Berkembang Tapi Menyusut

Ekonomi global tumbuh bersamaan dengan makin menciutnya ukuran perusahaan-perusahaan, dari yang tambun, gemuk, besar, raksasa menjadi kecil, langsing tapi efisien dan lincah bergerak memburu peluang-peluang pasar global yang maha luas, menjemput konsumen di berbagai belahan dunia.
Lahirnya perusahaan dan industri skala kecil namun efektif, efisien dan produktif terbukti telah mengancam industri yang berskala besar. Perusahaan air kemasan Aqua atau Ades misalnya, sekarang ini betul-betul sangat terganggu dengan adanya usaha kecil di bidang minuman kemasan yang kecil-kecil bertaburan di sudut-sudut kota sampai kecamatan. Supermarket bersaing dengan mini market yang tersebar di pinggir-pinggir kota dan kampung-kampung, bahkan sampai pedesaan.
Paradoks adalah konsep yang diadaptasi dalam peperangan bisnis, yaitu suatu pernyataan atau rumusan yang terlihat seakan-akan adanya hal-hal yang bertolak belakang atau tidak masuk akal antara satu keadaan dengan keadaan yang lain, namun kenyataannya sungguh-sungguh logis dan benar jika ditinjau secara pragmatis. Dalam dunia arsitektur misalnya, dikenal paradoks "Lebih sedikit = lebih banyak". Makin sedikit Anda menghias sebuah bangunan, makin anggunlah bangunan tersebut, dan sebaliknya.
Dunia bisnis setiap saat harus berhadapan dan berurusan dengan paradoks-paradoks tertentu, tarik-menarik antara kebutuhan sentralisasi dan desentralisasi, hasrat yang berbarengan apakah menjadi pemimpin pasar atau pengikut pasar, sebagai pelaku dalam tim atau perorangan, sebagai pemenang atau pecundang. Paradoks-paradoks ini menjadi piranti yang ampuh untuk memahami atau setidak-tidaknya menjadi salah satu tujuan, yang memicu pemikiran segar, inovasi, kreativitas dan kecepatan dalam usaha untuk melakukan perubahan dan meningkatkan daya saing korporasi.
Perusahaan raksasa seperti IBM, Philips, GE, GM memecah diri menjadi perusahaan-perusahaan kecil, melakukan desentralisasi, otonomi dan berwirausaha agar dapat bertahan hidup dan berkembang lebih kuat. Dari tahun 40-an sampai pertengahan 90-an, perusahaan-perusahaan besar dan prinsip <I>economies of scale</I> telah berjaya. Tapi, di abad melenium ini hanya perusahaan-perusahaan kecil dan sedang atau perusahaan besar yang sudah merombak diri menjadi jaringan perusahaan-perusahaan kecil yang akan mampu bertahan hidup dalam arus globalisasi dunia. Inilah yang disebut sebagai "efek ODD", yaitu <I>outsourcing, delayering</I>, dan <I>deconstruction</I>. Hasilnya adalah pengecilan yang radikal perusahaan, tapi menghasilkan <I>revenue</I> yang meraksasa.
Pengecilan (<I>downsizing</I>), rekayasa ulang (<I>reengineering</I>), penciptaan jaringan organisasi, maupun yang paling mutakhir perusahaan virtual, e-commerce semuanya merupakan hal yang sama. Perusahaan harus membongkar karat mental dan praktek birokrasinya yang lamban, sambil berusaha menemukan ukuran yang pas agar sinergis, fleksibel dalam pasar, dan terlebih lagi, cepat bertindak.
Perusahaan besar dunia yang paling banyak mengalami perombakan adalah Asea Brown Boveri, sebuah kelompok korporasi global di bidang <I>power-engineering</I> terbesar di dunia. Pendapatan tahunan dari 1.200 perusahaan melampaui 30 miliar dollar AS, di mana masing-masing perusahaan rata-rata karyawannya hanya 200 orang. CEO Asea Brown Boveri Percy Barnevik mengatakan, "Kami terus berkembang sekaligus juga menyusut. Kita bukanlah sebuah bisnis global, tapi sekumpulan usaha bisnis lokal dengan koordinasi yang sangat global".
Sejarah mencatat bahwa Jack Welch dari General Electric juga merampingkan perusahaannya. Selama 11 tahun sampai 1992, karyawannya telah dikurangi 100.000 orang sehingga menjadi 268.000. Selama itu, penjualan tahunan menanjak dari 27 miliar dolar AS menjadi 62 miliar dolar AS, dan pendapatan bersih naik dari 1,5 miliar dolar AS menjadi 4,7 miliar dolar AS.
Direktur Xerox Paul Allaire mengemukakan rekayasa ulang radikal apa yang disebutnya ‘arsitektur organisasional’ perusahaaan, "Kami mencoba memanfaatkan keunggulan perusahaaan kecil yang berupa kecepatan pemasaran, pengambilan keputusan dan pemangkasan birokrasi." CEO IBM Louis Gerstner juga memikirkan soal perombakan ulang. Ia mengatakan, "Tantangan kami di IBM adalah bagaimana menggabungkan atribut di perusahaan kecil seperti kegesitan, kecepatan dan kepekaan pada langganan dengan keunggulan mitra perusahaan besar, seperti berlimpahnya dana untuk penelitian dan pengembangan."
Beberapa tahun lagi, semua perusahaan besar akan mulai merasakan betapa sulitnya bersaing di kancah pasar global, dan pada umumnya prestasi mereka akan berkurang secara drastis jika dibanding perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, lebih gesit dan lebih inovatif. Adanya gagasan bahwa perusahaan multinasional akan menguasai bisnis dunia dalam persaingan ekonomi global bisa salah besar. Makin besar dan terbuka ekonomi dunia, makin kuat dominasi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah. Keadaan sudah berubah dari <I>economies of scale</I> menjadi <I>diseconomies of scale</I> – dari ‘lebih besar lebih baik’ menjadi ‘lebih besar lebih buruk’ karena tidak efisien, makan biaya, birokrasi sia-sia, kurang fleksibel dan akhirnya, hancur.
(Penulis adalah Kepala Divisi/Manager HRD PT Krakatau Engineering)