Mari, Bangun Kultur Hijau

Demi generasi penerus, sudah saatnya perusahaan dan manusia di dalamnya bergerak  melestarikan lingkungan. Bagaimana  perusahaan membangun sumber daya manusia yang peduli dan ramah lingkungan?

Planet Biru tempat bernaungnya miliaran manusia sudah terlalu tua untuk terus menerus diambil isinya. Air, tanaman, hewan, dan udara, sudah  makin  rendah  kualitasnya.  Dampak  kerusakan  lingkungan, polusi, dan bolongnya lapisan ozon sudah dirasakan oleh manusia, khususnya masyarakat kota besar. Lucunya, banjir sudah menjadi kalender tahunan dan akhirnya menjadi sesuatu yang biasa. Padahal, itu hanya salah satu indikasi tentang kerusakan sistem lingkungan.

Disadari atau tidak, manusia sudah mengeruk isi bumi untuk kepuasan dirinya dengan mengorbankan lingkungan. Berangkat dari tingkat kerusakan alam yang semakin  parah,  gunungan  sampah,  perubahan  iklim,  hingga  kita  menyadari bahwa alam sudah tidak sanggup lagi memenuhi ego manusia. Inilah saatnya untuk bergerak dan peduli kepada alam.

Program penghijauan, perilaku ramah lingkungan, hemat energi, dan berbagai program untuk bumi yang semakin tua ini sudah ramai digulirkan. Manusia melalui organisasi maupun perusahaan, bersama menjalin komitmen untuk memperbaiki alam.  Kabar  baiknya,  semenjak  Indonesia  menjadi  tuan  rumah  pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada tahun 2008, ratusan perusahaan mulai tergerak untuk membangun komitmen gerakan hijau atau go green.

Apa  pun  industrinya,  setiap  perusahaan  selayaknya  peduli  dengan  bumi  dan lingkungannya. Biasanya, gerakan hijau berada dalam pengawasan divisi corporate social responsibility (CSR). Dan, biasanya pula divisi CSR dibidani oleh departemen Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Resources (HR). Maka, bayangkanlah betapa strategis dan besar peran departemen HR untuk membangun gerakan hijau bagi perusahaannya.

Mengintip PT Astra International Tbk., seperti diungkapkan FX Sri Martono, Direktur Human Capital-nya, divisi HR berperan sebagai enabler atau promotor dalam menggagas, mendukung dan menyukseskan berbagai program gerakan hijau, baik yang bersifat sistemik maupun acara-acara khusus. “Semua program go green pasti melibatkan karyawan, baik terkait dengan penugasan, alokasi waktu, menggalang ide dan pemikiran, juga semangat dan komitmen. Dalam hal ini divisi HR merencanakan dan menjalankan manajemen kegiatan  serta perubahan  yang diperlukan,”  kata Martono kepada HC.

Bagi  Maria  T  Kurniawati, Direktur  HR  Danamon, gerakan hijau adalah isu yang sangat penting.  Faktor  efisiensi  perusahaan dan  generasi  penerus  menjadi pertimbangan Maria dalam mendukung penuh gerakan hijau di Danamon. “Kami menyebutnya  people,  process, dan place. “People artinya orang Danamon punya  mindset untuk  menggunakan apa  pun  itu  secukupnya  karena  kita perlu  ingat  generasi  selanjutnya.

Memang  belum  sepenuhnya  berhasil, tapi  kesadarannya  sudah  ada.  Place maksudnya  bagaimana  tempat bekerja bersih nyaman. Kalau ada file yang  tidak  perlu,  ya  dibuang  jangan ditumpuk di meja. Process, artinya kita meminimkan limbah. Contohnya, foto copy bolak-balik, keluar kantor matikan komputer  untuk  menghemat  energi,” urai Maria.

