Meninggalkan Indonesia Tanpa Meninggalkan Keindonesiaan

adi harsono

“Karena sering berpindah negara, saya sampai pernah mengalami krisis jati diri, dan mulai bertanya-tanya who am i?” ungkap Adi Harsono, Mantan Direktur Schlumberger International dan wirausaha di Singapura dalam sebuah diskusi panel di Unika Atmajaya. Memulai karirnya di Schlumberger sejak 1980, Adi adalah lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Fisika. Selama berkarir di perusahaan penyedia produk dan layanan pertambangan minyak dan gas tersebut, Adi sempat merasakan perpindahan tempat kerja, dua di antaranya adalah Kongo dan Perancis.

Karena perpindahan negara itulah akhirnya dia bingung menentukan identitas mana yang akan dia anut. Berbagai macam perbedaan budaya telah ia hadapi. Pernah suatu kali ia bertekad untuk mencari pasangan wanita Perancis dengan tujuan agar ia lebih mengenal budaya Perancis dan memastikan apakah budaya tersebut cocok untuknya. Namun, bagaimanapun ia mencoba akhirnya ia kembali pada sebuah keputusan bahwa ia harus menjadi orang Indonesia, menjiwai karakter dan budaya Indonesia.

Sekelumit kisah di atas mungkin dapat menjadi pelajaran bagi warga Indonesia yang ingin menetap sementara di luar negeri untuk keperluan sekolah atau bekerja. Banyak sekali lulusan luar negeri maupun orang yang berkarir di luar negeri, menjadi amat kritis terhadap Indonesia. Tidak salah memang, tetapi akan lebih baik lagi jika sikap kritis tersebut dibarengi dengan sikap optimistis untuk membangun Indonesia, bukan justru sebaliknya. Sikap pesimis yang muncul kerap dimanifestasikan dengan memandang rendah negara sendiri ketika situasi yang ditemuinya tak lebih baik dari situasi di negara tempat ia menuntut ilmu atau bekerja. Dampak buruknya adalah orang tersebut tidak ingin lagi bekerja dan tinggal di Indonesia, dan lebih parahnya lagi mereka malu mengaku sebagai orang Indonesia.

Menurut Hana Panggabean, Researcher di bidang International Talent, orang yang akan menempuh pendidikan di luar negeri seharusnya mendapat gemblengan terlebih dahulu sebelum berangkat. “Kalau di negara lain, orang yang akan pergi ke luar negeri terlebih dahulu mendapatkan pembekalan, di antaranya tentang pendalaman budaya dan karakteristik home country,” jelas Hana menjawab pertanyaan peserta seminar Tapak Tilas ke Puncak Karir di Atmajaya (23/06). Rupanya hal itu pulalah yang membuat para penimba ilmu di negeri orang menuai kegagalan ketika kembali pulang ke negara asalnya.

Pada kesempatan yang sama, Adi Harsono juga memaparkan fakta bahwa kuatnya identitas Indonesia yang kita miliki justru menjadi competitive advantage ketika berkarir di luar negeri. Misalnya saja di Schlumberger, yang dipilih menjadi engineer justru talent yang memiliki latar pendidikan dalam negeri. Pengetahuan tentang seluk beluk negara sendiri begitu mahal harganya di mata pebisnis internasional tersebut. Di akhir diskusi, suami dari Mari Elka Pangestu ini juga memaparkan,

“Menjunjung identitas kita sebagai bangsa Indonesia, kita harus percaya diri dan bisa mengembangkan kualitas diri dari generasi ke generasi dalam menghadapi perkembangan global.”

 

Keterangan foto:

Kiri-Kanan: Adi Harsono (Schlumberger), Dr. A.Y. Agung Nugroho (Wakil Rektor 1, Unika Atma Jaya), Hadi Kasim (CEO, Triputra Group) — di UNIKA Atma Jaya.

Tags: , ,