Perusahaan-perusahaan Go Green

computer-472016_640

Gerakan sadar lingkungan mulai dirasakan urgensinya. Inspirasi penerapan go green yang dilakukan oleh beberapa perusahaan di bawah ini, seperti The Body Shop Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk., PT Nokia Siemens Network Indonesia, dan Sofyan Hotel, merupakan contoh yang diharapkan mampu menginspirasi dan diikuti oleh lebih banyak perusahaan di Indonesia.

computer-472016_640

(Image:Pixabay)

The Body Shop Indonesia: Menuju Perilaku Ramah Lingkungan

”The  Body  Shop  Indonesia  ingin  menjadi  panutan  dan pemimpin  untuk  penerapan  green  behavior (perilaku ramah  lingkungan,  red),”  Rika  Anggraini,  Social  and Environmental Values Manager The Body Shop Indonesia (TBSI) mengungkapkan harapan pendiri The Body Shop. TBSI  membayangkan  bahwa  puluhan  tokonya  yang tersebar  di  kota-kota  besar  Indonesia  menjadi  pilihan pertama bagi customer yang menginginkan perilaku lebih hijau. “Para customer akan datang ke Body Shop dan itu bagian  dari  kontribusi  kami  kepada  masyarakat,”  kata Rika.

The Body Shop dikenal sebagai produsen kosmetik berbahan dasar alami, menentang keras uji coba pada binatang dan berkomitmen pada penyelamatan planet bumi. Warisan nilai ini terbentuk sejak perintis TBS, almarhumah Anita Roddick, yang seorang aktivis lingkungan mendirikan The Body Shop di London, Inggris.

Komitmen  kuat  The  Body  Shop  tampak  pada  tulisan besar yang terpampang di pintu masuk kantor pusat TBSI di  Gedung  Sentosa  Sektor  7  Bintaro,  Banten.  “Green Office Green Behavior,” demikian bunyi tulisan tersebut. Penegasan ramah lingkungan juga ditunjukkan dengan melarang  membawa  styrofoam seperti  tertulis  jelas di  pintu  masuknya.  Sementara  di  halaman  depan  dan samping terdapat 20 lebih lubang biopori.

Salah satu komitmen The Body Shop adalah menghemat energi dan peduli pada persediaan listrik maupun air. Contoh di kantor TBSI, setiap hari pengumuman rutin sebelum jam 12  siang  selalu  berkumandang.  ”Selamat  siang  penghuni gedung,  sebentar  lagi  kita  istirahat,  pastikan  komputer Anda mati dan pilah sampah Anda sesuai kategori,” Rika menirukan kalimat pengumuman harian itu. ”Itu setiap hari terus menerus dan bukan mesin. Siapapun boleh ngomong, bisa  atasan,  bawahan,  dan  lain-lain,” kata  Rika  seraya menambahkan,  ”di Body Shop pusat ada sekitar  40  karyawan tapi  total  seluruh karyawan  grup  kami di  gedung  ini  sekitar 350 orang.”

Program penghematan energi  khusus hari  Jumat  pernah dilakukan  TBSI,  yaitu dengan memanfaatkan jam  istirahat  Jumat yang  lebih  panjang. ”Selama 1,5 jam di hari Jumat  semua  listrik dimatikan.  Sekarang peraturan  baru  lagi, kalau  datang  kurang dari  jam  8.15  harus naik tangga ke lantai atas karena lift baru  beroperasi  jam  8.15. Sedangkan  pukul  17.30,  AC sudah  mati,”  ujar  Rika.  ”Kalau mau sampai malam memberitahu dulu,” tambahnya. Demi ketertiban agar  terbiasa  dengan  perilaku  ramah lingkungan,  para  pimpinan  TBSI  pun mendukungnya. ”Atasan pun kalau hanya ke lantai dua  naik tangga,” ungkap Rika.

Membangun  kultur  perilaku  ramah  lingkungan  perlu kesabaran dan kesinambungan. TBSI yang kerap menjadi referensi  perilaku  ramah  lingkungan  pun  mengakui, konsistensi dan komitmen adalah modal utamanya. Maka, bukan  menerapkan  sanksi  bila  ada  pelanggaran,  namun sekadar teguran yang manusiawi saja.

