Apakah Karyawan Anda Bahagia?

Salah seorang sahabat bercerita bahwa ia tidak lagi peduli dengan strategi indah di perusahaannya karena baginya hal tersebut hanyalah sebuah rencana yang menguntungkan organisasi tanpa memikirkan sedikitpun upaya dia dan timnya yang berada di lapangan.

Selama ini ia merasa kecewa dengan bagaimana manajemen kurang mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan. Pengalaman yang diceritakan ini mengingatkan saya akan sebuah kisah yang juga pernah diceritakan oleh seorang peserta dalam pelatihan saya.

Peserta ini berkata bahwa ia merasa dirinya sudah melakukan terbaik, hanya saja ia tidak nyaman mana kala harus bertemu dengan atasannya. Ia lebih senang ketika harus bertemu client di luar kantor daripada harus meeting bertemu dengan atasannya sendiri.

Ia tidak bahagia bukan karena pekerjaannya melainkan karena arogansi dan perilaku atasannya yang selalu melihat kekurangan dalam dirinya dan selalu menyalahkan dirinya tanpa sekalipun diberikan dorongan untuk perbaikan.

Merefleksikan dua peristiwa tersebut, pertanyaan mendasar bagi diri kita adalah, apakah kita bahagia saat ini di tempat kita bekerja? Atau kalau Anda seorang pemilik perusahaan, atau duduk sebagai top manajemen di organisasi, pernahkah Anda bertanya bagaimana perasaan karyawan Anda?

Apakah mereka bahagia bekerja di lingkungan Anda? Atau seberapa peduli Anda untuk mengetahuinya? Terkadang kita disibukkan menyusun strategi bagaimana memuaskan pelanggan, tapi lupa bahwa pelanggan utama kita justru adalah karyawan sendiri.

Bagaimana mungkin organisasi dapat memuaskan pelanggannya apabila karyawan yang menjadi lini depan melayani pelanggan tidak merasa bahagia dan nyaman dengan perusahaan di mana ia bekerja? Uniknya karena sebagian orang masih menjunjung tinggi budaya timur, maka ketika diadakan survey untuk karyawan, hasilnya begitu positif, karena mungkin mereka khawatir apabila mengatakan yang sebenarnya akan membuat suasana lingkungan kerja menjadi tidak kondusif, apalagi kalau masukan itu harus diberikan kepada atasannya sendiri. Kondisi semacam inilah yang kelihatannya baik-baik saja di permukaan, akan tetapi ada hidden reason yang belum terkuak.

Sebenarnya apa yang dapat membuat seorang karyawan  menjadi bahagia atau tidak di tempat ia bekerja?

Siapa Atasannya

Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa karyawan tidak meninggalkan perusahaannya melainkan karyawan meninggalkan atasannya. Jadi apabila ada karyawan yang mengundurkan diri atau misalnya departemen HRD merasa bingung mengapa tingkat turnover yang begitu tinggi di salah satu departemen, jangan sibuk memasang iklan lowongan yang baru melainkan cek terlebih dahulu atasannya.

Mohon maaf untuk para atasan yang saat ini menjabat, tapi menjadi sebuah pelajaran berharga untuk siapapun yang saat ini menduduki posisi penting sebagai pimpinan untuk melakukan introspeksi sejauh mana perannya memberi pengaruh yang positif untuk tim.

Terkadang seorang karyawan tidak sekedar bekerja karena uang tapi menginginkan sebuah kenyamanan dalam bekerja, dan salah satu faktor kuncinya tentu atasannya sendiri. Tapi tentu tidak semua bisa dilimpahkan kesalahannya kepada seorang atasan, terkadang memang si karyawannya sendiri yang ‘tidak bisa diatur’ atau ‘tidak mau berubah’ sehingga membutuhkan ketegasan seorang atasan dalam situasi tertentu.

Adapula kisah yang sangat inspiratif dimana seorang karyawan pernah ditawari pekerjaan yang bayarannya dua kali lipat lebih tinggi bayarannya dan ia memutuskan tidak mau pindah hanya karena ia merasa sudah nyaman bekerja dengan atasannya. Seorang atasan tidak lagi dianggap sebagai pemimpinnya tapi juga sebagai mentor yang senantiasa membimbing dia berkembang dan mengasah kemampuannya, dan bukan sekedar atasan yang meminta pekerjaan diselesaikan dengan cepat. Karyawan bukan robot melainkan manusia sehinga sudah selayaknya diperlakukan sebagai manusia. Situasi ini yang membuat si karyawan berpikir dua kali untuk pindah. Apakah semua atasan akan seperti itu? Belum tentu!

Ruang untuk Bertumbuh

Salah satu alasan lain yang membuat karyawan merasa senang bekerja yakni adanya program pengembangan yang sistematis untuk semua level karyawan. Meskipun saya tahu tidak semua organisasi mau memberikan investasi yang besar untuk karyawannya. Mereka khawatir manakala sudah diberi pelatihan, si karyawan meninggalkan organisasi. Ketakutan inilah yang terkadang membuat organisasi enggan memberikan ruang untuk karyawannya bertumbuh lewat program pelatihan. Justru karena karyawan merasa bahwa tidak adanya ruang untuk bertumbuh sementara organisasi lain menawarkan tidak hanya saja karir melainkan juga program pengembangan yang berkelanjutan untuk karyawan, maka faktor ini menjadi kontributor mengapa karyawan memutuskan berhenti. Ketakutan organisasi akan karyawan yang pindah kerja seusai diberi pelatihan yang mahal harusnya mulai bergeser pola pikirnya menjadi ‘apa jadinya kalau karyawan saya tidak saya bekali sementara mereka masih bekerja di tempat saya’

Bukan Sekedar Gaji

Selain pekerjaan yang akan digelutinya, tak bisa dipungkiri calon karyawan ketika menerima sebuah tawaran kerja tentu akan melihat berapa nominal yang akan ia dapatkan selama sebulan sebagai kompensasi jerih payahnya kelak. Meskipun banyak pakar dan buku yang mengatakan jangan melihat gaji sebagai faktor penentu mengambil sebuah pekerjaan, tapi realitanya masyarakat masih melihat gaji sebagai faktor yang cukup menarik untuk dilihat di awal. Sayangnya ketika si karyawan sudah masuk beberapa bulan, faktor gaji bukan lagi yang terpenting. Selain dua faktor yang saya sebutkan tadi, karyawan juga menilai perusahaannya sejauh mana apresiasi yang diberikan, kebersamaan sesama rekan kerja yang terbentuk dalam lingkungan kerja yang kondusif, nilai-nilai yang ditanamkan kepada karyawan, dan semua faktor ini bisa dirasakan betul oleh karyawan. Mereka tidak sekedar disuruh mengejar target semata, tapi organisasi juga harus peduli akan karyawannya sebagai satu keluarga.

Kalau perusahaan tidak ‘bahagia’ dengan karyawannya maka perusahaan bisa dengan mudah memutuskan hubungannya dengan perusahaan, begitu pula halnya dengan karyawan, jika mereka merasa tidak ‘bahagia’ di tempat kerjanya, mereka berhak menemukan kebahagiaan mereka! Bagaimana dengan tim Anda saat ini? Apakah mereka sudah bahagia?

*) Muk Kuang adalah penulis buku Messages of Hope, Amazing Life, dan Think and Act Like A Winner. Beliau juga seorang professional trainer dan pembicara di bidang people development, soft-skills, dan motivasi. Twitter: @mukkuang 

Tags: , , ,