Program gerakan hijau bisa dirumuskan berdasarkan  pada  kontribusi  polusi yang  dikeluarkan  sebuah  produksi, gedung  perkantoran,  transportasi, dan lain-lain. TNT, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di industri jasa pengiriman dokumen dan barang merumuskan,  program  gerakan  hijau berdasarkan perhitungan emisi karbon.  “Program  go  green TNT  dinamakan program  Planet  Me yang  fokus  pada tiga area,” kata Eko Pramudito, Direktur HR TNT Indonesia.

Pertama,  penghitungan  karbon (Count  Carbon):  mengukur  dan memonitor tingkat CO2 yang dihasilkan perusahaan.  TNT  secara  global  telah memulai penghitungan dan pengawasan emisi  karbon  yang  dihasilkan  sejak 2004.  “Mengetahui  level  emisi  yang dikeluarkan  membantu  kami  untuk mengetahui aktivitas operasional yang paling  banyak  berkontribusi  terhadap pengeluaran  emisi  karbon  ini  yaitu kendaraan,  pesawat  serta  gedung,” Eko membeberkan tentang perumusan program Gerakan Hijau TNT Indonesia.

Kedua,  Eko  menambahkan,  dalam meningkatkan  efisiensi  CO2  yang dihasilkan  dari  aktivitas  operasional (Code  Orange),  TNT  bekerja  sama dengan pelanggan untuk bersama-sama mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan. Dan  ketiga,  mengajak  karyawan mengadopsi  sikap  ramah  lingkungan baik di tempat kerja maupun lingkungan tempat tinggal (Choose Orange). Dalam  program  Choose  Orange,  Eko mengatakan,  TNT  meliputi  group-led dan  inisiatif  lokal  yang  bertujuan untuk  menginspirasi  dan  melibatkan para karyawan dalam program Planet Me.  Teladan  dari  manajemen  dalam mengaplikasikan  program  Planet  Me merupakan  salah  satu  cara  untuk menyulut kesadaran berperilaku ramah lingkungan dan hemat energi di TNT.

Demi  mengurangi  kontribusi emisi  bahan  bakar  kendaraan, TNT  menyiasatinya  dengan  video conference untuk pertemuan penting. “TNT juga mengadakan kompetisi Drive Me  Challenge bagi  para  kurir  kami. Kompetisi  ini  akan  menilai  karyawan yang  dapat  menghemat  penggunaan bahan  bakar  paling  banyak  dan menerapkan cara berkendara yang baik dan aman,” ujar Eko.

Boleh-boleh  saja  divisi  HR  mengumandangkan program gerakan hijau dengan  gaya  presentasi  canggih  dan atraktif. Namun, sayang seribu sayang, tanpa  dukungan  jajaran  direksi  baik komitmen maupun dana, apa hasilnya? Bisa-bisa cuma gigit jari. The Body Shop Indonesia  (TBSI)  sungguh  beruntung mendapat  dukungan  dan  komitmen penuh dari CEO-nya yang menempatkan program gerakan hijau dalam salah satu nilai  perusahaan.

“Body  Shop  memiliki lima nilai, yaitu against animal testing, support  community  trade,  activate self esteem, defend human rights, dan protect  our  planetGo  green masuk ke  nilai  protect  our  planet,”  urai  Rika Anggraini,  Social  and  Environmental Values Manager TBSI yang HC temui di kantor TBSI di Gedung Sentosa Bintaro Sektor 7, Banten. “Salah satu nilai kami adalah integritas, jika dilihat di atas pintu masuk kantor The Body Shop ada tulisan Green Office Green  Behaviour.  Artinya,  harus  kita laksanakan.  Kita  sangat  beruntung karena  CEO  TBSI,  ibu  Susi  Utomo adalah anggota pengurus Greenpeace di Asia Tenggara. Beliau punya passion yang  tinggi  untuk  keberlangsungan integritas.  Tentu  saja  didukung termasuk dananya,” ungkap Rika.

