Nilai Hidup di Keraton Kasepuhan Cirebon


Oleh Rina Suci Handayani

Warisan nilai-nilai Sunan Gunung Jati terasa kental di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di balik bangunan tua ini tersimpan semangat pluralisme yang tetap terjaga hingga saat ini.

Sore hari di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, suasana celoteh anak-anak yang bermain bola di halamannya, terdengar riang. Kompleks keraton peninggalan Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit Sunan Gunung Jati) seluas sekitar 12 hektar itu berpusat di sebuah istana bernama Siti Inggil. Istana yang unik dan bercerita tentang nilai-nilai peninggalan Sunan Gunung Jati yang diabadikan oleh cicitnya.

Warna putih yang me-lambangkan kesucian dan motif megamendung menyambut setiap orang yang memandang Siti Inggil. Sebuah perpaduan nilai yang sangat dalam, yaitu bicara tentang pentingnya kesucian yang diwakili oleh warna putih. Megamendung mewakili nilai seorang pemimpin negara, bahwasanya pemimpin negara harus mengayomi dan melindungi rakyatnya.

Istana yang dibangun pada tahun 1529 ini menjadi saksi bisu kepemimpinan raja-raja di Cirebon pada abad ke-15. Arsitekturnya mengombinasikan unsur Islam, Hindu, China dan Eropa. Sebuah perpaduan yang menunjukkan toleransi tingkat tinggi.

Nilai-nilai toleransi itu benar-benar terasa ketika memasuki Siti Inggil dengan kaki telanjang. Lantai istana yang dingin dan berwarna merah menyalurkan rasa dingin ke seluruh tubuh. Perasaan takjub sejenak meliputi HC karena aura kebesaran para raja yang pernah bernaung di dalamnya seketika muncul. Tapi rupanya ada nilai yang jauh lebih dalam ketika masuk ke dalam ruang pertemuan raja dengan para menterinya. Nilai bernama toleransi.

“Sunan Gunung Jati mewarisi nilai toleransi di Cirebon, menyadari bahwa sangat penting menghargai keberagaman di tanah Cirebon ini,” ujar Satu, pemandu wisata yang menjelaskan sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon kepada HC. Keramik porselen dari Belanda dan China, menghiasi dinding di dalam ruang pertemuan raja yang luasnya sekitar 20 x 10 meter itu. Porselen berukuran 5×5 cm disusun sedemikian rupa hingga membentuk runtutan cerita tentang nabi-nabi yang disarikan dari Al Kitab. “Porselen ini dari Belanda, menceritakan tentang nabi-nabi yang kisahnya konon diambil dari kitab Perjanjian Lama,” tambah Satu.

Dari artefak itu, tersirat tingginya nilai toleransi yang diwariskan oleh Sunan Gunung Jati kepada keturunannya. “Saat itu Sultan Cirebon sudah menjalin hubungan dengan Belanda, China dan India. Mereka berlatar belakang berbedabeda, tapi raja selalu melindungi tamutamunya yang datang ke Cirebon,” kata Satu.

Gambar yang terlukis di porselen dari Belanda dan China itu mengambarkan kerukunan antar hubungan diplomasi dan perdagangan Keraton Kasepuhan Cirebon dengan mereka. Bahkan Bangsa Arab pun menjalin hubungan yang sangat dalam dengan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Di ruangan lain, sebuah kereta kencana bernama Singa Barong masih gagah berdiri. Singa Barong yang dibuat pada abad ke-15 itu dengan jelas menunjukkan kolaborasi budaya dan nilai-nilai dari berbagai bangsa. “Kereta ini terinspirasi dari awan dan langit, mega, juga perpaduan antara budaya Islam, Hindu, dan Eropa,” tutur Satu. Singa Barong merefleksikan bahwa keberagaman bukan halangan untuk menjalin kesatuan antar bangsa.

Uniknya, sebuah replika Singa Barong terpajang di sisi ruang lain. Namun, sungguh jauh berbeda kualitas ukiran dan teknologi kereta tersebut. Dengan bangga, Satu mengatakan bahwa orang di abad ke-15 sudah mengenal teknologi canggih dalam teknis perkeretaan. Menurutnya, itu semua karena ilmu dari keberagaman. Ini membuktikan bahwa keberagaman yang berkolaborasi dengan baik akan menciptakan suatu maha karya

Pengaruh besar Sunan Gunung Jati dengan pendekatan budaya dan toleransi mampu menyatukan banyak perbedaan di Cirebon. Kota ini pun dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi kerukunan antarumat. Bukan pemandangan aneh jika menemukan masjid dan gereja saling berhadapan. Menurut Satu, Sunan Gunung Jati sudah mencapai maqom teologis. Nilai-nilai yang diwariskannya adalah ketika manusia berhubungan dengan sesama manusia, tapi di antara manusia ada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai puncak tertinggi.

Sayangnya, kondisi Keraton Kasepuhan Cirebon agak kurang terawat karena kekurangan dana perawatan. Salah satu sumber dananya adalah sumbangan para pengunjung yang rela menyumbang di kotak-kotak sumbangan untuk keraton. Keberadaan kasepuhan menjadi bagian penting bagi sejarah masyarakat Cirebon. Identitas Cirebon yang unik bisa dinilai dari bahasa dan budayanya. Sedangkan motif megamendung adalah ikon yang menjadi kebanggaan masyarakat Cirebon.

Motif ini berbicara banyak hal. Mulai dari kepemimpinan, spiritualitas, kebangsaan, bahkan seni. Mengayomi dan melindungi masyarakat adalah hal yang utama dari filosofi megamendung. Pada zamannya, Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon memandang kegiatan rakyatnya dari pendoponya ke arah alun-alun Cirebon. Dekat dan melihat langsung kegiatan rakyatnya membangun rasa empati Sultan kepada rakyat.

Berkeliling dalam keraton kasepuhan serasa masuk ke dalam mesin waktu. Aura abad ke-15 masih terasa. Dan nilai-nilai kehidupan dari kasepuhan masih relevan untuk hari ini. Bila saja dalam keberagaman tidak dibangun toleransi dan persatuan, niscaya perpecahan yang terjadi. Memang perlu berjiwa besar untuk bisa menerima perbedaan dan Sunan Gunung Jati telah meninggalkan teladan dan jejaknya dalam membangun nilai toleransi.

Kepemimpinan yang mengayomi perbedaan, menurut Satu, menjadi kunci kejayaan Kesultanan Cirebon hingga bisa merangsek ke Banten, Jayakarta bahkan ke Asia. Namun, keterbukaan dan toleransi tidak menghapus prinsip utama Sunan Gunung Jati yang mengutamakan nilai spiritualitas dalam menjalani kehidupan di dunia. Maka, Cirebon pun dikenal sebagai gudangnya para guru spiritual.

Indahnya Keraton Kasepuhan Cirebon telah membuka cakrawala bahwa menyandingkan perbedaan akan membuahkan kekuatan. Kekuatan yang akan berdampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Rehat nan bermakna yang bertujuan mempelajari sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon ini selayaknya jadi pilihan relaksasi yang positif.