasa Indonesia tapi prinsip dalam bahasa Inggris, principle. lho memang beda? ternyata berbeda. Prinsip dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online berarti azas atau dasar sedangkan menurut kamus oxford online dictionary, principle berarti (1) sebuah kebenaran fundamental yang mendasari sebuah sistem, (2) hukum alam atau sunatullah.

Dalam accounting contohnya, ada istilah accounting principles, aturan-aturan yang sudah terbukti jika tidak ditaati akan berkonsekuensi pada ketidakseimbangan neraca. Begitu pula prinsip-prinsip aerodinamika yang bisa membuat pesawat yang begitu berat terbang di udara. Semua bidang atau keadaan ada prinsip yang melandasinya.

Dalam perdagangan, prinsip atau hukumnya adalah supply and demand (ketersediaan dan permintaan). Baik pebisnis maupun karyawan dan spesialist, nilai mereka tunduk pada hukum supply and demand ini. Supply berarti apa yang Anda tawarkan. Kalau Anda perusahaan penyedia produk yang Anda tawarkan seperti fitur, daya tahan atau harga yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kalau jasa bisa berbentuk kecepatan atau hasil kerja yang sesuai bahkan melebihi harapan pelanggan.

Demand tentunya adalah permintaan dari pasar, baik perorangan, masyarakat maupun organisasi. Inilah yang disebut pelanggan. Demand datang dari kebutuhan atau keinginan dari momen kehidupan pelanggan Anda. Perusahaan membutuhkan banyak bahan baku ketika di bulan ramadhan, kebutuhan yang berhubungan dengan puasa dan lebaran meningkat. Tenaga kerja diharapkan lembur ketika menghadapi stock opname atau kondisi lainnya.

Anda akan Menjadi Pemenang Jika…

Namun pertanyaannya adalah bagaimana cara saya menghasilkan produk atau layanan yang sesuai bahkan melebihi kebutuhan pelanggan. Tentu saja bagi perusahaan yang bermain di produk dan jasa yang beradu murah Anda tinggal menyesuaikan faktor biaya dan sistem produksinya sehingga berharga lebih murah. Namun tentunya Anda akan terjebak pada perang dan ini bisa membahayakan bagi perusahaan Anda karena karyawan Anda tentunya ingin kenaikan gaji dan inflasi berdampak pada meningkatnya bahan baku Anda.

Bagi karyawan dan spesialist, jika Anda berpegang pada keahlian atau ketrampilan Anda mungkin Anda akan dihargai lebih namun tidak untuk dalam waktu lama karena peta persaingan dan teknologi berkembang dan tergantikan, ketrampilan juga demikian. Seperti layaknya bahasa Inggris, bahasa Mandarin mulai dibutuhkan di pasaran Asia Timur. Ketrampilan bahasa pemrograman komputer jadul, Fortran tergantikan dengan bahasa pemograman lainnya.

Gunakan prinsip – prinsip berikut ini untuk memperkuat supply Anda:

1. Sensitif. Ingatlah bahwa supply produk atau jasa Anda sangat tergantung dari seberapa paham Anda pada kebutuhan pelanggan Anda bahkan dikala pelanggan Anda tidak mengetahui bahwa mereka membutuhkan hal itu. Sensitivitas tinggi biasanya erat dengan kepedulian untuk melayani pelanggan yang tinggi juga.

2. Kreativitas. Perubahan peta persaingan, teknologi dan kebutuhan pasar bisa terjawab dengan sistem kerja yang kreatif dan orang-orang yang tahu cara berpikir kreatif dalam menemukan ide dan solusi kreatif agar produk dan pelayanan Anda semakin unik dan berciri khas. Kreativitas itu kebiasaan, orang yang “tidak” kreatif pun bisa kreatif jika tahu kebiasaan orang-orang yang kreatif. Kebiasaan dalam suatu perusahaan dibentuk dari kebijakan dan sistem yang mendorong orang untuk berpikir dan bertindak kreatif.

3. Kecepatan. Anda sudah sensitif dalam melihat peluang pasar, dari pengetahuan akan kebutuhan pasar Anda ini Anda kreatif dalam menemukan ide dan solusi baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun itu saja belum cukup. Karena ide Anda bisa bocor ke telinga pesaing Anda dan pesaing memunculkan produk atau layanan tersebut lebih dulu ke pasar dan Anda di cap sebagai peniru yang kehilangan momentum first mover. Anda butuh kecepatan merubah ide dan solusi terbaru ini jadi produk atau jasa yang bisa dinikmati oleh pelanggan Anda. Kecepatan juga berarti seberapa cepat Anda belajar dari kesalahan, peluang atau sepak terjang pesaing Anda.