Diakuinya  bahwa  keteladanan  sangat penting  dalam  membangun  nilai-nilai  perusahaan.  “Agar  SDM  sebuah perusahaan  menjadi  green,  perlu memastikan  bahwa  pemimpinnya adalah  orang-orang  yang  punya integritas dan komitmen tinggi.  Kalau  tidak, staff-nya  akan terseok-seok melaksanakan sedangkan  pemimpinnya tidak setuju,” Rika menyarankan.  Dia merasakan kemudahan dalam  melaksanakan program gerakan hijau di TBSI serta mendapat dukungan penuh dari divisi HR. “Menurut saya sangat mudah, tidak ada birokrasi yang berbelit. Kami memiliki  environmental  pannel yang terdiri dari Direktur HR, Keuangan, dan General Affair. Nah, pannel inilah yang menyetujui  program-program  yang kita  usulkan.  Kami  juga  mengajukan proposal  training  bagaimana kita  meningkatkan  pengetahuan berperilaku hijau,” Rika memaparkan.

Dukungan divisi HR yang Rika rasakan adalah dalam bentuk perizinan untuk melaksanakan program gerakan hijau di TBSI. TBSI  menyadari  bahwa  setiap  orang bertanggung jawab dengan perubahan iklim  yang  terjadi.  Karena  itu  TBSI melakukan  audit  energi  yang  dimulai awal  tahun  2010.  “Audit  energi  itu menghitung seberapa ideal kebutuhan energi  untuk  sebuah  gedung. Pertimbangannya  dari  luas  gedung dibanding  jumlah  orang,  siapa  tahu masih  banyak  ruangan  yang  tidak produktif  padahal  orangnya  cuma sedikit,” ungkap Rika.

Menurut  Rika,  hasil  dari  audit  energi dapat  membantu  TBSI  menentukan langkah selanjutnya. “Apakah gedung ini  perlu  memakai  energi  alternatif tenaga surya? Apakah jumlah air yang kita pakai terlalu banyak sehingga kita perlu  membuat  sumur  resapan  atau biopori lebih banyak. Tapi itu semua tidak bisa kita lakukan kalau kita tidak audit,” jelas Rika.

” Jenis lampu pun, k ami sudah  ramah lingkungan.  Apakah sebetulnya  kita  bisa  berhemat  AC? Kita  perlu  audit.  Memang  mahal, tapi  kita  sudah  lakukan  dan  Insya Allah bulan Maret 2010 selesai,” Rika memprediksikan.

Tantangan dalam mengimplementasikan program  yang  muncul  dari  internal maupun  eksternal  perusahaan tentu  ada.  Josef  Bataona,  Direktur HR  &  Corporate  Relations  Unilever Indonesia,  Tbk.  berbagi  strategi pelaksanaan  program-program  sosial kemasyarakatan  di  Unilever.  Josef menyatakan, semua program gerakan hijau  Unilever  disusun  berdasarkan empat prinsip.

Pertama, prinsip relevansi, maksudnya  program-program yang dikembangkan selaras  dengan  bisnis  perusahaan. Kedua,  prinsip  model,  yaitu  program percontohan  dikembangkan  terlebih dahulu sebelum direplikasi di daerah-daerah lain. Ketiga, prinsip kemitraan untuk  menggalang  dukungan  mitra-mitra  strategis  yang  memiliki  visi sama. Dan keempat, prinsip replikasi yakni kegiatan dan pendekatan yang  sukses  direplikasi  di wilayah-wilayah  lain.  “Di dalam  implementasinya,  kami memiliki tiga cara dalam upaya melibatkan  masyarakat,  yakni melalui: think big, start small, dan  move  fast,”  kata  Josef mengungkapkan.

Think big, dimaksudkan, perusahaan memulai  dengan  mimpi  besar yang  ingin  diraih  melalui  suatu program.  Kemudian,  start  small merupakan upaya menindaklanjuti dengan  langkah  kecil,  yaitu mengembangkan  dan  menerapkan model  di  suatu  proyek  percontohan. Sedangkan  move  fast,  langkah setelah  model  yang  dikembangkan terbukti dapat diterapkan di lapangan, sehingga  perusahaan  bergerak  cepat untuk  mereplikasi  model  tersebut  ke wilayah-wilayah  lain.  “Setelah  kami memiliki  dan  mengerjakan  model proyek  tersebut,  langkah  selanjutnya adalah  kami  akan  sharing ke  siapa saja  yang  membutuhkan,”  ujar  Josef berkomitmen.