Pernah  suatu  waktu  ada  staf  yang  bawa  sarapan  bubur pakai styrofoam. Temannya ingin menegur, tapi merasa tidak enak. Ternyata dia lupa karena buru-buru beli sarapan bubur dan lupa peraturan di kantor ini,” Rika mengisahkan. ”Kami lebih memilih teguran manusiawi daripada sanksi. Perilaku ramah lingkungan perlu dilakukan dengan penuh kesadaran dan pemahaman. Jadi, siapapun yang masuk ke sini tahu bahwa kami punya nilai-nilai berperilaku hijau,” harap Rika. Masalah  lingkungan  adalah  masalah  semua  orang  dan tidak ada lagi orang yang bisa mengelak dari perubahan klim.

Menurut  Rika,  perusahaan  yang  mau  berkomitmen untuk  ramah  lingkungan  perlu  menumbuhkan  budaya hijau.  ”Membangun  kultur  ramah  lingkungan  akan membawa perusahaan menuju green. Ingatlah, kultur hijau akan  berhubungan  dengan  pilihan  teknologi,  keinginan berinvestasi, keinginan untuk memperbaiki produksi bersih, dan lain-lain apapun industrinya,” ujar Rika menjelaskan. (Rina Suci Handayani)

PT Unilever Indonesia Tbk.:Ciptakan Lingkungan Hijau lewat Program Kemasyarakatan

“Sekali Bilas”. Demikian bunyi tagline Molto Ultra, produk pelembut dan pengharum pakaian dari PT Unilever Indonesia Tbk. (ULI). Tagline tersebut tak sekadar “pemanis” produk, tetapi juga memiliki misi sosial. “Kami mengajak keluarga Indonesia untuk menggeser paradigma dalam menggunakan air  untuk  hemat  energi  dan  menyelamatkan  lingkungan,” kata Direktur Human Resources and Corporate Relations PT Unilever Indonesia Tbk., Josef Bataona.

Josef  menyatakan,  ULI  memiliki  komitmen  untuk  terus-menerus mengadakan perbaikan dalam pengelolaan dampak lingkungan,  selain  berupaya  mendukung  sasaran  jangka panjang  untuk  mengembangkan  bisnis  yang  langgeng. “Kami akan bekerja sama dalam kemitraan dengan pihak lain untuk menggalakkan kepeduliaan lingkungan, meningkatkan pemahaman akan masalah lingkungan dan menyebarluaskan budaya karya yang baik,” tuturnya.

Elemen  komunitas  masyarakat  ini,  diakui  Josef,  secara langsung  membawa  ke  dalam  program  corporate  social responsibility (CSR)  dari  hulu  ke  hilir  yang  menjadi  satu bagian  yang  tidak  terpisahkan  di  dalam  proses  bisnis perusahaan. “Misalnya, kami membina para petani kedelai hitam agar bisa menghasikan bahan baku berkualitas. Agar proses produksinya bisa berkelanjutan, kami ajarkan juga mereka untuk hemat air dan energi,” urai Josef.

Program  CSR  lingkungan  yang  pernah  digelar  ULI  di antaranya Green and Clean, Trashion, Green Festival, Jakarta Green Office, dan Jakarta Green School. Josef menjelaskan, Program Green and Clean diawali di Surabaya pada 2001 di  Kelurahan  Jambangan,  Surabaya.  “Tujuannya  adalah mengedukasi masyarakat dalam mengatasi permasalahan lingkungan  termasuk  masalah  sampah.  Pada  akhirnya, dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir,” katanya.

Saat ini, Green and Clean berkembang di enam kota besar, Jakarta,  Yogyakarta,  Bandung,  Makassar,  Medan,  dan Banjarmasin. Pendekatan program dilakukan dengan cara memberdayakan peran pemimpin di masyarakat (fasilitator lingkungan)  yang  kemudian  mengajak  warga  masyarakat untuk  berperan  aktif  dalam  mengelola  lingkungan  (kader lingkungan).  Josef  menjelaskan,  satu  fasilitator lingkungan memberikan pelatihan kepada 150 kader lingkungan  dari  satu  rukun  warga  (RW).

