Upah Rendah dan Upah Murah

paulusbambangws

 

Oleh : Paulus Bambang WS (www.paulusbambangws.com)

twitter @paulusBWS

FB : www.facebook.com/paulusbambangws

 

 

Upah adalah dimensi pertama yang selalu akan menjadi ‘strategic issues’ seperti yang disinyalir oleh Abraham Maslow dengan strata kebutuhan pertama manusia ini. Sedemikian pentingnya sehingga tatanan kebutuhan kedua sampai kelima Maslow harus bertumpu dengan aspek pertama ini yang mampu memuaskan manusia sebagai ‘human being’ tidak sekedar ‘human doing’.

Karena demikian strategisnya, maka tiga pihak yang berkepentingan yakni buruh, pengusaha dan pemerintah harus merumuskan ‘angka’ yang pas yang memuaskan ketiga pemangku kepentingan secara seimbang. Keseimbangan inilah yang harus selalu dicari titik temunya. Keseimbangan antara upah rendah dan tinggi yang menyangkut ‘besaran kuantitas’ secara absolut,  murah dan mahal yang menyangkut ‘besaran kualitas’ adalah dua hal utama yang harus disinkronisasikan dengan baik.

Pertama,  soal upah rendah sebagai lawan dari upah tinggi sebagai ‘besaran kuantitas’.

Upah rendah artinya upah kecil, sedikit dan minim. Rendah dikaitkan dengan bilangan absolut berapa nilai uang yang diterima dibandingkan dengan suatu besaran bilangan tertentu.  Di sini timbul perselisihan dalam menentukan berapa itu rendah, rendah dibandingkan dengan apa?

1. Dibandingkan dengan nilai jabatan lain dalam sebuah perusahaan – bagi kalangan HR yang masih sangat fanatik dengan penerapan ‘job value’ di dalam perusahaan atau ‘internal benchmarking’ ? ‘Kenapa ‘job saya’ dihargai hanya ‘sebegini’ dibandingkan ‘job dia’ ?’

2. Dibandingkan dengan jabatan yang sama di perusahaan lain yang didapat dari ‘salary survey’ atau ‘external benchmarking’? Ini adalah relatif terhadap sesama pekerja yang melakukan pekerjaan sama, sering kali malah tidak diperhitungkan besarnya perusahaan karena bobot pekerjaan yang sama. ‘Office boy di perusahaan manufaktur di Tanjung Priok dan perusahaan jasa di CBD Sudirman, apa sih bedanya sehingga upahnya beda ?’

3. Dibandingkan dengan upah minimum se regional, misalnya ASEAN. ‘Kenapa sih pramuwisma kita di Singapore atau Malaysia upahnya amat berbeda dengan pramuwisma di daerah elite Pondok Indah misalnya?’

4. Dibandingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari mulai dari istilah minimum dan layak. Apa itu minimum, apa itu layak? Di sini mulai diperdebatkan berapa komponen biaya hidup yang dianggap minimum atau layak. ‘Berapa sih komponen perhitungan yang pantas dimasukkan dalam upah untuk hidup pantas di Jakarta misalnya?’

5. Dibandingkan dengan status, apakah upah itu untuk yang lajang atau berkeluarga. ‘Kenapa mesti yang berkeluarga, kan awal kerja adalah lajang setelah berkeluarga mereka akan naik ke strata berikutnya di perusahaan? Tapi kalau harus menanggung keluarga berapa anak yang harus ditanggung perusahaan untuk membiayainya?’

Kalau sudah begini, besaran rendah dan tinggi menjadi sangat relatif? Pasti akan ada tuntutan untuk kenaikan absolut secara kontinyu sampai suatu titik yang dirasa buruh sebagai ‘upah wajar’ karena bisa membiayai kehidupan layak mereka. Upah akan naik melampaui angka inflasi dan angka peningkatan produktivitas selama negosiasi upah hanya didasarkan pada ‘besaran kuantitas’. Ini adalah prognosa yang tak boleh diabaikan.

Kedua, soal upah murah atau mahal sebagai ‘besaran kualitas’

Di sini dimensinya sudah berbeda, bukan lagi soal besaran rendah tinggi yang artinya nilai absolut tapi sudah dikaitkan dengan beberapa faktor lain yang berhubungan dengan kualitas kerja atau kinerja misalnya :

1. Murah artinya upah rendah atau tinggi sebagai input, menghasilkan kinerja  yang rendah atau tinggi sebagai output. Jadi dari aspek output/input maka murah mahal adalah soal seberapa banyak keluaran yang dihasilkan oleh satuan masukan.

Upah 4,4 juta sebulan per orang, menghasilkan pendapatan 440 juta per orang. Atau dalam rasio sederhana upah/ pendapatan hanya 1 persen. Kalau upahnya 2,2 juta tapi menghasilkan pendapatan hanya 110 juta, maka rasionya menjadi 2 persen. Secara matematik, lebih baik membayar buruh 4,4 juta dibandingkan dengan 2,2 juta dengan produktivitas yang separuhnya. Ini hanya gambaran yang sederhana, tentunya pendapatan bisa diganti dengan biaya operasi atau aspek lain tapi keluaran yang bisa menunjukkan upah itu murah atau mahal.

2. Murah atau mahal juga tidak hanya dikaitkan dengan besaran absolut tetapi juga kompleksitas pengelolaan SDM itu sendiri.

Misalnya, resto di perusahaan A dengan skala bisnis yang sama membutuhkan 50 tenaga kerja, sedangkan di perusahaan B membutuhkan 150 tenaga kerja. Di A misalnya,  ‘waiters’ tugasnya merangkap ‘cleaning service’, kasir, dapur bahkan tutup buka resto. Di B, ada bagian ‘waiters’, ada bagian dapur, ada bagian ‘cleaning service’, ada bagian satpam, ada bagian umum untuk tutup dan buka resto. Kalaupun gaji di A tiga kali lebih besar dibandingkan dengan B, tetap lebih murah karena mengelola 150 orang jauh lebih mahal karena adanya biaya lain lain yang tak dapat diduga sebelumnya.

3. Murah atau mahal, juga harus dilihat dari perspektif jangka panjang.

Kalau dengan gaji 4,4 juta bisa dikembangkan karakter dan kompetensinya lima kali lipat dalam 10 tahun mendatang akan lebih murah dibandingkan 2,2 juta yang hanya dikembangkan dua kali lipat saja. Faktor edukasi, pelatihan dan pengembangan menjadi sangat vital.

Kalau sudah begini, orang boleh memilih mau bekerja di perusahaan yang memberi 4,4 juta tapi dengan tuntutan produktivitas dan kualitas kerja 3 kali lipat atau mau lebih santai dengan 2,2 juta tanpa tuntutan yang memberatkan. Sayangnya banyak orang akan menuntut upah tinggi tidak ingin dikaitkan dengan produktivitas yang dianggap bukan urusan mereka.

Implikasi upah rendah tinggi dan murah mahal

Mengingat keduanya sebenarnya sama sekali tidak bertentangan, tidak berseberangan dan tidak antagonistis karena semuanya mengacu pada tujuan yang sama yakni perusahaan yang berdaya saing tinggi sehingga bisa ‘On Going Concern’ dan ‘Sustainable Growth’. Maka masing-masing pihak harus melakukan langkah tertentu agar sinergi ketiga pemangku kepentingan – buruh, pengusaha dan pemerintah – bersatu pada satu tujuan yang sama.

Golongan Buruh atau pekerja, pantas menuntut upah tinggi tapi harus mau dibarengi dengan menuntut kaumnya sendiri dengan produktivitas yang tinggi pula. Tinggi bukan soal mahal, mahal bukan selalu tinggi.

Demikian pula pengusaha, mau memilih  ‘capital intensive’ atau ‘labor intensive’ adalah pilihan soal daya saing di masa mendatang. Bagi pengusaha, upah secara total harus ‘murah’, kalau tidak perusahaan akan bangkrut karena tidak mampu bersaing. Murah sekali lagi bukan rendah dan rendah tidak selalu murah.

Bagi pemerintah, sebagai jembatan dua kepentingan itu haruslah mampu menyinergikan keduanya menjadi upah yang wajar yang bisa diterima kedua pihak, bukan soal rendah tinggi dan murah mahal tapi upah yang berdaya saing tinggi agar perusahaan semakin kompetitif.

Kalau buruh, pengusaha dan pemerintah bisa memiliki pemahaman bersama, niscaya Indonesia akan mampu bersaing di Asean Economic Community 2015 dam AFTA 2020 dengan menjadi pemain yang tangguh bukan penonton yang pasif. Saya yakin, kita bisa karena kita sama-sama membela Merah Putih di kancah perjuangan AEC dan AFTA mendatang. Mari bersinergi.

 

 

*) Paulus Bambang WS adalah penulis buku BUILT TO BLESS, LEAD TO BLESS LEADER, dan BALANCING YOUR LIFE. Good Morning Partner (GMP) dari Paulus Bambang WS hadir setiap hari Senin di PortalHR.com. Edisi-edisi sebelumnya dapat dibaca melalui link di bawah ini. Kami juga mengharapkan partisipasi pembaca melalui form komentar. Komentar-komentar menarik akan mendapatkan hadiah buku dari penulis.

Tags: ,