Menjaring Ide Karyawan Dukung Go Green

Banyak inspirasi tentang go green. Perusahaan otomotif General Motor Indonesia dan Astra Internasional telah melakukannya. Seperti apa penerapannya?

Suatu hari, petugas dari Nusa Kambangan, salah satu penjara terkenal di Indonesia, melakukan pendekatan kepada manajemen PT General Motor Autoworld Indonesia (GM Indonesia). Petugas ini rupanya ingin menggandeng GM Indonesia untuk menanam pohon  buah-buahan  di  sekitar  lapas  narkotika,  yang  kelak buahnya dapat dikonsumsi oleh para napi di situ.

“Tadinya  kami  sempat  bingung  karena  bayangan  kami  Nusa Kambangan  itu  serba  hijau.  Tapi  pembicaraan  dengan  pejabat  dari Departemen Kehutanan setempat, mereka mengeluhkan adanya pembalakan liar dan beberapa area memang terlihat gersang. Lalu kami menghimpun anggota club Chevrolet, karyawan, dan forum wartawan otomotif, untuk bersama-sama ke Nusa Kambangan melakukan gerakan penanaman 1.000 pohon,”  cerita  Debora  Amelia  Santoso,  Direktur  Marketing  dan  Public Relations GM Indonesia kepada HC.

Tidak perlu menunggu lama, program penghijauan ke ‘tempat paling angker’, Nusa Kambangan, berhasil digelar. “Kami membawa ‘Trio Macan’ untuk menghibur para napi, juga mengajak para petugas dan napi untuk makan siang bersama demi menjalin keakraban dengan mereka,” kenang Lia.

Kegiatan  yang  dilakukan  oleh  GM Indonesia  hanya  secuplik  dari banyaknya aktivitas penghijauan yang kini marak dijalankan oleh perusahaan-perusahaan.  Kisah  inspiratif  go green, juga disuguhkan oleh PT Astra Internasional  Tbk.  Menurut  F.X.  Sri Martono, Chief Corporate Organization &  Human  Capital  Development  PT Astra  International  Tbk.,  program  go green bisa  dilakukan  secara  mandiri atau  bekerja  sama  dengan  program lain, misalnya pembinaan usaha kecil-menengah (UKM).

Martono  mengisahkan  pengalaman inspiratif yang pernah dilakukan Astra. “Di  NTB  kami  membina  masyarakat sekitar  untuk  menanam  pohon mangga di daerah yang tandus. Kami ajarkan  cara  menanam,  merawat, dan  mengairinya  sehingga  pohon tersebut  akan  berbuah  tidak  hanya sekali  setahun.  Tidak  mudah,  namun sekarang mereka sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, bahkan bisa  membeli  kendaraan  motor  atau mobil  Astra,”  ujar  Martono  dengan bangga.

Menurutnya,  hubungan  yang  saling menguntungkan  juga  terjalin  di Surabaya. Salah satu cabang distribusi mobil di sana, cerita Martono, membina ibu-ibu  di  sekitar  kantor  untuk memanfaatkan  pekarangan  kosong di  rumahnya  agar  ditanami  tanaman apotik  hidup.  “Hasilnya,  seperti  jahe merah  dan  beberapa  tanaman  lain dibeli  oleh  cabang  tersebut  untuk disuguhkan  kepada  para  pelanggan,” imbuh Martono.

Baik  Martono  maupun  Amelia,  sama-sama  mengaku  tidak  mengalami kesulitan  saat  menggagas  maupun mengajak peran serta karyawan di dalam program go green. “Tidak ada  hambatan  dan  resistensi yang berarti. Beberapa tantangan bisa diatasi. Misalnya, bagaimana cabang  kecil  bisa  mendanai program  go  green di  tempatnya. Dalam hal ini kantor pusat memberi subsidi,” ungkap Martono.

Hal  lain  yang  dianggap  tantangan  bagi Martono adalah belum siapnya paradigma dan budaya setempat dengan gagasan go green. “Dalam  hal  ini  komunikasi  yang  edukatif serta  pembiasaan  melalui  keteladanan  dari para pimpinan menjadi solusinya. Selebihnya hanya  masalah  koordinasi  saja,” tambahnya.  “Sejauh  ini  tak  ada kendala,  karena  manajemen  pun sangat mendukung,” sambung Lia.

Sedangkan  cara  memfasilitasi ide-ide  karyawan  yang  ingin berkontribusi  untuk  program  go green,  Martono  menjelaskan,  di Astra setiap ide dari karyawan sangat dihargai.  Dia  memberi  gambaran, dalam  rangka  memanusiakan karyawan, sejak berdiri Astra sudah menyediakan  sarana  penuangan ide  atau  aspirasi,  bahkan  sampai direalisasikan  melalui  kegiatan sumbang saran dan gugus kendali mutu  atau  dikenal  dengan  istilah QCC  (quality  control  circle). Temanya bisa apa saja, termasuk yang terkait dengan go green.

