Menghadapi CEO yang Tak Bisa Dijadikan Partner (Bag. 2)

GMP

Paulus Bambang WS

Kedua, (sebelumnya, lihat bagian pertama edisi pekan lalu), banyak CEO yang terjerat dengan paradigma keuntungan sebagai ‘the name of the game’ bukan ‘the score of the game’. Akibatnya ia berperilaku sangat pragmatis, kalau tidak mau disebut sangat short term, dan hanya memikirkan kondisi sesaat. Kalau ini dianggap yang membuat ia ‘jadi’ seperti sekarang ini, dalam arti ia menjadi CEO, maka tugas anda sebagai calon CEO Partner menjadi lebih berat.

‘Mind set’ kinerja keuangan yang menekankan keuntungan jangka pendek sering menimbulkan konflik bila sebagai HR anda menawarkan program dengan investasi yang memiliki ‘return’ jangka panjang atau bahkan sulit dikuantifikasi ‘return’-nya. Secara total HR bisa dianggap sebagai ‘COST CENTRE’. Ini adalah paradigma yang keliru yang harus anda jadikan musuh utama. Kalau anda juga sudah mulai ikut-ikutan berkonsep bahwa HR adalah COST CENTRE dalam arti bagian yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung, anda pun perlu diubah paradigmanya secara total.

HR bukanlah COST CENTRE, bidang ini adalah PROFIT GENERATOR atau PROFIT ACCELERATOR bagi perusahaan anda. Mengapa?

Karyawan adalah pembuat keuntungan bukan produk anda. Tanpa jasa dari karyawan dan dukungan pelayanan purna jual, produk sekualitas apapun tidak akan mampu bertahan di pasar. Artinya, komponen karyawan adalah komponen utama dalam menciptakan keuntungan. HR sebagai penyedia dan pengelola karyawan haruslah menjadi ‘driver’ bagi unit yang secara tradisional di kategorikan sebagai profit centre. Kalau sudah demikian konsepnya HR pasti mendatangkan ROI on HR yang paling tinggi dibandingkan ROI on other assets.

Untuk mengubah paradigma CEO yang masih berkutat pada pola pikir HR yang cost centre, para praktisi HR harus berperan sebagai CEO TRAINER. Artinya memberikan pelatihan dan edukasi secara sistimatis dan formalistik agar meilhat karyawan sebagai sumber biaya tapi sebagai sumber keuntungan.

CEO harus mampu melihat karyawan sebagai aset yang harus dipertahankan paling akhir dibandingkan dengan aset lain karena karyawanlah yang make the difference sebuah perusahaan itu masuk kategori bad, good, great atau bless. Tugas CHR (Chief HR) lah untuk membentuk citra karyawan dan HR function di benak pada CEO bukan sebagai unsur biaya tapi daya saing (Competitive Advantage) dan ‘Secret Weapon’ yang paling mumpuni.

Langkah yang harus anda lakukan secagai CEO TRAINER agar CEO melihat karyawan sebagai mitra suksesnya dimulai dari pelibatan CEO dalam program pengembangan karyawan melalui program komunikasi langsung atau tatap muka dengan para pencetak goal yang dianggap istimewa oleh CEO itu sendiri. Bisa dimulai dari program ‘sharing’ dalam bentuk diskusi informal di tempat yang informal. Lalu ditambah ladi dengan program komunikasi formal soal misi, visi dan diskusi soal strategi perusahaan. Lalu masuk lebih dalam dengan diskusi ide baru dari para high potentials. Kalau dari sarana ini timbul pendekatan baru dan ide bisnis baru maka CEO akan mulai berpikir lain. HR tidak sedang membicarakan soal substansi perut tapi memanfaatkan substansi pikiran yang menghasilkan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang.

Namanya saja CEO TRAINER, artinya program ini harus didesain dengan sistematis dan harus dilakukan tanpa mengenal lelah oleh para CHR. Pada mulanya akan banyak tentangan, namun kalau sudah sukses para CEO dan manajer lapangan akan sangat menikmati hal ini. Dalam jangka menengah ini bukan hanya membentuk citra HR yang bukan Cost Centre tapi citra HR yang menuju ke COMPETENCE CENTRE.

Kalau CEO sudah beranjak pandangan bahwa HR bukan Cost Centre tapi Competence Centre, maka ia akan mengajak HR menjadi bagian dari mitranya untuk pengembangan kompetensi perusahaan lainnya. Itu berarti HR sudah masuk selangkah lagi untuk menjadi CEO Partner.

Jadi kalau CEO anda sampai saat ini belum anda rasa menjadi mitra anda, selayaknya anda berkaca diri. Apakah anda pantas dijadikan mitra oleh mereka? Apakah Anda pantas diperkenalkan oleh para CEO sebagai ‘Great Partner’ atau bahkan ‘CEO Ad Interim”, kalau anda sendiri tidak memiliki kemampuan sebagai CEO Coach dengan ketrampilan manajemen strategik dan CEO Trainer dengan kemampuan change management. Kalau dua kompetensi dasar ini gagal anda perankan dalam bisnis anda, saya jamin anda tidak akan pernah menjadi CEO partner. Dan itulah yang berakibat anda menggangap CEO anda tak pantas menjadi CEO atau tak bisa dijadikan partner. Hanya orang gagal yang menuduh orang lain gagal. Orang yang sukses menuduh orang lain yang gagal dengan sebutan belum sukses. Anda kategori yang mana?

Penulis adalah Vice President Director PT United Tractors Tbk.
Author buku ‘Best Seller’: Built to Bless. The 10 Commandments to transform your Visionary Company – Built to last – to a Spiritual Legacy.

Tags: , ,