BBM, Produktivitas dan SDM

Kenaikan harga BBM di Indonesia merupakan puncak gunung es lemahnya kemampuan birokrasi pemerintah dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya mineral dan energi di muka bumi nusantara. Selain tidak memiliki cetak biru pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral dan energi nasional jangka panjang, penguasaan keahlian dasar dari jajaran birokrasi masih rendah, sementara ketergantungan kepada pihak asing tinggi. Hal itu diperparah dengan perilaku khas pemerintah dalam mengelola sumber daya yang miskin strategi, minim inovasi serta lemah dalam implementasi di lapangan.
Mayoritas rakyat Indonesia adalah pekerja dengan tingkat penghasilan menengah ke bawah. Sejak terjadi krisis moneter 10 tahun lalu yang berujung pada krisis multidimensi, kelompok masyarakat ini sudah sangat tertekan dengan beragam kesulitan klasik yang harus mereka hadapi seperti problem keamanan, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya kualitas dan minimnya transportasi publik. Kenaikan harga BBM semakin menambah tekanan dan kesulitan finansial bagi kelompok pekerja yang memiliki penghasilan tetap seperti guru, buruh, karyawan dan pegawai negeri. Besarnya ketakutan finansial ini tentunya juga berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan dan kehidupan mereka sehari-hari. Perilaku ini dipicu pemikiran bahwa pekerja menjadi lebih sibuk memikirkan bagaimana harus menutupi kekurangan finansial akibat terjadinya kenaikan harga BBM dibandingkan dengan memikirkan bagaimana harus meningkatkan kinerja di kantor.
Lazimnya, pekerja yang mengalami problem finansial akan mengalami peningkatan kadar stres dalam dirinya sehingga akan mempengaruhi keseluruhan kontribusi dan kinerja yang dihasilkan. Hal ini tentunya akan menurunkan kualitas dan kuantitas produktivitas dari pekerja yang bersangkutan. Kelompok pekerja yang berpenghasilan tetap sudah pasti terpukul dengan kenaikan harga BBM. Mereka akan mengalami penurunan konsentrasi di dalam bekerja, tidak lagi bersemangat berangkat ke kantor, menjadi lebih tegang dalam menjalankan aktivitasnya di kantor dan tidak punya motivasi serta gairah untuk dapat bekerja dengan maksimal.
Secara makro ekonomi, setiap kenaikan harga BBM sudah pasti akan menambah besaran angka inflasi secara nasional. Khusus kenaikan angka inflasi tahun ini akan semakin parah menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Natal mendatang. Jangan lupa bahwa strategi pemerintah adalah berupaya menghilangkan beban subsisdi BBM dengan cara menaikkan harga BBM di dalam negeri sehingga mendekati harga riil minyak dunia secara internasional. Artinya, dengan semakin tingginya harga minyak dunia yang diprediksi akan menembus angka 200 dollar AS, maka kenaikan harga BBM kali ini hanyalah merupakan awal dari serangkaian rencana kenaikan harga BBM nasional. Apabila strategi pemerintah tersebut benar akan dilaksanakan, maka dalam kurun waktu 2 tahun mendatang diperkirakan akan terjadi minimal 3 kali kenaikan harga BBM di Tanah Air.
Untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM dalam kurun waktu 3 tahun mendatang, pemerintah dan pengusaha secara bersama-sama sejak dini harus mencari altrernatif solusi secara menyeluruh dan strategis guna melindungi kesejahteraan pekerja dan rakyat Indonesia. Salah satu usulan nyata yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk membantu mengurangi tekanan finansial pekerja dari dampak kenaikan harga BBM adalah melalui penerapan strategi 4+1. Strategi ini berupa penerapan 4 hari bekerja di kantor ditambah dengan 1 hari bekerja di rumah.
Saat ini mayoritas pekerja di Indonesia masih bekerja selama 5 hari di kantor mulai hari Senin sampai dengan hari Jumat dalam satu minggu kerja. Penerapan solusi 4+1 adalah solusi jangka pendek-menengah yang memang tidak bisa diterapkan secara langsung atau menyeluruh kepada semua lapisan dan tingkatan pekerja di seluruh industri. Dari pengalaman saya saat bekerja di perusahaan multinasional asing di banyak industri yang berbeda, penerapan 1 hari kerja di rumah adalah solusi yang paling realistis khususnya kepada beberapa jenis industri utama serta pendukungnya seperti jasa keuangan, perbankan, asuransi dan teknologi informasi.
Ada pun penerapan solusi 4+1 untuk industri lainnya seperti pendidikan, kesehatan, pegawai pemerintah, transportasi, agrikultur dan manufaktur dapat dipilih sesuai jenis jabatan, tingkat dan jenjang jabatan. Manfaat langsung yang dapart dirasakan pekerja dari penerapan solusi 4+1 adalah berkurangnya komponen pengeluaran dari biaya bulanan khususnya biaya transportasi dan makan. Secara umum dua komponen biaya tersebut mengambil sekitar 30-45% dari total penerimaan bulanan pekerja di Indonesia. Manfaat ini belum termasuk berkurangnya komponen kualitatif lainnya seperti penurunan tingkat konsumsi BBM secara nasional, berkurangnya tingkat polusi sekaligus kemacetan lalulintas.
Melakukan kajian lebih menyeluruh terhadap solusi transportasi menjadi sebuah agenda penting bagi pemerintah dan pengusaha dalam mencari jalan keluar bagi persoalan kesejahteraan pekerja Indonesia. Ada pun solusi tambahan yang dapat memperkaya cakupan solusi transportasi meliputi pemberian subsidi tiket bus, insentif taxi, penyediaan antar jemput kantor dan pemberian voucher perawatan kendaraan bermotor.
Kenaikan harga BBM telah menyebabkan jebakan ketakukan yang mengakibatkan turunnya tingkat produktivitas pekerja nasional. Dengan semakin rendahnya produktivitas kerja, maka pada akhirnya akan membuat daya saing dan kompetensi SDM nasional juga menjadi semakin jauh tertinggal. Saya ingin mengutip kalimat bijaksana dari Napoleon Bonaparte bahwa a leader is a dealer in hope. Sekarang saatnya para pemimpin negeri ini berusaha menghilangkan ketakutan rakyatnya dengan mulai memberikan solusi yang praktis dan realistis.
(<I>Penulis adalah pengamat dan praktisi SDM</I>)