Membuat Karyawan Semakin Terdidik Agar Semakin Sejahtera

paulusbambangws

 

Oleh: Paulus Bambang WS (www.paulusbambangws.com)

twitter @paulusBWS

FB : www.facebook.com/paulusbambangws

 

Mendidik karyawan adalah suatu keniscayaan dan keharusan. Tak ada karyawan yang baru lulus dari sekolah formal siap kerja. Mereka siap didik, siap latih bagai kertas putih yang siap diarahkan menjadi karyawan dengan citra diri dan kompetensi seperti yang diharapkan oleh perusahaan.

Mendidik karyawan tentu memerlukan biaya besar. Pelatihan dan pengembangan ketrampilan perlu sarana, prasarana serta pelatih yang mumpuni. Semua memerlukan biaya di muka yang baru akan kembali ketika ilmu tadi diterapkan dan menghasilkan keluaran yang jauh lebih besar dibandingkan karyawan tanpa pelatihan.

Kalau pendidikan dan pelatihan (diklat) diadakan sekenanya, maka hasilnya karyawan dengan klasifikasi ‘medioker’ yang hanya bisa mengerjakan dengan tangan tapi tidak ada sentuhan ‘hati’ berupa semangat kerja yang meluap-luap. Apalagi kalau diklat ini hanya sebatas memperkenalkan cara mengoperasikan alat tanpa saja dengan tujuan sekedarnya yakni mengurangi kesalahan operasi.

Cara diklat seperti ini memang cepat, hanya satu minggu bahkan satu hari, langsung bisa praktek kerja. Artinya bisa langsung menghasilkan ‘return’ tanpa perlu membuang banyak enerji dan biaya pelatihan. Tapi jangka panjang, karyawan tidak memiliki nilai terhadap konsep kerja, konsep inovasi, konsep sinergi dan konsep kesatuan dalam perusahaan. Mereka adalah alat, robot dengan bentuk manusia karena dianggap lebih murah menggunakan jasa manusia dibandingkan investasi robot yang mahal, yang dibutuhkan tangan dan mata tanpa hati dan perasaannya. Mereka adalah sumber daya dan bukan manusia seutuhnya.

Ini cara pandang yang salah dan mengerikan, yang suatu saat akan menuai buah yang masam. Karyawan menjadi apatis, bekerja sekedarnya dan kalau menuju ke arah negatif menjadi karyawan yang pemberontak, garang, akan menghancurkan perusahaannya karena merasa tidak memiliki.

Ini yang sudah sering kita lihat akhir akhir ini, karyawan yang dengan mata merah, melotot, garang dan sadis membakar pabrik tempat mereka mengadu nasib tanpa ada rasa takut akan masa depan mereka. Tuntutan mereka harus dikabulkan atau pabrik tinggal puing belaka.

Siklus diklat dan kesejahteraan

Agar terhindar dari malapetaka ini, perusahaan harus mendidik karyawan menjadi karyawan yang cerdas, terdidik, terlatih sehingga memiliki ketrampilan melebihi karyawan pesaing. Semakin terdidik akan semakin produktif. Ini akan menahan pertambahan jumlah karyawan secara kuantitaif karena peningkatan kualitas. Kalau jumlah bisa dikurangi, artinya kesejahteraan karyawan bisa ditingkatkan. Semakin sedikit karyawan semakin besar kesejahteraan yang bisa dinikmati karyawan tersebut. Semakin karyawan sejahtera, semakin semangat mereka bekerja giat agar perusahaan semakin sejahtera pula. Ketika siklus ini bisa dipelihara dengan sistimatik, maka keduanya menjadi diuntungkan.

Kalau begitu, mendidik karyawan akan mempunyai putaran kesejahteraan (circle of prosperity) yang membuat perusahaan semakin kuat menghadapi gempuran pesaing.

1. Karyawan yang terdidik dan terlatih  ketat, akan meningkat kompetensinya. Selalu ada kolerasi progressif, bukan hanya positif, antara diklat dengan kompetensi walaupun secara matematis sering sulit ditentukan ‘return on training’.

2. Semakin tinggi kompetensinya, karyawan bisa melakukan tugas bukan sekedar ‘operation’, tapi juga ‘improvement’ dan lama kelamaan mampu melakukan ‘innovation’. Ini akan berakibat kuantitas bisa dihambat dengan kualitas yang semakin tinggi, dalam bahasa gampang disebut karyawan yang yang semakin produktif.

3. Semakin tinggi produktivitas, karyawan akan mampu dibayar lebih tinggi. Gaji dan upah tidak dibicarakan hanya dalam kerangka pemenuhan UMR atau KHM atau KHL tapi sudah pada tingkat upah Kesejahteraan Masa Depan (KMD). Ini tidak ditakuti pengusaha yang sudah menikmati keuntungan dimuka dibandingkan dengan peningkatan kesejahteraan yang selalu selangkah lebih lambat.