4. integritas. Jika berjanji saat iklan atau  tertulis di labelnya harus benar-benar dipenuhi. Begitu juga karyawan atau spesialist yang menjanjikan rampungnya sebuah project. Disini pembuktian dari sensitif-kreatif dan kecepatan Anda, apakah produk Anda memberikan yang benar-benar dicari oleh pasar Anda. Dari integritas inilah kepercayaan akan timbul, apalagi ketika Anda memberikan lebih dari janji Anda, atau ketidakpercayaan jika Anda over promise under deliver.

Mulai Menang dari Sekarang

Sekarang mari kita bicarakan aplikasinya. Bagaimana memenangkan bisnis Anda dari sepak terjang perusahaan asing berdana luar biasa besar? Jika bisa, manfaatkan momentum di suatu wilayah. Jika “musim” banjir produk atau jasa yang dibutuhkan bisa berbeda dengan bulan-bulan liburan sekolah. Beda kebutuhan di saat “demam” gangnam style dengan ketika masyarakat sedang “demam” goyang Caesar. Berikan produk atau layanan yang sesuai dengan trending topics di pasar Anda. Ya, social media sangat membantu Anda sensitif dalam memahami kebutuhan pasar Anda. Jadi segeralah buat komunitas pelanggan Anda atau bergabung dengan yang sudah ada, misalnya Anda memproduksi sambal, sudah ada komunitas pecinta sambal di facebook.

Kemudian, kreatiflah dalam memenuhi kebutuhan pasar. Saya terbiasa mengajarkan teknik SCAMPER (Subtitute, Combine, Adapt, Modify, Put to other uses, Eliminate dan Rearrange/reverse) dalam membantu klien saya berpikir kreatif menemukan ide dan solusi kreatif. Anda bisa browsing tentang teknik ini di internet atau membaca artikle di website saya, www.skillmoretraining.com untuk aplikasinya di Indonesia. Namun kekuatan perusahaan kecil adalah kecepatan, jadi cepat lah mengambil keputusan karena perubahan kebutuhan pasar juga sangat cepat. Anda bisa mengambil keuntungan dari kelambanan perusahaan raksasa dalam mengambil keputusan.

Bagi karyawan dan spesialist, supply Anda adalah hasil dari campuran bakat, minat, karakter, ketrampilan dan jaringan Anda. Sensitiflah pada kebutuhan klien dan pelanggan Anda. Dalam buku Menjadi Bawahan Berpengaruh, saya menuliskan bagaimana cara karyawan dan spesialist agar atasan atau klien bisa menghormati dan nurut pada pendapat Anda. Salah satunya dengan mengkaitkan pendapat Anda dengan kebutuhan pelanggan, atasan dan tim/perusahaan Anda. Bergabunglah di komunitas profesi dan komunitas sesuai pelanggan Anda agar Anda tahu trending topic dan kebutuhan mereka. Belajarlah teknik berpikir kreatif serta mulai mencari cara dan bidang baru yang membuat Anda memberi manfaat lebih. Dan jangan lupa, pegang janji-janji yang Anda lontarkan.

Dalam buku terbaru saya, The Essential Career Compass atau disingkat career compass, perusahaan diajak untuk melihat potensi perusahaan (supply) dan kebutuhan yang tepat (demand) serta cara memenuhinya. Career Compass membantu Anda mengenali peluang bisnis dan competitive advantage Anda dibanding pesaing Anda. Ketika pebisnis mengetahui arah bisnis, mereka lebih mudah mengambil keputusan stratejik.

Bagi karyawan maupun spesialis, memiliki arah membuat mereka lebih membal terhadap stres dan lebih memiliki keinginan untuk berprestasi dan bertumbuh. Jadi buatlah career compass Anda karena career berarti progress through life sehingga Andalah yang bertanggung jawab atas kemajuan hidup Anda. Jika Anda pebisnis, bantulah karyawan Anda memiliki career compass agar mereka mampu belajar sesuai kebutuhan perusahaan. Anda bisa membuat career compass di website saya diatas.

Satu hal yang jelas tentang AFTA yang akan datang sebentar lagi, yaitu mekarnya pasar dan sumber daya yang bisa Anda gunakan secara cerdas. Hal ini bisa membuat bisnis dan pekerjaan Anda semakin dicari. Anda pun dapat menang.

 

*) Penulis adalah facilitator, penulis dan certified coach dari World Coach Institute yang berfokus pada peningkatan kepemimpinan, produktivitas dan kreativitas profesional Indonesia. Pendiri Skillmore Training dan pencipta The Essential Career Compass dan I.M.A.M Development Process. twitter@rivalinoshaffar.

Tags: