Peran HR dalam Menghadapi ‘Tantangan’ Bonus Akhir Tahun 2013

paulusbambangws

 

Oleh: Paulus Bambang WS (www.paulusbambangws.com)

twitter @paulusBWS

FB : www.facebook.com/paulusbambangws

 
Akhir tahun ini menjadi amat ‘menarik’ bagi praktisi HR mengingat banyak perusahaan yang akan mengalami hasil yang lebih ‘suram’ dibandingkan kinerja tahun lalu. Bahkan kalau melihat sebagian dari perusahaan publik di sektor pertambangan, pertanian dan manufaktur- kinerja tahun ini sangat ‘buruk’ dibandingkan tahun lalu dengan penurunan keuntungan di atas 10 %.

Belum lagi ditambah dengan kondisi ke kuartal 4 yang belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Artinya, bagi banyak sektor, harus siap siap menghadapi kenyataan pahit, setelah krisis Lehman 2008, yakni kinerja tahunan yang ‘menggelisahkan’.

Pertanyaannya, bagaimana team manajemen menyikapi hal tersebut?

Team penjualan dan pemasaran akan bekerja ekstra keras agar dapat mencapai targetnya masing-masing. Kompetisi akan semakin ketat karena pasar yang memang mengecil. Daya beli masyarakat dengan nilai tukar rupiah terhadap US $ di atas 11.000 menjadi semakin mengecil karena mau tidak mau produsen akan melakukan ‘adjustment’ harga barang.

Dua paradoks ini akan menjadi tantangan menarik para pemasar dan penjual. Di sisi biaya akan semakin naik, apalagi yang komponen impornya besar, di sisi pasar kondisinya semakin turun daya belinya. Akibatnya sudah bisa diduga, seperti yang sudah terjadi di pasar otomotif sejak kuartal 2 yakni perang diskon yang tak masuk di akal. Harga tetap dinaikkan tapi diskon semakin diperbesar. Kondisi ini membuat, margin keuntungan semakin mengecil, yang mengakibatkan ‘darah’ buat perusahaan semakin menipis.

Belum lagi kalau untuk meningkatkan penjualan perusahaan melakukan obral uang muka dan tenggang waktu pembayaran. Arus kas juga akan terganggu.

Team produksi akan kebingungan ketika pasar mengecil secara significant di atas 10 %. Proses produksi tidak bisa dinaik-turunkan seperti penjualan. Ada ‘heijunka’ yang artinya mempertahankan level produksi tertentu agar biaya dan proses tetap efisien. Bila ini langkah yang ditempuh, maka akan terjadi penumpukan persediaan pada masa tertentu lalu penghentian produksi pada hari tertentu dimulai dari pengurangan lembur dan pengurangan hari kerja.

Team keuangan akan bekerja keras karena bunga sudah mulai naik menjadi dua digit setelah BI rate naik menjadi 7,25 %. Nilai tukar rupiah dollar AS tak akan segera turun dari keseimbangan baru tahun ini di angka 11.000. Ini membuat mereka harus melakukan upaya khusus agar arus kas tetap mengalir dengan bunga seoptimal mungkin. Akan berakibat pada pengetatan pemberian diskon maupun pelonggaran hari piutang yang sering kali bertentangan dengan team penjualan yang membutuhkan kelonggaran akan kedua hal tersebut.

Akibatnya, tensi sinergi menjadi semakin turun yang kalau tidak disiasati dengan baik akan berakibat pada konflik internal.

Bagaimana dengan team HR?

Kalau team operational memiliki tantangan tersendiri dalam mempertahankan pangsa pasar dan arus kas masuk, team HR memiliki tantangan tersendiri juga agar masa sulit ini bisa dihadapi bersama dengan kekompakan yang lebih dari biasanya. Kondisi sulit ini akan membuat sinergi jadi berkurang, egoisme sektoral semakin meningkat, menghalalkan segala cara untuk mempertahankan Key Performance Indicatornya masing-masing makin besar dan pelanggaran SOP menjadi tidak terkendali.

Selain itu, moralitas dan motivasi karyawan akan semakin merosot ketika penjualan semakin sulit sedangkan program pengetatan ikat pinggang semakin kencang. Ini juga akan menyebabkan tension dalam hubungan antara pribadi semakin meningkat. Apalagi karyawan semakin suntuk karena dibayangi kemungkinan bonus akhir tahun yang jauh lebih kecil dari tahun lalu karena kinerja perusahaan yang juga menyusut.

HR sangat berperan menjadi fasilitator dan motivator agar suasana kerja kondusif dan karyawan tetap termotivasi untuk melakukan yang terbaik dan tidak hanya fokus dengan hasil jangka pendek yang mungkin sudah sulit ditolong. Karyawan harus terus dipacu untuk memikirkan jangka panjang perusahaan mengingat tahun depan sebagai tahun politik yang menyebabkan kegiatan bisnis juga akan terkena dampaknya.

Beberapa hal yang segera harus dilakukan agar semangat karyawan tetap terpompa walau bayangan kompensasi lebih suram:

1. Mulai komunikasikan kondisi outlook akhir tahun secara transparan. Jangan didramatisir terlalu pesimis tapi juga jangan memberi harapan semu. Awal Q4, Oktober, harus secara kontinyu dikomunikasikan kemungkinan terburuk kondisi perusahaan sampai akhir tahun.

2. Akselerasi program Cost Reduction dan Cost Management secara menyeluruh, dimulai dengan program yang dilakukan di strata atas dan bergulir ke strata bawah. Ingat dengan seksama, bahwa program pengetatan ikat pinggang harus diberi contoh dari atas. Petinggi jadi teladan.

3. Sisihkan penghematan semaksimal mungkin agar bonus akhir tahun tetap ‘ada’, walaupun dalam jumlah yang minimal kecuali benar-benar kondisi perusahaan menjadi sangat darurat. Komunikasikan secara tidak langsung kemungkinan terjadinya pengurangan ini sedini mungkin sehingga karyawan yang sudah memiliki rencana akhir tahun pada awal tahun ini bisa mengubahnya secepat mungkin.

4. Lakukan langkah kolektif agar perusahaan tidak diintrusi oleh orang luar yang berusaha mengacaukan harmosi yang sedang dibangun. Komunikasi bi-partit semakin ditingkatkan, komunikasi atasan bawahan semakin dipersering frekuensinya. Di sini peran setiap manajer adalah manajer HR menjadi sangat penting. Semua harus menjadi jendral lapangan yang menguasai medan peperangannya.

5. Lekatkan mata hati karyawan akan visi dan misi perusahaan bahwa kelanggengan dan kelangsungan usaha lebih penting daripada kesejahteraan sesaat. Pelatihan soal nilai nilai perusahaan dan penyegaran kembali akan budaya perusahaan menjadi amat vital.

Semoga, ketika kekompakan antara karyawan terjadi, sinergi antar fungsional terjadi, perusahaan bisa melewati tahun sulit ini dengan baik. 15 bulan ke depan memang masih belum menentu, itu sebabnya persiapan yang terburuk harus mulai dijalankan sembari mengharapkan yang terbaik terjadi.

Tags: ,