“Setahun  sekali  kantor  pusat  mengadakan konvensi  ide  dan  inisatif  untuk  memberi penghargaan  kepada  mereka  sebagai  ajang tukar ilmu. Selain itu, juga merupakan sarana sambung  pikiran  dan  sambung  rasa  antara direksi dengan karyawan di lapangan. Tahun ini  kami  melakukan  konvensi  yang  ke-23,” kata Martono memaparkan.

GM Indonesia pun mencoba memfasiliasi ide-ide karyawan yang ingin berkontribusi untuk program go green. “Misalnya, kami mengadakan town  hall  meeting sebulan  sekali.  Di  situ karyawan  bebas  mengemukakan  ide.  Kapan saja  karyawan  dapat  berkomunikasi  dengan manajemen, lewat e-mail sekalipun,” ujar Lia sambil  menyebut  keterlibatan  karyawan  GM Indonesia  dibangun  atas  kesadaran  sendiri, karena sifatnya selalu voluntary dan tidak ada paksaan.

Menyamakan persepsi karyawan tentang go green, bagi GM Indonesia tidak terlalu sulit. Amelia beralasan, “GM sudah menerapkan go  green sejak  lama.  Karyawan  kami sudah  mengerti  ‘jiwa’  dari  program  ini, dan  siap  mendukung  kapan  pun  kami menyelenggarakannya.”

Sedangkan  Martono  me nyebutkan, untuk  me nyamakan  frekuensi  kar yawan  dilakukan edukasi formal seperti pelatihan bagi para penanggung jawab program. “Di dalamnya ada definisi dan contoh-contohnya. Bagi yang tidak bisa masuk kelas pelatihan, edukasi  dilakukan  pada  saat  briefing pagi  oleh  para pimpinan regu atau seksi. Sarana komunikasi seperti spanduk,  poster  dan  alat  peraga  dimaksimalkan untuk kampanye yang mudah dimengerti dan diingat. Dari atas sampai ke bawah satu bahasa. Satu spirit,” tambahnya.

Di mata Martono, karyawan Astra menyambut program go green dengan  antusias.  “Semuanya  ingin  menunjukkan tanggung jawab di bidang masing-masing. Tiap ada program terkait go green atau peduli lingkungan, termasuk membantu korban bencana alam, karyawan Astra selalu aktif melibatkan diri  dengan  koordinasi  yang  baik.  Dalam  program  satu karyawan satu pohon, misalnya, rata-rata karyawan menanam lebih dari satu pohon langka di pekarangan rumahnya,” ujar Martono memberi contoh.

Dia  menambahkan,  karyawan  Astra  bahkan  sudah mencapai tingkat kritis terhadap keadaan lingkungan kerja dan  lingkungan  sekitarnya.  Jika  ada  hal-hal  yang  tidak semestinya, akan segera berinisiatif melakukan segala yang diperlukan,  sesuai  kewenangannya.  Ia  memberi  contoh, penerapan  nilai-nilai  Catur  Dharma  bukan  hanya  ketika karyawan bekerja di kantor, tetapi di mana pun karyawan beraktivitas.

“Kami mau menjadi warga usaha dan warga negara yang baik, bahkan menjadi teladan. Sebagai contoh, dalam pemilihan karyawan teladan, salah satu kriterianya adalah peduli pada lingkungan  kerja  dan  lingkungan  tempat  tinggal.  Panitia akan menyurvei sampai ke lingkungan tempat tinggal, para tetangga sampai Ketua RT atau RW-nya,” ungkap Martono.Menjawab  apakah  yang  dilakukan  oleh  karyawan  Astra dilakukan  atas  kesadaran  sendiri  atau  karena  program perusahaan,  dengan  lugas  Martono  menjawab,  kedua-duanya. “Ada yang bersifat normatif, ada pula yang karena kesadaran. Kami percaya bahwa membangun kesadaran dan kerelaan itu bisa dilakukan, baik melalui edukasi, pelatihan, pembiasaan, dan terutama keteladanan,” katanya.

Melalui program go green, Martono berharap, Astra tetap jaya. “Bisnis dan prosesnya dibangun dalam keseimbangan. Peduli  bisnis,  peduli  masyarakat,  dan  peduli  kehidupan,” ujarnya menandaskan.  Rudi Kuswanto

Artikel ini dimuat pada Majalah HC, Februari 2010.