Bos Juga Manusia,Teknik Kompak dengan Atasan

Bos (ternyata) juga Manusia

ADALAH sebuah kisah klasik jika kita berbicara naik turunnya hubungan atasan dan bawahan. Jika bisa didramatisir, seorang bawahan, team member atau subordinate punya hubungan antara benci tapi rindu. Pada kenyataannya, jika berbicara tentang atasannya, semua peserta pelatihan yang saya temui berkisah antara kesal sampai terinspirasi. Banyak sekali yang berharap, atasannyalah yang diikut sertakan dalam pelatihan ini, bukan dirinya. Namun pernahkan kita melihat dari sudut pandang atasan?

Saya bertanya kepada beberapa top level management termasuk beberapa CEO dari perusahan minyak serta permen terkenal di Indonesia tentang bawahan terhebat yang pernah bekerja sama bersamanya, mereka menyebutkan beberapa kesamaan ciri. Bawahan yang mereka anggap berpengaruh ini memiliki ciri:

1. Punya kompetensi di pekerjaannya,

2. Penuh inisiatif dan mau belajar dari kesalahan dan

3. Enak diajak diskusi.

Ternyata, seperti layaknya para bawahan yang membutuhkan bantuan orang lain, atasan juga membutuhkan bantuan dari bawahannya, untuk memberi dukungan dan tukar pikiran. Bawahan-bawahan seperti inilah yang saya sebut Bawahan Berpengaruh.Merekalah yang menjadi inspirasi saya dalam membuat buku Menjadi Bawahan Berpengaruh, bahwa bawahan bisa begitu berarti bagi atasannya.

Stresnya Menjadi Atasan

Tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak memasuki milenium ketiga, dengan globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, persaingan bisnis memasuki tahap yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Perusahaan raksasa bisa jatuh dalam hitungan beberapa tahun saja dan perusahaan kecil bisa mencapai laba raksasa. Hal ini membuat tekanan pada top level management meluap sampai ke orang-orang dibawahnya. Semua profesional di semua level merasakan peningkatan stres dalam bekerja,  termasuk para atasan.

Sebuah organisasi pengembangan kompetensi kepemimpinan, Center for Creative Leadership atau CCL yang berpusat di Amerika Serikat, mengemukakan hasil survei tentang stres-nya dari atasan:

– 88% pemimpin yang disurvei merasa bahwa sumber stres mereka datang dari pekerjaan dan menjadi pemimpin meningkatkan stres mereka.

– Lebih dari 60% pemimpin yang di survei menyatakan bahwa organisasinya gagal memberikan dukungan pada mereka dalam mengelola stres.

– Lebih dari 2/3 pemimpin yang di survei menyatakan bahwa stres meningkat dibanding 5 tahun lalu.

Survei yang dilakukan pada tahun 2006 meneliti 160 responden dalam 3 bulan ini juga mengungkapkan bahwa penyebabnya karena kurangnya sumber daya dan waktu yang menjadi penyebab stres mereka. Stres disebabkan karena upaya yang diberikan untuk mencapai target yang lebih banyak, lebih cepat dengan sumber daya yang lebih sedikit.Terima kasih untuk Michael Campbellproject leader dari survei ini yang telah memberi ijin untuk menggunakan data dalam white paper report dari survei ini.

Kondisi diatas membuat pendapat dari para penulis War for Talent(perang mendapatkan karyawan bagus) menjadi sangat masuk akal:

“Adalah sebuah pemahaman penting yang mengatakan bahwa karyawan berbakat adalah pendorong penting bagi kinerja organisasi dan kemampuan perusahaan dalam menarik, mengembangkan dan mempertahankan karyawan berbakat akan menjadi faktor yang membuat perusahaan dapat bersaing.”

War for Talent, Ed Michaels, Helen Handfield-Jones, Beth Axelrod, Harvard Business School Press, 2001.

