Bahagia

bajai

Rasa bahagia menjadi incaran semua orang. Tapi, tak mudah meraihnya. Semua orang mendambakannya, semua orang mengejarnya, semua orang merindukannya, tapi hanya sedikit yang memperolehnya. Orang sering kita terkecoh pada rasa-rasa lain yang ternyata “bukan bahagia”. Kemudian, malah berbuah kecewa.

Mengapa sulit? Hambatan pertama, karena orang tidak tahu persis, apa dan bagaimana sesungguhnya “bahagia” itu. Karena ketak-tahuan itu, orang keliru. Sesuatu yang semula dianggap membahagiakan, ternyata tidak. Malahan, bisa jadi, palsu. Sepertinya itu, nyatanya bukan. Bahkan, kemudian, melahirkan “bahagia-bahagia” lain yang, di antaranya, biasa disebut “gundah”, atau “marah”.

Kedua, “bahagia” itu tidak sama. Rambut sama hitam, bahagia orang, siapa tahu. Sesuatu yang membuat bahagia seseorang, belum tentu membahagiakan orang lain. Manusia diciptakan berbeda-beda, dengan “rasa bahagia” yang berbeda pula. “Humans differ widely from one another”, begitu Margaret W. Matlin, Guru Besar Psikologi dari Amerika, menjadikannya sebagai tema kedua, dari 3 spirit Psikologi yang diyakininya.

Karena tak sama, rasa itu sulit diceritakan kepada orang lain. Karena tak tahu persis, apa yang sejatinya dimiliki kawannya, orang susah untuk meng-copy-paste “bahagia”. Istilah sama, tapi rasa bisa beda. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, yang terjadi malah sang teman meniru dengan keliru. Hasilnya, tak jelas juntrungan-nya.

Hambatan ketiga, karena “bahagia” itu relatif. Ini mirip dengan hambatan kedua. Sesuatu yang sama, dengan kadar yang sama atau bahkan lebih kental, tidak bisa membuat 2 manusia sama-sama bahagia. Bagi seseorang, kadar yang “relatif” tipis, dapat membahagiakan dirinya. Dengan kadar yang lebih tebal, ia belum tentu membahagiakan orang lain. Ini sebab musabab dari apa yang disebut sebagai “comparative happiness”.

Keempat, manusia senantiasa berubah. Pada umumnya, perubahan itu berupa “perkembangan”. Bila hari ini sesuatu membuat seseorang bahagia, besok, rasa itu bisa hilang. Itu karena “tuntutan” dalam dirinya berkembang dan rasa gundah, kebalikan dari bahagia, bisa datang tiba-tiba. Ia menyergap, sering tak diduga kedatangan dan kepergiannya. Buku legendaris karangan novelis Rusia, Aleksandr Solzhenitsyn, berjudul “The Gulag Atchipelago”, menyebutkan dengan suatu ungkapan yang pas, “Manusia bukan gunung”.

Tak heran jika kemudian manusia jarang mampu merangkul rasa itu. Atau, kalau pun bisa, belum tentu besok atau lusa, rasa yang sama masih merajainya. Rasa itu bisa dengan cepat berganti, tergantung bagaimana wadah dipelihara dari dalam sana. Bila tempatnya mudah pecah, tak heran, bila isinya juga gampang tumpah. Atau, “mangkuk” itu tiba-tiba, menjadi lebih besar atau kecil, maka isinya hilang, tak tahu rimbanya. Belum kalau ia mudah pecah.

Banyak teori mengenai rasa ini yang ditulis di buku-buku best seller, dengan pengarang kelas wahid. Namun, tetap saja, “rasa bahagia” tak mudah digenggam orang. Dimana-mana, orang mengeluh karena merasa kecewa, atau sedih, atau marah, atau jengkel, atau gundah, atau tak puas. Yang lain, meski tak bereaksi, merasa tak nyaman dengan hidupnya. Singkatnya, dia merasa tidak bahagia. Susah memang.

Karena handicap-nya banyak dan subyektif, orang sulit menata hatinya untuk bahagia. Rasa itu keluar dari dalam, kualitatif dan intrinsik. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa “rasa bahagia” tak ada hubungannya dengan sesuatu yang mudah tertangkap dengan panca-indera.