Sedangkan  satu  kader  lingkungan mendidik  masyarakat  sebanyak 10-20 keluarga. Program lain, Trashion (Trash Fashion),  diciptakan  untuk mengurangi dampak sampah kemasan  plastik  dengan cara  memberi  nilai  tambah. “Bareng  Hypermart  kami mengajak  masyarakat  untuk turut ambil bagian dalam upaya melestarikan  lingkungan  melalui penggunaan produk daur ulang plastik di dalam aktivitas mereka sehari-hari,” terang  Josef . Salah satu produk Trashion adalah tas belanja. Saat ini telah terbentuk 53 sentra Trashion dan melibatkan sekitar 500 ibu rumah tangga. Di Jakarta sendiri, kini sudah mencapai 1.000 pengusaha kecil Trashion.

Sementara  Green  Festival merupakan  kelanjutan  dari Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim Desember 2007 lalu dan menggandeng Kompas, FeMale Radio, MetroTV dan  PT  Pertamina  (Persero).  Sedangkan  Jakarta  Green Office adalah  ajang  kompetisi  antar  kelompok  karyawan perusahaan tentang kepedulian terhadap lingkungan kerja dalam gerakan penghematan energi listrik, air, kertas serta pengelolaan sampah. “Kami ciptakan dalam bentuk kompetisi agar  memacu  semangat  karyawan  untuk  memperbaiki lingkungan  kerjanya,”  kata  Nurulita  Novi  Arlaida,  Media Relations Manager ULI, menambahkan.

Dan, Jakarta Green School merupakan bagian dari program lingkungan  yang  bertujuan  mengedukasi  siswa  sekolah dimulai  dari  lingkungan  sekolah.  Program  ini  diikuti  oleh 33 SD dan 26 SMP di Jakarta. “Pemahaman dan kesadaran menjaga lingkungan perlu dibina sejak usia dini, sehingga permasalahan  lingkungan  yang  masih  kita  temui  saat ini dapat kita cegah sedini mungkin,” harap Josef sambil menambahkan,  karyawan  juga  dilibatkan  seperti  saat penanaman  12.500  tunas  kelapa  di  Pangandaran,  Jawa Barat, 2008 silam. (Anung Prabowo)

NSN Indonesia: Green untuk Pelanggan, Karyawan, dan Masyarakat

 

Awal  2009  silam,  150  karyawan  Nokia  Siemens  Network Indonesia (NSN) berjalan kaki melewati medan terjal dan menanjak sejauh enam kilometer menuju Taman Nasional Gunung Pangrango. Rombongan “orang kantoran” ini terlihat kelelahan setelah menanam 1.000 bibit pohon.

Head of HR NSN Indonesia, Irvandi Ferizal, menyatakan, aksi  ini  merupakan  salah  satu  program  corporate  social responsibility (CSR)  yang  rutin  dilakukan  bekerja  sama dengan  Green  Radio.  “Konsepnya  dinamakan  Program Adopsi  Pohon,  yakni  karyawan  diajak  untuk  mengadopsi beberapa pohon. Setiap pohon dihargai Rp 110 ribu, tapi karyawan hanya membayar satu pohon itu dengan harga Rp 10 ribu, sisanya Rp. 100 ribu sumbangan dari perusahaan,” katanya menjelaskan. Sementara untuk pemeliharaan pohon dilakukan oleh para petani setempat.

Akhir tahun lalu, tepatnya November 2009, NSN kembali melakukan program penghijauan dengan menanam 3.000 mangrove (bakau) di Taman Laut Nasional Bunaken, Sulawesi Utara.  Perusahaan  penyedia  jaringan  telekomunikasi  ini juga memberikan pelatihan kepada para nelayan setempat mengenai  lingkungan,  wirausaha,  dan  information  and communication  technology (ICT).  “Agar  mereka  mengerti tentang ICT dan kami berikan satu perangkat komputer di koperasi nelayan setempat,” kata Irvandi sambil menyebut konsep CSR yang dijalankan perusahaan harus melibatkan karyawan dan berbasis teknologi.

