Di Balik Sukses Ayam Bakar Mas Mono

Daya tarik Jakarta terbukti mampu membius siapa pun. Paling tidak, itu yang dirasakan oleh Agus Pramono, alias Mas Mono, ketika lulus dari sekolah menengah atas (SMA) di Madiun, Jawa Timur, 1994. Silau dengan keberhasilan salah satu keluarganya yang berhasil menaklukkan Jakarta, Mono muda bertekad merengkuh sukses yang sama di Ibu Kota. Berbekal ijazah SMA, Mono melamar ke sana ke mari untuk mimpi bisa bekerja di kantor yang mentereng. Tapi apa daya, ijazah SMA hanya menyisakan peluang bekerja menjadi Satpam atau Office Boy (OB).

Nasib baik rupanya berpihak pada Mono. Ia diterima menjadi OB di salah satu perusahaan swasta. Baginya ini merupakan anugerah yang besar setelah ia merasakan kerasnya kehidupan Jakarta dengan menjadi pekerja serabutan, mulai dari menjual parfum keliling hingga menjual apa saja. Mono kini sudah berdandan rapi karena sebagai OB dia diberikan pakaian seragam dengan suasana kantor yang nyaman. Ia tidak perlu lagi berpanas-panasan menyusuri jalanan. Apalagi ibunya pun merestui pekerjaan yang disandangnya waktu itu.

Profesi sebagai OB tidak membuat Mono minder. Sebaliknya, ia justru mensyukurinya. “Walau sebagai OB saya tetap bersyukur. Tanpa rekomendasi teman saya, tidak mungkin saya mendapatkan pekerjaan tersebut,” kata Mono mengenang masa lalunya saat ditemui HC belum lama ini. Selain bersyukur, Mono mengisi waktu senggangnya dengan mengasah kemampuan lain, semisal belajar mengetik maupun belajar mengerjakan pekerjaan kantor lainnya.

Namun, masa-masa enak Mono tidak berlangsung lama. Musibah terjadi ketika suatu ketika ia mendapat kabar buruk dari kampungnya bahwa bapaknya meninggal. Sebagai anak yang berbakti, keinginan untuk pulang melihat jasad ayahnya untuk terakhir kalinya jelas sangat kuat. Sayang, gajinya sebagai OB tidak cukup untuk ongkos pulang kampung. Toh, bagi Mono semua ada hikmahnya. Di tengah kegalauan tersebut, Mono merenung dan berpikir mencari jalan keluar. “Kalau begini caranya, saya tidak akan bisa membantu keluarga,” ucapnya. Mono mulai berhitung dengan umurnya yang semakin bertambah serta keinginan untuk membanggakan keluarga. Ia lalu memacu dirinya untuk segera melakukan terobosan-terobosan.

Keputusan ekstrim diambil Mono dengan cara keluar dari zona nyaman. Ia memutuskan mundur dari pekerjaannya dan memilih jalur wirausaha. Tidak muluk-muluk, langkah pertama adalah berdagang gorengan. Atas pilihannya ini Mono menjajakan gorengan mulai dari SD-SD, masuk ke perumahanperumahan, sekolah-sekolah sampai ngetem di depan Kampus Universitas Sahid, Jl. Dr. Soepomo, di seputar Pancoran, Jakarta Selatan. Hingga suatu saat terlintas ide untuk membuka warung nasi. Waktu itu ia melihat di seberang kampus sudah terisi oleh tukang bakso, gado-gado, siomay, dan lain-lain, namun belum ada yang membuka warung nasi. “Ketambahan dagangan gorengan saya kurang laris, bahkan sempat ditentang oleh ibu saya karena merasa malu anaknya jualan gorengan,” katanya lirih.

Lagi-lagi Mono tak patah arang, tentangan ibunya justru menjadi pecut baginya untuk membuktikan bahwa suatu hari ia akan berhasil dan dengan bangga bisa menunjukkan kepada keluarganya. Tekad Mono membuka warung nasi makin kuat. Sebagai pembeda dengan warung lain, dipilihlah menu spesial, ayam bakar. Dengan sepenuh hati Mono melayani setiap pelanggan yang datang. Rupanya, layanan prima warung Mono tanpa disadari menjadi senjata ampuh. Lama-kelamaan pelanggannya pun bertambah.

Walau masih di emperan kaki lima, peruntungan Mono dengan membuka ayam bakar terus berkembang pesat. Dari biasanya ia membawa 5 ekor ayam, meningkat menjadi 7-10 ekor ayam dalam sehari. “Tadinya saya hanya berdua dengan teman, tapi karena keteteran, saya mulai merekrut karyawan,” ujar Mono bersemangat. Melihat perkembangan warungnya, hati Mono membuncah. Toh, kesiapannya sebagai orang sukses masih harus belewati batu sandungan. Warungnya yang mulai ramai, mendadak kena gusur.

Tekad kuat Mono untuk tidak gampang menyerah, membantunya melewati masa-masa sulit. Mau tidak mau, ia harus segera mencari lokasi baru demi melanjutkan usahanya. Beruntung, pada 2003, melalui pelanggannya ia mendapat rujukan untuk membuka gerai pertama di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Mono menyadari, di balik suatu kejadian pasti tersimpan hikmah. Di mata Mono, penggusuran warungnya justru menjadi titik balik. “Kalau dulu harus bongkar pasang tenda untuk berjualan, sekarang bangunannya sudah permanen. Yang tadinya waktu bukanya terbatas, sekarang hari libur pun bisa buka sesuka hati,” imbuhnya.