Dan tak pelak lagi, buku yang terbit di awal milenium ketiga ini masih menjadi salah satu referensi penting bagi banyak praktisi talent management di berbagai industri.

Pentingnya Kompak dengan Atasan

Di satu sisi, atasan stres karena perusahaan memberinya target lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit. Di sisi lain, Anda sebagai bawahan sangat butuh untuk mencapai target yang diberikan oleh atasan agar di akhir tahun Anda mendapat bonus, track record Anda lebih baik atau kepuasaan Anda dalam mencapai target tercapai. Atasan sebenarnya berperan banyak dalam membangun keterlibatan kerja dan peningkatan karir Anda.

Kalau Anda bisa kompak dengan atasan, dia bisa menjadi penasehat dalam Anda mengambil keputusan penting pekerjaan dan pengembangan kompetensi Anda, sebagai rekan tukar pikiran bahkan untuk urusan keluarga, serta sebagai pembuka jalan bagi karir yang lebih baik. Sebaliknya, bagi atasan, pendapat Anda berpengaruh karena Anda dapat dihandalkan dalam keadaan darurat karena tekanan atasannya. Seorang manager wilayah sebuah rantai restauran pernah bercerita bagaimana atasannya yang keras dan ditakuti oleh bawahan bisa menjadi pemecut semangatnya untuk mengambil kuliah malam dan membantunya mendapatkan posisi yang lebih baik.

Menjadi Bawahan yang Berpengaruh

Menjadi kepercayaan atasan alias pendapat Anda didengar dan diperhitungkan oleh atasan membuat kepentingan Anda juga di dengar dan diperhitungkan. Tentunya menjadi kepercayaan atasan bukan berarti kerja santai. Tekanan pada bawahan seperti ini bisa jadi lebih besar dibanding bawahan yang ‘kurang’ dipercaya. Karena atasan tentunya akan menanyakan pendapatnya. Namun karena besarnya peran bawahan berpengaruh ini wajar saja soal penilai kinerja akan dipandang berkinerja di atas rata-rata.

Saya menyarankan pendekatan berikut ini agar Anda bisa menjadi bawahan yang berpengaruh bagi atasan. Pendekatan yang sangat Indonesia agar mudah dimengerti dan dipraktikan oleh profesional Indonesia.

Kerja Ikhlas

Ikhlas memiliki arti mendalam lebih dari sekedar tulus. Ikhlas menurut Bapak Quraish Shihab, yang sangat paham Bahasa Arab, berasal dari kata khalis yang berarti kembali suci dari yang sebelumnya kotor. Bekerja ikhlas berarti meluruskan niat Anda kembali dalam bekerja. Kalau di Barat, sense of meaning ini adalah sisi spiritual dari pekerjaan. Anda ke kantor tentunya berniat untuk mencari nafkah, mencari ilmu, menebar manfaat atau mencari uang untuk menggapai cita-cita. Jadi bersihkan kembali niat itu, karena niat yang paling mulia pun pasti akan mendapat tantangan dalam pelaksanaannya.

Pertanyaan pentingnya adalah apa alasan terdalam dari Anda bekerja?

Kerja Cerdas

Bekerja cerdas berarti menemukan cara agar Anda memenuhi kualifikasi pekerjaan Anda. Yang berarti Anda memang harus menguasai ketrampilan, pengetahuan dan karakter yang dibutuhkan sesuai pekerjaan Anda. Bekerja cerdas juga berarti bekerja cerdas-cendas alias pintar-pintar. Bukan dalam arti yang negatif seperti pintar mencari muka, tapi Anda harus cerdik melibat kebutuhan atasan Anda. Seorang penasehat karir dari Inggris, Sophie Rowan dalam bukunya Happy at Work(Prentice Hall, 2007)menulis,“Memahami apa yang mendorong sikap dan tindakan atasan membantu Anda membaca situasi dan mengantisipasi situasi kerja yang berbeda-beda.” Bekerja cerdas ini membutuhkan kecerdasan, kreativitas serta kepekaan dalam mendeteksi kebutuhan atasan dan orang lain sehingga orang merasa aman dan nyaman dengannya.