Sejatinya,  semangat  gerakan  hijau dari perusahaan dalam rangka hemat energi, peduli dan ramah lingkungan akan  semakin  mantap  berjalan dengan  dukungan  masyarakat  dan negara.  Terkait  dengan  perusahaan yang  menjalankan  proses  produksi yang hemat energi dan limbah yang ramah  lingkungan,  negara  melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menelurkan Proper (Program Penilaian Peringkat  Kinerja  Perusahaan).  Ini merupakan  program  penghargaan bagi  perusahaan  yang  dinilai  ramah lingkungan.  Namun  sayang,  hingga batas  waktu  peliputan  dan  tulisan ini  dibuat,  majalah  HC  yang  telah mengirimkan permintaan wawancara tentang  Proper  melalui  surat elektronik dan telepon ke sekretariat Proper  di  KLH,  tidak  mendapatkan respons  pertemuan  atau  minimal jawaban  tertulis  sebagaimana  yang diharapkan.

Menanggapi  Proper  yang  diluncurkan KLH,  Berry  Nahdian  Forqan,  Direktur Eksekutif  WALHI  dan  Yuyun  Indradi, Forest  Campaigner  Greenpeace  SEA-Indonesia,  berpendapat  senada. ”Menurut  kami  seharusnya negara  tidak  melakukan  itu  karena bukan  pekerjaan  pemerintah.  Mereka punya  pekerjaan  yang  lebih  rumit, yaitu  jika  ada  yang  melanggar  harus ditangkap dan dicabut izinnya. Negara menjaga  agar  tidak  terjadi  praktik kerusakan  lingkungan,”  kata  Berry yang ditemui HC di kantor pusat Walhi di jalan Tegal Parang, Jakarta Selatan.

Berry berpendapat bahwa ranah negara adalah  menjaga  agar  korporasi  bisa melakukan  produksi  bersih  dengan membangun peraturan. ”Kami melihat Proper  sebagai  politik  pencitraan. Melanggengkan  praktik  kejahatan korporasi,”  ujarnya  seraya  memberi komentar,  ”tidak  transparan  dan komprehensif.  Apa  parameternya  dan seperti apa prosesnya, tidak jelas.”

Di tempat terpisah, Yuyun mengisahkan pertemuan  para  aktivis  lingkungan dengan KLH pada Oktober 2009 lalu. ”Dari  hasil  pertemuan  terakhir  kami antara  Menteri  KLH  dengan  NGO (non  government  organization),  kami mengusulkan  untuk  mencabut  Proper karena tidak jelas kriteria, mekanisme, dan  lain-lain,”  kata  Yuyun.  ”Tidak transparan,” tegas Yuyun yang bicara pada  HC  di  acara  Greenpeace  Media Conference awal Januari lalu.

Sedangkan  reaksi  KLH  terhadap pemintaan NGO untuk mencabut Proper adalah  standar:  ”KLH  akan  meninjau ulang,”  ujar  Yuyun.  Menyinggung tentang salah satu tujuan baik Proper untuk  membangun  kultur  SDM  yang ramah  lingkungan,  Yuyun  mewakili Greenpeace  dengan  tegas  menilai bahwa Proper tidak bertujuan menyulut SDM untuk bergaya hidup hijau. ”Yang terjadi  adalah,  Proper  itu  hanya sebagai peningkatan citra, perbaikan citra saja,” ujar Yuyun menandaskan.

