Pekerja di Korsel Paling Kekurangan Liburan

Tabel Vacation-

Pernahkah Anda bertanya-tanya, kira-kira pekerja di negara mana yang paling kekurangan liburan? Mungkin Anda mengira pekerja di Jepang adalah pekerja paling kekurangan liburan, namun ternyata pekerja di Korea Selatan lah yang paling kekurangan liburan. Hal ini diungkapkan berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Expedia.

fashion-985556_640

Expedia, salah satu website perjalanan online terbesar di dunia, melakukan studi yang bertajuk “2015 Vacation Deprivation“. Dari studi yang dilakukan terhadap 9.273 pekerja dari 26 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan ini, ternyata para pekerja di Korea Selatan yang mendapatkan jatah libur sebanyak 15 hari, hanya dimanfaatkan sebanyak enam hari saja. Sedangkan para pekerja di Jepang yang mendapatkan jatah libur sebanyak 20 hari, hanya 12 hari yang dimanfaatkan.

Tabel Vacation-

 

Secara global, para pekerja mendapatkan jatah libur kurang dari 25 hari setiap tahunnya. Angka tersebut sudah termasuk dengan hari libur nasional. Dari jatah hari libur yang diberikan tersebut, hanya 20% yang tidak dipergunakan.

Hampir seluruh pekerja di Eropa, memanfaatkan jatah libur mereka dengan baik. Pekerja di Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Swedia, Denmark dan Finlandia, semuanya diberikan jatah libur sebanyak 30 hari.

Ternyata tidak semua jatah libur tersebut hilang. Secara global, 19% pekerja menyatakan bahwa mereka ‘menabung’ jatah liburan mereka. Dengan presentase yang sama, para pekerja berpendapat bahwa alasan mereka untuk tidak memanfaatkan jatah libur adalah karena waktu kerja yang terlalu sibuk. Sedangkan 17% diantaranya mengkhawatirkan masalah keuangan. Sebagian kecil, sebanyak 7%, mengungkapkan bahwa mereka takut di cap negatif oleh perusahaan karena mengambil semua jatah libur.

Menurut John Morrey, selaku Vice President dan General Manager Expedia.com, bagi sebagian pekerja liburan adalah hal yang baik. Namun bagi sebagian lainnya menganggap liburan adalah ‘guilty pleasure’. Beberapa pekerja juga khawatir atasan mereka tidak akan memberikan izin. “Padahal work-life balance adalah hal yang penting. Tidak hanya memberikan para pekerja kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar kantor, namun juga untuk mengisi ulang energi. Sehingga pekerja akan lebih produktif saat kembali bekerja,” ungkap Morrey. (*)