Berkarir di Zaman Edan

Teman saya Didi, baru pindah kerja. Dari sebuah perusahaan konsultan bonafide yang ternama, dia “dibajak” sebuah perusahaan headhunter besar juga, untuk bekerja di sebuah perusahaan “startup” multinasional yang sedang naik daun. Tentu saja tawaran remunerasi menggiurkan, sehingga Didi bersedia melepas pekerjaannya di perusahaan dan industri yang lebih “mapan.”

Pada hari pertama Didi masuk kerja, tidak berlebihan bila dikatakan dia syok. Betapa tidak. Didi sudah terbiasa memiliki ruang kantor di pojokan yang memiliki pintu masuk bertuliskan namanya, dengan meja serta kursi yang nyaman di dalam, serta fasilitas VIP lainnya seperti dispenser air minum pribadi, pesawat telepon pribadi, dan peralatan-peralatan kantor lainnya yang di era digital ini akan segera punah.

Di kantor yang baru, jangankan ruang sendiri, bahkan meja sendiri pun tidak ada. Dia masuk dalam suatu ruang kantor yang sangat terbuka di mana semua karyawan dari semua level duduk bersama, meja pun tidak disekat. Didi sudah biasa memiliki lemari untuk menyimpan file-file pribadinya, namun kini jangankan lemari, rak di meja pun tidak ada. Ruang kerja dipenuhi anak-anak muda yang ekspresif, “sok” kreatif, sehingga berisik, menurut Didi. Perlu waktu beberapa hari bagi Didi untuk bisa bekerja dengan konsentrasi penuh dalam suasana seperti ini.

Bukan hanya lingkungan kerja, ketika Didi masuk lebih dalam ke manajemen SDM, hanya bisa mengernyitkan dahi dan geleng-geleng sendirilah dia. Dia yang terbiasa dengan hirarki penggajian, struktur yang baku dan jalur karir yang lebih mapan, menemukan “chaos” dalam remunerasi, dan hal ini terjadi tidak hanya di tempatnya bekerja, tetapi juga di industri digital secara umum. Anak-anak yang menurut Didi masih hijau, baru bekerja beberapa tahun saja, gajinya bisa meroket, setingkat orang yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun. Tidak ada standar pay,  “chaos” melanda.

Tingkat turn over juga mengejutkan. Mungkin inilah yang menyebabkan chaos dalam penggajian tadi, atau sebaliknya. Banyak bajak-membajak yang membuat gaji meroket, atau sebaliknya, tawaran gaji tinggi yang membuat turn over tinggi. Kepada dirinya sendiri Didi hanya bisa berkata, Selamat Datang ke Era Digital.

Selamat datang ke zaman edan, kataku. Didi adalah salah satu contoh yang saya ambil untuk melukiskan zaman edan di dunia karir saat ini. “Chaos” ini sudah diakui di lingkungan pengkaji human resources paling mutakhir juga.

Belakangan ini dalam seminar-seminar HR saya semakin sering mendengar istilah VUCA, akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity, sebuah term yang dengan tepat melukiskan iklim bisnis dewasa ini. Iklim bisnis yang VUCA tersebut juga terasa dampaknya dalam dunia karir.

Tidak kurang dari Harvard Business Review pun menulis beberapa hari yang lalu:

In an unpredictable world, traditional career planning is a waste of time. It’s close to impossible to pinpoint exactly where you’ll be in five years and work backwards.

Tidak heran bahwa dalam ketidakpastian seperti itu pun, insentif yang berbentuk jangka panjang, semakin tidak menarik. Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh seorang konsultan senior Hay Group. Cara paling ampuh me-retain gen Y adalah gaji besar (Baca: Retain Gen Y dengan Gaji Besar). Mereka tidak peduli dengan insentif jangka panjang seperti yang dulu sering menjadi senjata perusahaan untuk me-retain top talent seperti COP (Car Ownership Program), House ownership program, dan sebagainya.

Gen Y yang semakin mendominasi lingkungan kerja, khususnya di industri digital, dan industri digital itu sendiri, adalah dua engine penggerak perubahan di dunia bisnis secara umum. Barangkali Didi baru merasakannya di industri digital yang dipenuhi gen Y, namun tren ini akan meluas ke industri-industri lain juga.

Beberapa tren di ranah karir yang mungkin akan membuat generasi sebelum kita garuk-garuk kepala, misalnya:

1. Masa karir yang semakin pendek. Akan semakin jarang bahkan terancam punah orang-orang yang bekerja dan membangun karir di suatu perusahaan hingga lebih dari 20 tahun. Masa karir akan semakin pendek, di kalangan gen Y terkenal dengan istilah karir 4 tahun.

2. Pengaturan kerja yang lebih fleksibel. Kemajuan teknologi membuat pekerja dapat terhubung dari mana saja, sehingga semakin meningkatkan tren bekerja dari luar kantor serta jam kerja yang lebih fleksibel. Hal ini kemudian mengubah rancangan banyak kantor di dunia, dengan lebih mengutamakan produktivitas dan bukan kehadiran (banyak fasilitas di kantor yang tidak lagi diperlukan).

3. Batasan Antara Bekerja dan Bermain yang semakin mengabur. Tersedianya semua fasilitas di hadapan kita membuat bekerja dan bermain jaraknya hanya satu klik, antara pekerjaan dengan hiburan, tugas dan games, just one click away. Adanya gadget yang menyala terus sehingga menjawab email di atas jam 20.00 sudah biasa, bahkan pada saat akhir pekan. Terkadang sudah tidak jelas batasan antara bekerja dengan urusan pribadi.

4. Banyaknya profesi baru, kelangkaan talent sehingga belum ada standar pay yang baku. Industri yang baru membutuhkan talent dengan skill baru yang belum banyak dimiliki. Hal ini membuat HRD pusing karena menimbulkan gap dalam penggajian.

5. Knowledge gap yang makin bervariasi. Semakin mudah untuk mengakses pengetahuan, namun di sisi lain kebebasan seperti ini juga menimbulkan gap antara yang suka mencari informasi dengan yang tidak. Ragam tingkat pengetahuan dan juga penguasaan digital semakin bervariasi.

Silakan menambahkan apabila ada hal lain yang Anda temukan, yang menandai “zaman edan” di ranah karir ini.

*) Penulis adalah Editor in Chief PortalHR.com, bisa dihubungi melalui Twitter @mei168

Tags: , ,