Tak heran kalau “materi” tak bisa membuat seseorang bahagia. Beberapa variabel pernah diset untuk menentukan aspek yang membuat seseorang atau suatu komunitas, bahagia. Hasilnya justru sebaliknya. Kekuasaan, kepandaian, ketenaran, kekayaan dan sejenisnya tak barkaitan langsung dengan rasa bahagia. Paling tidak, itu persepsi yang ditangkap dari sejumlah sampel yang menjadi obyek studi.

Biasanya, “bahagia” mudah disamarkan dengan “comparative happiness”. Seorang karyawan yang merasa dapat merit increase tinggi, semula “bahagia”, namun seketika berubah kecewa saat mengetahui kawan-kawannya mendapat kenaikan gaji yang lebih tinggi daripadanya. Seorang mahasiswa yang mendapat nilai A, berubah kecewa ketika mengetahui bahwa nilai itu diraih banyak teman sekelasnya. Atau, rasa “bahagia” seorang pesohor yang tiba-tiba raib saat mengetahui mobil Lamborghini yang baru dibelinya, juga dimiliki pesaingnya.

Itu contoh comparative happiness, yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Ia bukan rasa bahagia sejati, yang biasanya awet dan tak mudah terpengaruh oleh situasi yang melingkupinya. Sepanjang rasa itu masih tergantung hasil perbandingan dengan “orang lain”, maka dapat dipastikan bahwa itu bukan rasa yang sebenarnya.

Meski sulit, saya berhasil menemukan rasa bahagia sejati pada diri seorang tetangga di kampung kami. Pendidikannya tak tamat SD, dan berprofesi sebagai sopir bajaj. Kebetulan, kendaraan seperti sandal jepit itu sudah dimilikinya sendiri. Isterinya membuka salon kecil, dan selalu ramai dikunjungi pelanggannya. Saya biasa memanggilnya, pak Kuat.

bajai

Meski pendiam, tapi wajahnya tak pernah kehilangan senyum. Setiap kali diusik mengenai soal kehidupan, dia selalu keluar dengan kalimat yang sama. “Saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa”. Ketika dia mengalami kecelakaan dan bajajnya harus di-grounded, karena disenggol Metromini, saya penasaran, pingin tahu apa yang akan dilakukannya. Tapi, kalimat serupa kembali terdengar. Dua anaknya kuliah di PTS, dan kembali terdengar jawaban yang sama, saat ditanya, apa rencana setelah mereka lulus.

Kalimat yang sama juga terdengar saat saya kepo menanyakan dari mana dana untuk membiayai kuliah kedua anaknya. Kalimat itu terlihat tulus keluar dari dalam dan selalu siap diucapkan, saat persoalan hidup mengusik dirinya.

Pak Kuat tak pernah terlihat galau, sedih atau kecewa. Pembawaannya ramah dan tangannya selalu melambai tinggi saat kenalannya terlihat di kejauhan. Dan yang penting, dia tak pernah terusik dengan keadaan tetangganya atau orang lain, yang lebih memiliki keberuntungan dibanding dirinya. Pak Kuat hanya berusaha sekuat tenaga, dengan kerja keras, tapi selalu nrimo, sumeleh, meletakkan semua beban hidup dan menyerahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Saya yakin, dia tak memahami mengenai “teori bahagia” yang saya tulis di atas, atau teori-teori lain yang diajarkan dari bangku kuliah atau buku-buku teks yang tebal. Hidupnya hanya hadir dan mengalir. Saya selalu berusaha menirunya, meski sering kali gagal.

Lantas, bagaimana caranya agar orang bisa bahagia seperti pak Kuat? Bagaimana bisa mempraktekkan resepnya yang sederhana tapi cespleng? Tiba-tiba saya teringat suatu ungkapan yang pernah diucapkan oleh Dave Gardner, artis ternama dari Amerika. Sukses datang ketika meraih apa yang kita inginkan, sementara kebahagiaan terjadi jika senantiasa bersyukur dengan apa yang kita dapat.

“Success is getting what you want, happiness is wanting what you get”.

*) P.M. Susbandono, Senior Advisor Human Resources Star Energy

Baca juga: Udin

Tags: ,