Melongok Sejarah Pecinan di Jakarta

Di daerah Petak Sembilan, Jakarta Barat, tersebar gedung-gedung bersejarah khas Tionghoa yang melebur ke dalam keberagaman masyarakat. Siapa pun yang berkunjung ke daerah ini dapat melihat kearifan nilai-nilai hidup yang tercermin dari bentuk bangunannya.

Warna merah tampak mendominasi jalan Kemenangan di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat, yang berseberangan dengan area Glodok. Yang menarik perhatian orang dari kawasan ini adalah gedung-gedung bersejarahnya. Vihara tua berusia lebih dari satu abad, gereja Katolik berarsitektur Cina, dan toko-toko yang menjual aneka barang tradisi China.

Di vihara ini aroma asap hio tercium hingga ke sudut ruangan. Kekhusyuan sangat terasa mana kala pengunjung berada di dalamnya. Kesucian ruang ibadah pun diperhatikan walaupun tidak semua orang datang untuk beribadah. Wisatawan, peneliti, jurnalis, dan siswa, banyak yang datang ke tempat ini untuk belajar sejarah Pecinan. Atau, sekadar menikmati arsitektur bergaya China.

HC melihat, dalam satu komplek Vihara Dharma Bhakti terdapat empat bangunan dengan fungsi masing-masing. Ketika HC ingin bertanya lebih dalam tentang tempat ini, dikatakan bahwa vihara yang dikelola oleh Yayasan Vihara Dharma Bhakti ini sudah kehilangan juru kunci. ”Yang tahu sejarah vihara ini sudah meninggal dunia,” kata A Keng, penjaga salah satu bangunan vihara.

Sayangnya, tidak ada penerus yang menguasai sejarahnya. A Keng sendiri tidak tahu banyak tentang sejarah Vihara Dharma Bhakti. Ia bertugas menjaga salah satu bangunan di sekitar situ dan pekerjaan itu pun ia warisi dari orang tuanya. ”Ruang ini untuk sembahyang kepada roh leluhur. Sedangkan ruang yang di sebelah itu untuk sembahyang melancarkan usaha,” kata pria separuh baya ini sambil menunjuk ruangan sembahyang di samping ruangan yang dijaganya. ”Bangunan lainnya saya tidak tahu fungsinya,” katanya polos.

Lampion merah menghiasi langit-langit ruangan sebagai lambang sinar yang menerangi di jalan kebaikan. Lilin merah raksasa menarik mata karena ukurannya yang tidak biasa. Tingginya mencapai sekitar 1,5 meter. Sosok Naga yang gagah dan berani menaungi atap seolah-olah sebagai penjaga dari marabahaya. Harap diketahui, bagi wisatawan yang berniat memasuki vihara, ada tata krama untuk mengambil foto ruangan sembahyang.

”Mbak, ruang ini ada pemiliknya. Silakan izin dulu sebelum mengambil foto,” tegur seseorang yang sedang sembahyang. HC sempat bingung karena merasa sudah minta izin kepada penjaga vihara. Rupanya, yang dimaksud orang tersebut dengan ’pemilik’ adalah para Dewa. Bagaimana caranya? ”Sederhana saja, bicara dalam hati dan katakan kepada para Dewa di ruangan ini untuk minta izin memotret,” tutur orang itu menjelaskan.

Pengalaman itu mengajarkan saya untuk selalu mengutamakan nilai toleransi dan kerukunan dalam bermasyarakat di manapun berada. Becak kotak menemani HC berkeliling Petak Sembilan. Selesai dari Vihara Dharma Bhakti, abang becak mengayuh menuju gereja Katolik Santa Maria De Fatima. Dulunya gereja ini adalah kelenteng. Bangunannya tampak terawat dengan baik. Warna merah dengan ornamen emas tetap dipertahankan sebagai ciri khas etnis China. Gereja ini mengingatkan saya kepada pendopo
Jawa. Luas dan lapang. Bedanya, ornamen China sangat kuat di bangunan gereja ini. Bentuk atapnya disebut Ian – Boe Heng (ekor burung Walet). Di bagian luar, singa batu menjaga di halamannya.

Dikutip dari artikel mengenai gereja Santa Maria De Fatima, salah satu keistimewaan gedung ini adalah adanya inskripsi dalam aksara Tionghoa. Di bagian bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya dahulu, yaitu kabupaten Nan An, karesidenan Quanzhou, provinsi Fujian. Inskripsi lain yang terdapat di bagian bubungan atap, yaitu Fu Shou, Kang, Ning, yang artinya rezeki, umur panjang, kesehatan dan ketentraman.

Spirit Katolik dan kultur China berdampingan dengan damai di sini. Patung Bunda Maria, Yesus Kristus dan lonceng gereja dibangun di halaman depan, menyambut siapa pun yang berkunjung ke gereja ini. Sayangnya, HC tidak bisa masuk ke dalam untuk melihat lebih jelas ornamen gedung bersejarah ini. Hari itu gereja ditutup untuk wisatawan karena sedang dalam perawatan. HC hanya puas sampai di halaman depan.

Warga Petak Sembilan sudah terbiasa dikunjungi. Tak heran penerimaan masyarakat terhadap pengunjung pun HC rasakan cukup baik. Semua warga mau bicara dengan pengunjung dan bercerita tentang yang mereka ketahui. Termasuk abang becak yang mengantar berkeliling tempat ini. ”Ada satu klenteng yang paling tua di sini, namanya Toasebio,” katanya memberitahu. Becak saya pun terkayuh menuju Vihara Toasebio yang jaraknya sekitar 20 meter dari gereja Santa Maria De Fatima.

Vihara Toasebio berukuran lebih kecil dari Vihara Dharma Bhakti. Vihara ini pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian kolonialisme Belanda terhadap etnis Tionghoa di Angke pada tahun 1740-an. Dewi Koan-Im (Welas Asih) beruntung dipersembahkan kepada vihara mungil dan terawat dengan baik ini. ”Kelenteng ini pernah dibakar Belanda dan dibangun lagi tahun 1751. Jadi anggaplah tahun 1751 adalah tahun berdirinya kelenteng ini,” kata pria penjaga vihara Toasebio yang enggan disebutkan namanya.

Ada 17 altar di Vihara ini, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Sama halnya dengan Vihara Dharma Bhakti, semua ornamen China ada di sini. Warna merah juga mendominasi dan asap hio menyelimuti seluruh ruangan persembahyangan. Ada doa-doa dikumandangkan dari sebuah rekaman. Tampak seorang ayah menggendong bayinya. Dengan sabar sang ayah memperdengarkan doa-doa tersebut kepada bayinya. Raut wajah bahagia tampak di wajah pria tersebut.

Gedung-gedung bersejarah di Petak Sembilan memang sarat aura spiritualitas. Kearifan masyarakatnya yang menjunjung tinggi kerukunan hidup dalam perbedaan, tetap terjaga hingga kini. Warga Petak Sembilan sadar bahwa wilayahnya menjadi tujuan pembelajaran sejarah dan wisata bagi siapa pun. Karena itu jalan Kemenangan selalu terbuka bagi setiap pengunjung yang datang ke sana. (Rina Suci Handayani)

Artikel ini dimuat di Majalah HC Edisi April 2010