Musala di Mal, Salah Satu Sarana Life Balance

talkshowetnomark

Keseimbangan hidup (life balance) kini menjadi issu utama dalam aktivitas bisnis dan pekerjaan. Di kantor, misalnya, manajemen berupaya merumuskan sistem yang dapat memberi keseimbangan hidup bagi karyawan (work-life balance). Tak jarang kegiatan meeting yang membahas masalah-masalah penting dilakukan di tempat umum seperti pusat perbelanjaan (mal). Ruangan meeting yang nyaman dan menyediakan fasilitas kerja yang lengkap seperti infocus dan bebas koneksi internet, kini sudah banyak tersedia di berbagai mal.

Jika Anda mendatangi kafe-kafe di mal, lihatlah, berapa banyak orang yang berkutat dengan laptop atau I-Pad-nya sambil ditemani secangkir minuman dan makan cemilan? Tren ini menunjukkan adanya pergeseran pada cara pandang pengunjung mal. Jika dulu mal hanya dipandang sebagai tempat untuk berbelanja dan menikmati makanan, kini sebagian besar orang di kota-kota besar memanfaatkan mal untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

Aktivitas bekerja di mal bisa berlangsung berjam-jam, bahkan kadang seharian. Bagi umat muslim yang menjalankan sholat lima waktu, mal yang menyediakan musala (ruangan untuk sholat) menjadi pilihan pertama. Dengan demikian, seseorang tidak perlu pulang dulu ke rumah atau mencari masjid di lingkungan setempat untuk melakukan sholat. Berbelanja, makan, kerja, dan sholat bisa dilakukan sekaligus di mal.

Sayangnya, tidak semua mal memiliki musala. Kalaupun ada, sering kali tempatnya sulit dijangkau, sempit, pengap, dan jauh dari kesan bersih. Kondisi ini menarik minat ETNOMARK Consulting untuk melakukan studi ethnography mengenai musala di berbagai fasilitas umum premium. Direktur ETNOMARK Consulting, Amalia E. Maulana, mengemukakan, di antara semua fasilitas umum premium, mal yang dibangun pada kurun lima tahun terakhir termasuk yang paling memikirkan keberadaan musala.

Hasil Temuan

Tim ETNOMARK melihat secara langsung bahwa musala di mal modern sekarang ini bukan lagi ruangan sempit berukuran 2 x 3 meter persegi yang berada di bawah tangga darurat atau di ujung tempat parkir yang panas dan bau pengap. Fasilitas musala yang diberikan adalah ruangan nyaman yang didesain khusus untuk kegiatan ibadah pengunjung muslim. “Dua kata yang dapat menggambarkan musala tipe baru ini adalah Keren dan Nyaman,” ungkap Amalia dalam acara talkshow bertema Musala ‘Keren’ di Fasilitas Umum Premium: Pemborosan atau Keharusan?, di Jakarta, Kamis, 21 Juli.

“Lihat saja di pusat perbelanjaan mewah seperti Senayan City, Pondok Indah Mall, dan Gandaria City. Tiga mal besar ini bisa menjadi contoh keseriusan pengelola gedung untuk memberikan fasilitas umum yang memadai, membuat standar dan makna baru pada definisi musala ideal,” Amalia menambahkan.

Temuan lain, fX Lifestyle yang menawarkan tempat bersantai dan berkumpul kelompok muda yang punya selera tinggi dan modern, termasuk yang maju dalam memberikan fasilitas beribadah. “Walaupun relatif berukuran kecil, desain musala dibuat secara khusus, dipisahkan antara laki-laki dan wanita, juga dipisahkan antara karyawan dan konsumen. Sebagai brand yang ingin menampilkan citra modern, fX memberikan total layanan kepada pengunjung,” kata Amalia.

Berbeda dengan ‘musala keren’ yang keberadaannya sudah sesuai harapan pengunjung, tidak demikian dengan fasilitas umum premium lain seperti rumah sakit atau bandara udara. Amalia menyampaikan, di salah satu rumah sakit bertaraf internasional, tim ETNOMARK mendapatkan bahwa musala yang disediakan berada di luar gedung utama, dan dalam kondisi yang jauh di bawah nyaman. Sementara itu di bandara udara keadaannya lebih baik tetapi belum bisa dikatakan ideal. Amalia menegaskan, musala yang disediakan di bandara udara belum bisa dikategorikan sebagai ‘musala keren’. □ (Firdanianty)