Program  CSR  yang  kini  masih  berjalan  adalah  program Green  Empowerment di  Tambora,  Jakarta  Barat. Rencananya, kawasan kumuh dan padat penduduk ini akan diperbaiki dengan menciptakan lingkungan sehat. “Sayang, beberapa waktu lalu di daerah tersebut terjadi kebakaran. Jadi programnya sempat terhenti,” sesal Irvandi. Program green yang  sudah  sempat  dilakukan  di  lokasi  ini  yaitu memberdayakan masyarakat untuk mendaur ulang sampah menjadi pupuk kompos dan membuat barang kerajinan.

Menariknya,  kata  Irvandi,  masyarakat  melakukan teleconference dengan  peraih  penghargaan  di  bidang lingkungan  hidup,  Yuyun  Ismawati,  di  Bali.  “Yuyun memberikan pelatihan tentang pengolahan pupuk kompos kepada  masyarakat  Tambora  melalui  teleconference,” ujarnya. Pada program Green Empowerment di Tambora ini, sedikitnya 18 karyawan internal menjadi sukarelawan dalam memberikan pelatihan mengenai ICT.

Program green juga diterapkan di lingkungan NSN sendiri. Antara  lain,  di  setiap  jendela  tidak  diberikan  gorden agar  memanfaatkan  sinar  matahari  sebagai  penerang. Perusahaan  menghemat  energi  listrik  dengan  mematikan lampu pada pukul 19.30 WIB. ”Saat ini kami sedang gencar kampanye hemat cetak kertas. Kami selalu informasikan ke karyawan melalui email, bahwa kalau nge-print per lembar itu menghabiskan biaya sekitar Rp 200, sedangkan kalau print warna sebesar Rp 1.300 per lembar,” urai Irvandi.

NSN  juga  fokus  terhadap  program  green kepada  para pelanggan.  Misalnya,  pertama,  perusahaan  mengurangi jumlah Base Transceiver  Station (BTS).  Pasalnya, dalam  sebuah  konsep  mobile network, BTS selalu  menghabiskan  energi listrik  yang  paling besar.  Kedua,  NSN berusaha  menciptakan produk  yang  hemat energi.  “Produk  kami lebih  save  energy hingga 35%  daripada  produk kompetitor,”  imbuhnya.  Dan ketiga,  perusahaan memilih  BTS yang  ramah lingkungan. Jadi, BTS tanpa listrik.

“Saat ini sudah ada BTS yang menggunakan bahan bakar solar. Bahkan, di Eropa sudah ada BTS yang menggunakan tenaga angin untuk operasionalnya,” tambah Irvandi. Irvandi memastikan, berbagai program green yang dijalankan perusahaan  selama  ini  mendapatkan  respons  positif  dari seluruh  karyawan.

“Dalam  survei  penilaian  karyawan terhadap  program  green naik  20%  dari  2008  sampai 2009,” katanya. Kunci sukses pelaksanaan program green, menurutnya, terletak pada proses sosialisasi ke karyawan. “Kami  selalu  mengomunikasikan  melalui  email  dengan bahasa yang dapat membangun kesadaran karyawan untuk melaksanakan program green, dibantu data-data pendukung agar karyawan dapat mengetahui gambarannya. Misalnya, satu pohon dapat memproduksi oksigen untuk kebutuhan dua orang,” ungkapnya. (Anung Prabowo)

Sofyan Hotel: Hotel Hijau dan Ramah Lingkungan

Sofyan  Hotel  telah  menerapkan  prinsip  hotel  hijau  yang ramah  lingkungan  karena sejalan dengan prinsip syariah,  “Salah  satu  prinsip  syariah adalah  kita  harus  menjadi rahmatan lil alamin, janganlah kamu  berbuat  kerusakan  di muka  bumi,”  ungkap  Riyanto Sofyan, Komisaris Utama Arva Corporation  yang  bergerak  di bidang properti dan perhotelan ini.