Pada akhirnya, nasib baik memihak pada Mono. Di tempat baru, warung Mono berhasil bangkit dan malah lebih ramai. Di sini peran sang istri juga sangat membantu. Berbagai inovasi menu berhasil diciptakan oleh pasangan suami-istri ini. Selain ayam bakar, Mono membuka katering yang menunya sangat bervariasi. Jadi tidak hanya ayam bakar, namun ditambah paket komplit dengan tempe, capcay, sambal goreng dan buah. Bahkan segala jenis tumpeng juga dijual untuk mengembangkan usaha makanannya.

Mono yang menimba ilmu bisnis di Entrepreneur University mulai menerapkan jurus-jurus marketing modern. Ia mulai memanfaatkan berbagai saluran promosi, termasuk menyebarkan brosur kateringnya. Dasar nasib baik, umpan yang disebar Mono mendapat ‘ikan kakap’. Tak dinyana, esoknya TransTV langsung memesan 350 boks. Antara yakin dan tidak, Mono mengiyakan pesanan tersebut. Keraguan Mono tak lain karena rumah yang ditempatinya bersama istrinya hanya seukuran 2,5 x 3 meter persegi.

“Hati kecil saya berkata, terima saja pesanan tersebut karena kesempatan tidak datang dua kali. Saya senang bukan main. Terus terang, saya tidak berpikir apakah tempat saya mendukung atau tidak. Urusan nanti ya bagaimana nantilah,” kenang Mono meyakinkan diri sendiri. Terbukti, Mono berhasil dengan ‘ujian pesanan’ tersebut. Dengan kualitas layanan dan makanan yang dijaga, pemesanan kedua, ketiga, dan seterusnya mulai berdatangan. Alhasil, sampai sekarang TransTV merupakan pelanggan setianya.

Ayam bakar racikan Mono rupanya mulai menyebar di antara para penikmat kuliner. Warung Mono yang berubah menjadi gerai yang lebih representatif, mulai kebanjiran pengunjung. Tak jarang ia melihat banyak sekali pelanggan yang pergi lagi karena tidak kebagian tempat. Dengan niat tidak ingin mengecewakan pelanggan, Mono lantas kepikiran untuk membuka cabang yang lokasinya tak jauh dari gerai pertama. “Jujur, saya membuka cabang awalnya bukan untuk menambah omset, tapi karena kasihan saja melihat orang harus antre dan banyak yang tidak dapat tempat duduk,” ujarnya dengan logat Madiun yang kental.

Selain menjaga cita rasa yang khas, Mono selalu menekankan kenyamanan pelanggan. Salah satu pelanggannya, Eddy, kepada HC bertutur, “Pelayanannya bagus, malah kalau di Ayam Bakar Mas Mono ini kita seperti berada di restoran kelas atas.” Eddy mengaku salut dengan manajemen ABMM yang tertata rapi. “Cabangnya sudah banyak dan di masing-masing tempat pasti rasanya sama,” papar Eddy yang sudah pernah mencicipi menu ABMM di Cabang Tebet dan Ciledug yang memang dekat dengan tempat tinggalnya.

Sampai saat ini ABMM sudah memiliki 15 cabang di wilayah Jakarta, Depok dan sekitarnya. Dengan semakin berkembangnya usaha ABMM, Mono menyadari pentingnya pengelolaan sumber daya manusia (SDM). “Manajemen kami dibentuk tiga tahun lalu, begitu saya mengerti tentang enterpreneurship,” aku ayah dari seorang putri berusia 7 tahun ini. bercerita, sebelumnya tidak ada aturan baku dalam hal merekrut karyawan baru. Siapa pun boleh asal mau kerja. “Dulu siapa yang mau kerja silakan. Ada teman yang titip keponakan, tetangga, pelanggan, monggo, niat saya adalah membantu mereka untuk mendapat pekerjaan. Itu motivasi awal saya,” tuturnya.

Ketiadaan standar ini rupanya meminta ongkos yang lumayan berharga. Mono pernah menelan pengalaman pahit dengan SDM yang ia rekrut asalasalan. Misalnya, karyawannya pernah mencuri handphone pengunjung, bahkan ada yang merampok taksi, menggorok leher supirnya, akhirnya karyawan tersebut berhasil diringkus dan mendekam di penjara. “Lucunya saya sama sekali tidak tahu asal-usul karyawan yang bermasalah itu. Semua bermula karena kebebasan di awal. Data dan administrasi tidak pernah tersimpan dengan baik,” imbuhnya.

Tak ingin terulang kedua kali, Mono mulai buka-buka buku dan banyak belajar tentang perekrutan karyawan. Aturan pun diubah. Calon karyawan yang ingin melamar diharuskan membawa surat lamaran serta melalui proses interview dan training. “Saya percaya bahwa SDM merupakan salah satu kunci majunya usaha. Semakin maksimal SDM-nya, usahanya pun makin menguntungkan,” ungkapnya berteori.