Menanggapi pendapat rekan-rekan dari Walhi dan Greenpeace, Maria mewakili Danamon mengutarakan pendapatnya. ”Sebenarnya  bila  permulaan  sebagai pencitraan  perusahaan,  saya rasa  tidak  masalah.  Yang  penting adalah  kesinambungannya  karena otomatis  orang  akan  tahu  bila  itu hanya  sebatas  politik  pencitraan,” komentar Maria.  ”Menurut saya, kita realistis  saja.  Kita  mulai  saja  dari internal  dan  individu.  Makin  banyak individu  yang  sukarela  menjalankan perilaku  ramah  lingkungan,  maka akan berkesinambungan. Bila terpaksa menjalankannya, saya rasa tidak akan bertahan lama,” tambah Maria.

Terlepas dari komentar keras Berry dan Yuyun, mereka berdua menyambut baik inisiatif positif perusahaan-perusahaan yang  mulai  mendeklarasikan  dirinya menuju gerakan hijau. Menurut Berry, ada  tiga  parameter  bagi  perusahaan yang dianggap telah melakukan praktik kepedulian  terhadap  lingkungan. Pertama,  praktik  bisnis  perusahaan harus  menjamin  keselamatan  hidup manusia.  Baik  itu  keselamatan untuk  karyawan  maupun  orang  lain.

“Yang namanya program go green di perusahaan  seharusnya  dimulai  dari manajemen,  operasional,  sampai praktik bisnisnya,” jelasnya. Paramater  kedua,  praktik  bisnis perusahaan  mampu  menjamin produktivitas  masyarakat  setempat. Jadi,  perusahaan  tidak  merusak tatanan  produksi  masyarakat  yang sudah  ada.  Parameter  ketiga, perusahaan menjamin jasa pelayanan alam. “Perusahaan harus menghitung benar  daya  dukung  lingkungan eksplorasinya.  Misalnya,  di  satu daerah  eksplorasi  batu  bara  hanya bisa menghasilkan satu juta ton per tahun,  maka  perusahaan  tersebut tidak  boleh  melebihi  secara  paksa hasil  eksplorasinya,”  urai  Berry mencontohkan.

Berry  menyarankan,  perusahaan sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu  dengan  pakar  atau  lembaga lingkungan  sebelum  melaksanakan program  go  green.  Dan,  secara  luas perusahaan  melibatkan  stakeholder. “Justru  peran  SDM  sangat  penting. Bagaimana  caranya  membangun kemampuan,  kebiasaan,  dan  perilaku SDM agar peduli terhadap lingkungan,” kata  Berry  menjelaskan.  Apalagi, menurutnya,  kondisi  lingkungan saat  ini  sudah  dalam  status  “darurat ekologi”.  Jadi,  masyarakat  tidak hanya melakukan hal-hal kecil saja – seperti hemat air, listrik, dan kertas – melainkan sudah mulai ke arah yang lebih strategis dengan memilih energi terbarukan.

Peran  manusia  ibarat  kemudi  utama dalam  penyelamatan  planet  bumi. Siapa  tahu,  agenda  lingkungan abad  ini  yaitu  perubahan  iklim  bisa terimplementasi  dengan  baik  melalui pendidikan,  sosialisasi,  inspirasi,  dan beragam  program  gerakan  hijau  dari perusahaan tempat bekerja. Yang perlu ditanamkan, kultur SDM yang hemat  energi  dan  ramah  lingkungan adalah investasi jangka panjang bagi perusahaan,  organisasi  dan  bangsa.

Goal besar  program  go  green pasti untuk  mengurangi  global  warming yang  sudah  begitu  menguatirkan. Karena  itu  kita  harus  merawat  alam agar  seimbang,  serta  melestarikan sumber-sumber alam yang tak dapat diperbaharui (unrenewable resources),” harap  Debora  Amelia  Santosa  dari General Motors Indonesia.

Melihat  bumi  yang  kembali  hijau  dan subur adalah harapan dan kebahagiaan semua  orang.  Semoga  gerakan  hijau (go green) mampu membangun kultur berperilaku ‘hijau’ menuju penyelamatan  bumi dan isinya. Rina Suci Handayani

Artikel ini dimuat pada Majalah HC, Februari 2010.