Mentoring System – Pitfalls of Mentoring System

paulusbambangws

 

Oleh: Paulus Bambang WS (www.paulusbambangws.com)

twitter @paulusBWS

FB : www.facebook.com/paulusbambangws

 

 

Dari singkatan TEMPO untuk program talent management 4.0 ini, M terletak di tengah- tengah, artinya di sinilah titik kritikal yang paling sulit harus dilalui agar program talent management ini berhasil. Talent Identification (T) dan Environment Readiness (E) relatif lebih mudah dilakukan karena merupakan kerja banyak orang, jadi kegalauan seseorang, ketidak semangatan satu orang, ketidak setujuan satu orang bisa dielimir dengan ‘crowd’ lain yang mendukungnya.

Namun, ‘moment of truth’ yang paling kritikal adalah di titik ini yakni pertemuan Mentor dan Mentee. Karena sifatnya yang ‘one on one’ maka keduanya harus memiliki paradigma yang sama dalam hal mentoring ini. Itu sebabnya saya menulis tiga hal penting yang harus dilakukan, tentunya masih dalam tatanan di kepala yakni aspek pengetahuan’, antara lain ‘role of a mentor’, ‘mentor homework’ dan ‘mentee homework’.

Pada prakteknya, akhirnya paradigma Mentor dan mentee secara individulah yang akan menentukan efektivitas program ini. Kalau ada mentor, yang hanya sekedar dipilih sebagai mentor walaupun sudah disertifikasi masih belum memiliki hati sebagai mentor, program ini akan jadi aktivitas tambahan tanpa ada efektivitas hasil yang diharapkan.

Setidaknya ada 5 pitfalls yang sering terjadi dalam mentoring ini :

1. Mentor berpendapat dia sukses dan dia mencapai hasil seperti hari ini, jabatan dan kompetensi, bukan karena bantuan atasan atau perusahaan. Dia merasa semua karena usahanya sendiri dan karena kerja keras dan kerja cerdasnya. Maka dalam mentoring ia akan melakukan beberapa kemungkinan dibawah ini.

a. Kikir Ilmu. Orang yang kikir ilmu akan ‘segan’ untuk membagikan ilmu dan pengetahuan yang didapat kepada orang lain secara ‘Cuma-Cuma’. Kalaupun membagi ia akan pakai jurus silat ‘Butongpay’ yang artinya membagi sekedarnya tapi ia masih menyimpan jurus yang paling mumpuni untuk dirinya sendiri.

b. Kuatir Posisi. Buat mentor yang begini, ilmunya adalah sarana proteksi terhadap jabatan dan pangkatnya. Kalau ia membagi ke anak buah yang lebih pintar maka ia takut akan kehilangan jabatan dan pangkatnya. Itu sebabnya ia akan melakukan program ini tapi sebenarnya ia gunakan untuk menakut nakuti atau justru memperlambat peningkatan kemampuan menteenya. Ia ciptakan sistem untuk melestarikannya posisinya yang ia pegang karena ia merasa tak ada tempat lain buat sang mentor berkarir.

c. Luka Batin. Mentor yang luka batin akan memperlakukan menteenya sebagai pesakitan dengan gaya mentoring yang menuju ke perploncoan. Kesempatan balas dendam secara halus dengan cara selalu memberi masukan negatif dan tugas berat tanpa ada maksud pengembangannya.

2. Sebaliknya ada juga mentor yang mengalami seperti point no 1, tapi justru dia berubah tak ingin mentee-nya mengalami seperti yang dia alami, maka ia akan melakukan mentoring dengan revolusi yang dramatis misalnya:

a. Melakukan mentoring dengan serius agar menteenya tidak usah mengalamai apa yang dia alami sebelumnya. Misalnya dia harus menunggu 3 tahun sebelum training A, Mentor akan mengusahakan agar menteenya mendapatkan training yang dimaksud harus lebih rendah dari yang ia dapat misalnya hanya satu tahun saja

b. Ia akan mendorong mentee-nya mempercepat mentoring agar bisa sesegera mungkin menggantikan dirinya agar dirinya bisa berkarir di tempat lain. Akibatnya dia akan mendorong, mengupayakan si mentee memperoleh, menarik, mendapat ilmunya sesegera mungkin.

c. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa kalau melatih dan mendorong orang lain ke arah yang lebih baik maka dirinya suatu saat akan mendapat hal yang sama. Alasan inilah yang mendorongnya melakukan yang terbaik buat mentee-nya. Siapa tahu mentee nya akan jadi presiden direktur perusahaan di masa depan sehingga sewaktu dia pensiun dia masih bisa berhubungan dengan perusahaan dalam banyak hal.

3. Dari aspek mentee, banyak mentee yang tidak mau sabar dengan program mentoring ini. Merasa menjadi orang hebat sehingga baru dua langkah sudah menuntut kenaikan gaji, golongan dan pangkat dengan ancaman akan keluar karena ada perusahaan lain yang mau. Ini akan berakibat pada hubungan yang tidak baik antara mentee dan mentornya. Mentee yang tidak sabar karena merasa sudah ‘mampu’ akan membuat program lanjutan menjadi berantakan.

4. Perusahaan merasa tidak ada mentee yang pantas untuk dijadikan talent. Kalau sudah begini maka akan sangat berat kondisinya. Kalau ini terjadi ada banyak hal fundamental yang harus dibenahi. Apalagi kalau dalam lima tahun terakhir jabatan strategis selalu datang dari luar, entah ‘drop drop’an dari kantor pusat atau rekrut dari luar. Kalau ini yang terjadi maka perlu redefinisi lagi kader ‘management traninee’ yang ada kalau perusahaan ini mau ‘mandiri’ dalam hal talent dan tidak tergantung pada kelompok yang lebih besar atau kantor pusatnya.

5. Ini yang paling fatal, program mentoring ini ada hanya untuk mengikuti ‘trend’ dan hanya jadi ‘program’ divisi atau direktorat Sumber Daya Manusia/Human Resources/Human Capital/Talent saja. Tanpa keterlibatan CEO dan CEO aktif sebagai Mentor untuk menjadi teladan maka program ini hanya ritual yang pasti tidak akan menghasilkan kader seperti yang diharapkan dari awal.

Itu sebabnya saya katakan M ini adalah titik kritis yang harus disiasati dengan seksama dan dipantau dengan cermat agar mentoring ini menjadi ‘napas’ dan ‘budaya’ perusahaan khususnya di tingkat pimpinan. Mentoring adalah ‘kerja ikhlas’, mentoring adalah ibadah yang akhirnya akan memberkati si mentor sendiri.

 

Pertanyaan :

1. Mana dari pitfalls ini yang sedang menghantui perusahaan Anda?

2. Adakah hal lain yang menurut anda membuat Anda gagal menerapkan program ini di kantor Anda?

 

*) Good Morning Partner dari Paulus Bambang WS hadir di PortalHR.com setiap Senin, dua minggu sekali. Tunggu edisi selanjutnya, Senin 18 Maret 2013. Edisi-edisi sebelumnya dapat dibaca melalui link di bawah ini. Kami juga mengharapkan partisipasi pembaca melalui form komentar. Komentar-komentar menarik akan mendapatkan hadiah buku dari penulis.

Tags: ,