Garuda Muda dan 10,000-Hour Rule

(Oleh : Yurizal Firdaus*)

Anak-anak muda selalu membuat kita kagum. Semangat dan daya juang mereka seperti ditakdirkan untuk selalu membuat sejarah. Senin malam kemarin, sejarah baru itulah yang sedang dicoba untuk ditulis ulang. Sekumpulan talenta muda berbakat yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, berjuang mencatatkan nama mereka dengan tinta emas dalam dunia sepakbola Indonesia. Agar nama mereka akan terus disebut dan dikenang sebagai ‘seorang juara’ bahkan oleh generasi yang hidup belasan tahun sesudahnya. Betapa tidak, jika separuh saja dari jumlah penduduk negeri ini adalah penggemar bola, maka kenangan 20 tahun lalu saat Indonesia terakhir kalinya meraih medali emas di Sea Games tahun 1991 di Manila, selalu diingat oleh ratusan juta orang bagaikan sebuah pesta yang tak pernah usai.

Di tengah carut marut pergantian rezim PSSI lama dengan yang baru, serta kompetisi dalam negeri yang tak kunjung berjalan , jajaran tim kepelatihan memulai tugas berat ini. Tiga bulan yang lalu mereka mulai mendifinisikan tujuan mereka, membentuk Timnas U23. Hampir seluruh bakat terbaik yang dipanggil untuk mengikuti seleksi pemain, memiliki satu masalah yang sama. Mereka semua adalah pemain muda berbakat tetapi sangat minim jam terbang. Atas nama target dan kemenangan yang selalu ingin dicapai, oleh klub-klub peserta kompetisi tertinggi di negeri ini, mereka jauh lebih memilih menggunakan pemain asing ataupun senior yang telah siap pakai.

Coach Rahmad Dharmawan (RD) menyadari betul kelemahan itu. Bukankah jam terbang tinggi yang melambungkan The Beattles sebagai band legendaris dunia hingga saat ini, dan itu pula yang membedakan mereka dengan band dunia lainnya. Berulangkali mereka berlatih ritme yang sama, menyempurnakan kunci dan komposisi hingga lebih dari 1,200 kali dan itu mereka lakukan secara terus menerus, dari hari kehari, selama tahun 1960-1964 saat masih menjadi band panggilan yang manggung dari kafe ke kafe di Hamburg. Konon, rumus yang sama berlaku bagi Bill Gates yang tanpa disadari pula olehnya telah menghabiskan lebih dari sepuluh ribu jam untuk mengutak-utik system programming komputer sejak usia 13 tahun. 10,000-Hour Rule, itulah ‘kunci mantra’ yang pada akhirnya membedakan mereka dengan miliaran penduduk bumi lainnya.

Prinsip itu pula yang digambarkan lewat riset dan dituangkan dalam sebuah buku best seller berjudul ‘Outliers’ oleh seorang Malcolm Gladwell persis 3 tahun yang lalu. Karenanya, sungguh bukan hal yang mengada-ada ketika RD menyuarakan dengan lantang bahwa uji coba pertandingan hingga 26 kali, adalah syarat mutlak yang harus diwujudkan oleh manajemen PSSI tanpa kecuali. ‘Sejarah itu direncanakan dan tidak pernah datang dengan tiba-tiba’  kalimat itu pula yang selalu disuarakan oleh Aji Santoso, peraih medali emas sepakbola 20 tahun silam kepada seluruh talenta muda ini agar dengan tekun terus mengikuti pelatihan panjang sejak 3 bulan yang lalu.

Senin malam kemarin, kepak sayap awal Garuda Muda memang belum berbuah manis. Kekalahan yang mereka alami pada laga adu penalti mungkin telah membuat mereka jatuh ke bumi. Sampai disini, pencapaian RD dan kedua puluh anak muda ini akan terus dikenang sebagai seorang pejuang dalam seluruh sisa hidup mereka. Hingga mereka mampu membuat pencapaian yang lebih tinggi lagi dalam perjalanan mereka ke depan.  Hingga datangnya generasi berikutnya yang juga ingin mencatatkan nama mereka dalam tinta emas sejarah.

Namun, jauh lebih penting adalah, kita meyakini bahwa mereka masih dapat terbang lebih tinggi, itu karena 10,000-Hour Rule pun belum pula terlampaui. Ya, memang hanya dengan cara itulah sukses didefinisikan dan seorang legenda bisa diciptakan. Teruslah berlatih dan selamat berjuang di level yang lebih tinggi anak-anak muda Indonesia !

 

* Praktisi HR dan pencinta sepakbola Indonesia. Saat ini tinggal dan bekerja di Canada. Selama 10 tahun belajar dan mendapatkan pengalaman praktis di dunia SDM dengan bekerja pada beberapa perusahaan di Indonesia antara lain Nestle, Nielsen dan Freeport.

Tags: , , ,