Budaya Perusahaan, Punyakah Kita?

Pada suatu kesempatan makan siang, saya mendengar obrolan yang heboh dari meja sebelah tentang karyawan baru yang bikin geger dan sering menjadi bahan gosip di antara karyawan. Salah satu kalimat yang tercetus dalam obrolan seru itu, “Dia baru masuk sih, jadi belum paham budaya perusahaan kita.” Celetukan lain yang juga sempat saya curi dengar, “Dia mungkin dari perusahaan yang budayanya saling sikut karena persaingannya sangat keras.”
Budaya perusahaan telah menjadi istilah yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari antarkaryawan. Namun, seperti halnya saya sendiri, saya yakin banyak di antara karyawan itu yang tidak memahami betul definisi budaya perusahaan. Hal ini terungkap juga pada acara Corporate Culture Festival yang digelar Red Piramid di Hotel Borobudur, 18-19 April yang lalu. Audiens, termasuk saya sendiri, ketika ditanya tentang definisi budaya perusahaan, tidak dapat memberikan jawaban yang tepat.
Pada acara itu diluncurkan juga sebuah buku berjudul Corporate Culture: Challenge to Excellence yang merupakan antologi (kumpulan artikel) yang ditulis oleh para pakar budaya perusahaan yang juga (bukan) kebetulan menjadi pembicara dalam seminar dua hari tersebut. Dalam buku itu, Corporate Culture didefinisikan sebagai, "Serangkaian nilai atau keyakinan yang menghasilkan pola perilaku tertentu secara kolektif dalam korporasi.”
Berdasarkan definisi tersebut, maka apabila nilai-nilai atau visi perusahaan yang sering tertempel dan dipajang di dinding-dinding kantor belum muncul dalam bentuk perilaku kolektif, nilai-nilai itu bukan merupakan budaya perusahaan.
Berikut beberapa contoh Corporate Culture:
Kelompok Kompas Gramedia (KKG): (seperti dikutip dari buku Corporate Culture) "Secara keseluruhan, <I>culture matters</I> yang diyakini dan dihidupi oleh segenap jajaran SDM di KKG, yang berjumlah 11.300 orang adalah sikap menghargai waktu, bekerja dengan tujuan mulia, hemat, mementingkan pendidikan, sikap yang dapat dipercayai, berprestasi, menjunjung etika, adil, dan kepemimpinan horizontal."
Anugrah Argon Medica (AAM), Group Dexa Medica: (seperti dikutip dari materi presentasi Erwin Tenggono, Managing Director AAM)
"A Culture of Discipline."
– Disciplined People –> No need of hierarchy
– Disciplined Thought –> No need of bureaucracy
– Disciplined Action –> No need of excessive controls
Group Wonokoyo, perusahaan yang bergerak di bidang peternakan: (seperti dikutip dari buku Corporate Culture) nilai budaya Jujur, Disiplin, Tanggung-Jawab, Bersih-Rapi.
Corporate Culture biasanya dimulai dari tindakan-tindakan dan nilai-nilai dari sang pemimpin perusahaan, yang biasanya juga adalah pemilik dan pendiri perusahaan. Seiring dengan waktu, tanpa disadari oleh sang pemimpin tersebut, nilai-nilai dan tindakan itu membudaya dengan sendirinya (=menjadi nilai-nilai dan kebiasaan yang dianut oleh semua karyawan).
Kalau kita perhatikan perusahaan-perusahaan unggul yang terus mencatat prestasi hingga puluhan tahun, seperti Coca Cola, Toyota, mereka mempunyai budaya perusahaan yang sangat kuat. Kuatnya budaya perusahaan ini diyakini sebagai salah satu faktor penting penentu keberhasilan mereka yang berkesinambungan.
Tiba-tiba saya jadi teringat kasus yang menimpa perusahaan tempat teman saya bekerja. Karena industri di bidang itu sedang berkembang pesat, maka terjadi pembajakan besar-besaran terhadap karyawan di perusahaan tempat teman saya bekerja itu sehingga bosnya sangat kewalahan. Dengan tawaran gaji 2 hingga 3 kali lipat, dengan mudah sebuah perusahaan baru di bidang yang sama menarik orang-orang terbaik dari perusahaan tempat teman saya bekerja itu.
Terbersit dalam benak saya… mungkin, mungkin, kalau perusahaan tempat teman saya bekerja itu mempunyai budaya perusahaan yang kuat, maka tidak akan semudah itu karyawannya pindah hanya karena iming-iming materi. Saya yakin setiap karyawan pasti mempunyai nilai-nilai yang dianut dan dipercaya. Bila perusahaan yang menawari mempunyai nilai-nilai dan budaya yang tidak sama, saya tidak yakin mereka akan mau pindah meskipun ditawari benefit yang jauh lebih banyak. (Tapi, tentu saja itu dengan catatan benefit yang diperolehnya di perusahaan tempat dia bekerja sudah termasuk cukup).
Seorang direktur HR sebuah perusahaan farmasi terdepan di Indonesia pernah saya dengar mengatakan, sekarang ini untuk menarik karyawan bergabung dengan perusahaan kita, benefit saja tidak cukup. Perusahaan juga harus melakukan kegiatan branding untuk mempromosikan nilai-nilai dan budaya perusahaan. Karena karyawan akan berminat bergabung apabila nilai perusahaan sesuai dengan nilai yang dianutnya.
Kembai ke seminar Corporate Culture Festival, salah seorang pembicara yaitu Herry Tjahjono yang dikenal sebagai Corporate Culture Therapist mencontohkan kasus yang terjadi pada Gudang Garam, di mana budaya perusahaan yang berdasarkan kekeluargaan sangat kuat di antara para buruh linting rokok. Sehingga, meskipun keadaan ekonomi perusahaan sedang buruk, tidak satu pun dari buruh itu meninggalkan perusahaan.
Lalu bagaimana dengan perusahaan tempat kita bekerja? Sudahkah kita memiliki budaya perusahaan? Barangkali sudah ada benih-benih untuk tumbuhnya sebuah budaya perusahaan yang kuat di perusahaan Anda. Misalnya adanya seorang pemimpin yang kuat dan dihormati dan juga dicintai. Dia menerapkan nilai-nilai dalam setiap perilakunya yang sangat mempengaruhi semua karyawan, seperti ”selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan”, ”bekerja dengan penuh gairah”, ”menghargai gagasan setiap orang dalam tim” dan sebagainya.
Dengan berlalunya waktu dan terbukti bahwa kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai dari sang pemimpin ini sukses, maka cara-cara itu yang akan menjadi budaya yang diteruskan secara turun-temurun dan akan mengakar menjadi semakin kuat. Salah satu bagian dari tugas ke-HR-an adalah mendefinisikan nilai-nilai dan tindakan-tindakan itu dan menurunkannya hingga menjadi budaya yang dianut oleh karyawan dalam setiap level.
(<I>Meisia Chandra, Pemimpin Redaksi PortalHR.com</I>)