Riyanto menambahkan, World Tourism  Organizations (WTO) pada  2002  mencanangkan “The  International  Year  of Ecotourism”. WTO menyatakan ada dua hal penting industri yang  bergerak  dalam  sektor  pariwisata,  yakni  menjaga lingkungan dan hemat energi. “Dalam kerangka Hotel Syariah sebenarnya adalah salah satu produk wisata yang berkaitan dengan hal tersebut,” jelas Riyanto yang mendalami perhotelan dari L’Ecole Hotelier di Laussanne, Switzerland. “Sehingga, kami memberi warna tersendiri  dalam  nuansa  yang  orisinal,  yaitu  mengemas budaya  lokal  dalam  suasana  hotel  yang  dapat  diterima oleh semua wisatawan baik muslim maupun non-muslim,” tambahnya.

Langkah  yang  sudah  dilakukan  Sofyan  Hotel,  selain menampilkan salah satu nuansa Islami, agar menjadi hotel yang  ramah  lingkungan  yaitu  menghemat  penggunaan kertas, mengadakan waste management, dan hemat energi. “Kami  harus  memisahkan  sampah  dapur  yang  organik dan yang tidak bisa diurai atau non-organik. Dalam waste management, kami mengupayakan sisa pencucian berupa detergen dan sampah  dapur  tidak  merusak  drainase umum,”  papar  Riyanto  yang  telah menerapkan prinsip hotel syariah sejak 2002.

Langkah lainnya seperti menggunakan laundry bag yang tidak menggunakan bahan dari plastik, tetapi kantung yang  terbuat dari kain atau kantung tas yang ramah  lingkungan. Kepada pelanggan juga diberi himbauan untuk menghemat air dan menghemat penggunaan handuk yang tidak perlu dicuci setiap hari bila dirasa masih bersih.

“Terus  terang  langkah-langkah  menuju  green  hotel ini belum semuanya kami lakukan, tapi kami bertekad untuk melaksanakannya  dengan  target  minimal  mendapat akreditasi atau sertifikasi oleh badan otoritas yang diakui dunia mengenai green hotel seperti TUV dari Jerman. Sebagai hotel  yang  dikelola  memenuhi  prinsip-prinsip  syariah, seyogyanya “goes beyond” persyaratan-persyaratan untuk memenuhi green hotel,” imbuhnya.

Riyanto  menampik  dengan menjalankan hotel hijau berarti akan mengeluarkan dana yang cukup besar. “Go green is not a  cost,  it’s  an  investment, yang  dalam  jangka  panjang justru  akan  menguntungkan, baik perusahaan maupun alam sekitar kita,” kata penyandang gelar sarjana dengan spesialisasi teknik rekayasa computer dari lulusan  University  of  Miami, Amerika Serikat ini dan peraih MBA  dari  European  University, Belgium.

Riyanto  mengaku  sudah  menganggarkan  Rp  6  miliar capital expenditure untuk Hotel Sofyan Betawi dan Hotel Sofyan Tebet. Biaya ini untuk mengganti pemanas air yang sebelumnya  menggunakan  listrik  dengan  menggunakan solar sel dari sinar matahari. Serta mengganti sistem kamar dengan key tag system, jadi ketika tamu mengunci kamar dengan kartu maka semua listrik dalam ruangan padam.

Diakuinya, sosialisasi kepada karyawan sangat penting agar mempunyai kesadaran yang sama. Riyanto menyebutkan, bisnis  hotel  sangat  tergantung  pada  orang  karena  bisnis ini merupakan sektor jasa yang memberikan pelayanan 24 jam.  “Kami  mentraining  karyawan  agar  punya  kesadaran yang sama melalui attitude training dan skill-management training yang diadakan setiap bulan. Hal ini penting agar dapat  mengubah  pola  pikir  karyawan.  Dengan  demikian, hotel yang berdasarkan pada prinsip syariah yang mencakup eco friendly, clean and health hotel dapat terwujud,” tukas Riyanto. (Rudi Kuswanto)

Artikel ini dimuat pada Majalah HC, Februari 2010.