Apa Mimpi Anda?

Konon, hanya ada dua jenis manusia di muka bumi ini. Pertama, mereka yang berani bermimpi. Kedua, mereka yang tidak berani bermimpi. Jenis kedua tidak diceritakan disini. Bukannya tak menarik, tapi saya memang sedang ingin bercerita tentang yang pertama.
Ngomong-ngomong, apakah Anda pernah bermimpi? Memimpikan meraih sesuatu, katakanlah menjadi direktur <I>marketing</I> dalam lima tahun ke depan, menjadi pengusaha restoran top. Lalu, demi meraih mimpi itu Anda berusaha, dan tentu saja berdoa, bersungguh-sungguh, mengerahkan segenap daya upaya bahkan rela mengucurkan keringat, darah dan air mata. Pernah?
Kalau jawabannya “ya”, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang bermimpi. Kebetulan, saya juga sedang memimpikan sesuatu dan sedang berjuang mewujudkannya. Mimpi saya, 15 tahun dari sekarang saya menjadi wakil bupati!
Betul, saya mendapat beragam reaksi ketika saya menceritakan mimpi tersebut kepada keluarga, teman atau orang baru kenal yang mengajak mengobrol di kendaraan umum –saya bekerja di Jakarta, tapi tinggal sekitar 100 km di luar kota, dan hampir setiap hari naik bus antarkota. Tak semua komentar membesarkan hati memang. Bahkan, ada pula yang menanggapinya dengan tertawa seraya mengolok-olok –kalau ketemu yang seperti ini saya tidak ambil pusing, cuma <I>diketawain gak</I> bikin benjut toh?
Yang hampir pasti, dari semua pendengar (Anda juga, mungkin), saya  selalu mendapat pertanyaan sama, “Mengapa wakil bupati, bukan menjadi bupati?” Untuk menjawabnya saya biasanya buka kartu. “Selain dorongan hati nurani, mimpi saya ini ada teorinya lho. <I>Gak</I> asal <I>ngimpi</I>!”
“Teori” mengenai bermimpi ini saya dapatkan saat mengikuti pelatihan Kubik Leadership pertengahan 2006 lalu. Pelatihan yang dimotori Jamil Azzaini, Indrawan Nugroho dan Farid Poniman ini memang mengajak pesertanya untuk berani bermimpi, membuat rencana untuk mewujudkannya, dan tahu kapan mimpi itu harus menjadi kenyataan.
Setiap peserta pelatihan diminta membuat mimpi besar yang spesifik dan tertulis. Mengapa tertulis? Ini merujuk pada sebuah hasil penelitian yang dilakukan Yale University Amerika kepada mahasiswanya yang lulus. Yale University menanyai mereka, apakah mereka punya mimpi? Yang menjawab punya mimpi hanya 33%. Dari 33% itu ditanya lagi, berapa yang menuliskan mimpinya, ternyata 33% saja. Duapuluh tahun kemudian dilakukan penelitian, mereka yang memiliki mimpi dan menuliskannya mampu mewujudkannya dan menjadi orang besar sementara yang tidak punya mimpi menjadi orang biasa saja.
Agar bisa mewujudkan mimpi, pelatihan Kubik Leadership menginspirasi pesertanya untuk kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Tentu ada resep-resep lainnya yang mereka berikan.
Ihwal kerja cerdas, <I>trainer</I> Kubik Leadership Farid Poniman menjelaskan, kita harus memahami dan mampu mengoptimalkan mesin kecerdasan yang kita miliki agar bisa bergerak cepat di lintasan “mimpi” kita. Menurut dia, mengadaptasi tipologi kepribadian Jung, ada empat jenis mesin kecerdasan manusia. Yakni, <I>Sensing, Thinking, Intuiting</I> dan <I>Feeling</I>; tergantung belahan otak mana yang paling dominan bekerja atau digunakan.
Mesin kecerdasan <I>Sensing</I> untuk belahan otak kiri bawah (limbik kiri), mesin kecerdasan <I>Thinking</I> untuk belahan otak kiri atas (neokorteks kiri), mesin kecerdasan <I>Intuiting</I> untuk belahan otak kanan atas (neokorteks kanan), mesin kecerdasan <I>Feeling</I> untuk belahan otak kanan bawah (limbik kanan). Dengan mengenal mesin-mesin kecerdasan maka kita akan mengetahui letak kekuatan dan kelemahan kita, sehingga kita dapat berperan secara tepat dalam menjalankan tugas-tugas.
Masih menurut Farid Poniman, setiap mesin kecerdasan memiliki orientasi berbeda. Tipe <I>Sensing</I> berorientasi pada “Harta”, <I>Thinking</i> pada “Tahta”, <I>Intuiting</I> pada “Kata” dan <I>Feeling</I> pada “Cinta”. Kubik Leadership menyebutnya sebagai 4 TA. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa mereka yang tergolong tipe <I>Sensing</i> akan lebih memilih mengejar “mimpi” yang berkaitan dengan kekayaan, sementara tipe <I>Thinking</I> lebih suka mengejar jabatan atau kedudukan.
Dari sekian jenis mesin kecerdasan itu, berdasarkan hasil tes –harus menjawab sejumlah pertanyaan tertulis untuk tahu mesin kecerdasan kita– rupanya saya termasuk tipe <I>Instink</I>. Tipe ini tergolong unik jika dibandingkan empat tipe yang “normal” tadi.
Jika keempat tipe tadi hanya dominan di satu sisi, tipe <I>Instink</I> mampu menggunakan keempat belahan otaknya dengan sama baiknya. Karenanya, tipe <I>Instink</I> berpotensi sukses “mengejar apa saja”. Namun, yang teristimewa dari tipe in, akan lebih sukses dan nyaman jika menempati “posisi kedua”, misalnya dengan menjadi wakil bupati!
Itu sekelumit cerita soal bermimpi. Syukur kalau Anda kemudian terinspirasi untuk punya mimpi. Dengarlah apa kata Sakichi Toyoda. Bapak pendiri perusahaan Toyota ini berujar, setiap orang perlu mengambil proyek besar paling tidak sekali dalam hidupnya dan membuat kontribusi yang positif dalam hidup ini.
Nah, sekarang, apa mimpi Anda?