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah Anda mengenali gaya kerja atasan Anda?

Kerja Keras

Kerja keras tentunya bicara energi dan usaha. Energi dan usaha yang maksimal dalam mencapai hasil yang terbaik dalam situasi yang banyak di luar kontrol kita. Sedia payung sebelum hujan, alias lakukan antisipasi. Bersakit-sakit dahulu berenang-renang kemudian, agar Anda siap menghadapi permintaan atasan atau perubahan yang mendadak. Paduan antara kedisiplinan dan kecermatan dikombinasikan dengan energi murni dari niat kerja yang tulus dan kecerdasan membuat Anda bisa memberi lebih dari apa yang diminta sesuai batas luar kemampuan Anda.

Pertanyaan pentingnya adalah apa antisipasi yang Anda perlu lakukan mengingat gaya kerja atasan Anda?

Kerja Sehat

Hubungan yang langgeng menuntut kondisi dan hubungan yang sehat. Kelola stres Anda. Kondisi badan dan pikiran yang sehat membuat Anda selalu fit sehingga memudahkan Anda untuk konsentrasi dan tanggap dalam menghadapi tantangan. Dalam bahasa keamanannya adalah 55, yang berarti fit atau dalam stamina terbaik dan siap menyelesaikan tugas secara maksimal. Kerja sehat juga berarti memiliki hubungan yang sehat dengan atasan. Sebuah penindasan jika Anda sering menjadi korban dari egoisme atasan sehingga Anda harus mampu bernegosiasi dengannya agar kehidupan Anda bisa lebih seimbang. Kerja sehat sengaja diletakkan diakhir dari proses ini agar Anda memiliki nilai lebih dimata atasan dahulu agar memperkuat nilai tawar Anda dalam bernegosiasi kepentingan pribadi dan keluarga Anda.

Pertanyaan bagi Anda agar memiliki hubungan kerja sehat dengan atasan adalah apakah Anda bisa mengungkapkan pendapat dan kekhawatiran Anda dengan sistematis dan masuk akal?

Kedengaran sangat idealis untuk memenuhi kerja ikhlas-cerdas-keras-sehat ini. Namun bagi Anda yang mengerjakan PR (pekerjaan rumah) Anda sebagai seorang profesional yang bertanggung jawab pada hidup Anda, proses ini sangat masuk akal dan nyata. PR yang saya maksud adalah setiap profesional bertanggung jawab untuk merencanakan karirnya sendiri. Hanya profesional yang punya rencana karir dan cita-cita memiliki energi lebih untuk memecahkan masalah sehari-hari. Bagi Anda yang belum memiliki rencana karir, saya undang Anda untuk membuat rencana karir versi Anda sendiri di www.progresperforma.com.

Pesatnya Karir si Bawahan Berpengaruh

Dari semua direktur dan top level management yang saya interview, semuanya menyatakan bahwa profesional hebat yang pernah menjadi bawahan mereka dulu, saat ini memiliki karir yang gemilang. Bahkan ada yang memiliki perusahannya sendiri. Tidaklah mengherankan jika seorang yang memiliki kompetensi, inisiatif dan mau terus belajar serta membuat orang nyaman bahkan untuk bertukar pikiran memiliki kelapangan jalan untuk berkembang. Jadi tunggu apa lagi, waktunya Anda mencapai karir impian Anda tahun ini. (*)

(Rivalino Shaffar, adalah penulis dan fasilitator yang memfokuskan diri dalam pengembangan karir, produktivitas dan kepemimpinan. Rino menciptakan perencanaan karir The Esssential Career Compass. Kontak Rino di Twitter@rivalinoshaffar dan progresperforma.com)

 

*) Tulisan ini pernah dimuat di majalah HC edisi 2 Januari-Februari 2013

Tags: , ,