4. Ketika karyawan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan pesaing, walaupun biayanya lebih besar karena ‘total pay yang lebih baik’, akan menghasilkan multiplier effect yang lebih besar lagi, yakni kepuasaan pelanggan yang dilayani oleh karyawan yang puas. Bukti empiris dan historis menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan yang membuat karyawan puas dan termotivasi akan membuat produk menjadi lebih baik dan pelayanan pelanggan menjadi lebih baik pula.

5. Ketika pelanggan dilayani lebih baik, pelanggan akan menjadi loyal sehingga pangsa pasar menjadi meningkat. Ini akan meningkatkan persaingan.  Pesaing akan tidak tinggal diam, akan berupaya merebut kembali pasar yang hilang. Cara yang mudah adalah melakukan ‘serangan balasan’ yang kuat. Ketika persaingan ini terjadi, karyawan yang sudah produktif tadi akan semakin tertantang, bagaimana menghadapi pesaing ini dan termotivasi agar tetap unggul. Ini akan semakin mengakselerasi peningkatan kompetensi lapangan. Saya menyebutnya sebagai ‘acceleration of competence due to competitor action’. Kalau tidak cukup, perusahaan akan melakukan pelatihan kembali agar karyawan tetap selangkah lebih baik dibandingkan pesaing yang sedang melakukan gebrakan ini. Pelatihan semakin ditingkatkan agar pangsa pasar tidak goyang.

Kelima hal ini bisa terus berputar, meningkat kalau kita asumsikan karyawan bisa tetap loyal karena sudah dididik dengan baik dan diberi kesejahteraan yang ‘cukup’ atau bahkan ‘tinggi’, menurut kacamata perusahaan, tapi kenyataannya pemikiran itu tidak selalu tepat bahkan acapkali berbanding terbalik dengan nalar normal. Ini adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri, bahwa semakin bagus perusahaan mendidik karyawannya, semakin sering menghadapi fakta yang tak diinginkan terjadi.

1. Semakin bagus program pelatihan yang menghasilkan karyawan yang terdidik, akan semakin mudah kehilangan karyawan karena dibajak oleh perusahaan lain. Ini tantangan eksternal yang sangat sulit dilawan, karena pembajak akan menawarkan gaji tinggi diluar struktur untuk karyawan tertentu saja. Seberapa kuat akan akan menahan akhirnya akan runtuh juga. Nasehat saya, relakan saja kalau memang tak dapat ditahan dengan cara diluar perbaikan gaji. Adalah sangat berbahaya menahan karyawan yang mau keluar karena urusan gaji dengan meningkatkan gaji diluar standar.

2. Semakin karyawan terdidik, akan semakin meningkatkan aspirasi karyawan untuk maju. Ketika perusahaan tak mampu memberi kesempatan karir lebih cepat dibandingkan peningkatan kompetensi karyawan maka karyawan sendiri akan mencari kesempatan bekerja diluar, alias membajakkan diri. Ini bukan soal uang, tapi soal masa depan yang dianggap lebih baik. Tidak mudah menahan karyawan terdidik yang sudah pada tahap sedemikian ini. Saran saya, relakan saja karena memberi iming iming kesempatan dan peluang masa depan pada karyawan dalam yang tahu kondisi perusahaan bukanlah usaha yang mudah.

3. Semakin karyawan terdidik, mereka akan semakin kritis. Tidak mudah menjadi ‘yesman’. Ini menuntut pengelolaan SDM yang berbeda dibandingkan dengan karyawan yang ala kadarnya. Artinya SDM harus proaktif mengubah dirinya sendiri ketika ia memulai program diklat karyawan, kalau tidak SDM akan terkena badai yang diciptakannya sendiri. ini yang sering tidak disadari oleh praktisi SDM yang bisa menciptakan program pelatihan yang bagus tapi melupakan apa yang harus diberikan kepada karyawan yang sudah bagus tadi. Asumsi bahwa karyawan akan berhutang budi, adalah paradigma yang terlalu belebihan atau naif.

Guna mencegah hal tersebut, perlu perencanaan yang integratif dan sistimatis mulai saat merencanakan kebijakan pelatihan, melakukan progran pelatihan, dengan program peningkatan kesejahteraan dan kesempatan karir. Ini harus dideteksi sejak dini dan dipikirkan secara serius sejak awal. Kalau tidak, badai akan datang justru karena pelatihan yang apik mulai dilakukan. Sebaliknya kalau ya, artinya dilakukan perencanaan yang baik maka hasil akan berlipat kali ganda, perusahaan kompetitip, pangsa pasar definitif karena karyawan yang produktif dan manajemen yang antisipatif.

Saya yakin, kita semua bisa dan mau hal ini terjadi. Syaratnya didiklah karyawan menjadi yang terbaik, peliharalah karyawan yang terbaik dengan remunerasi yang terbaik dan kesempatan karir terbaik. Jangan berharap karyawan akan loyal, buatlah perencaan tingkat ‘turn over’ yang wajar, persiapkan terus karyawan baru untuk menanggulangi karyawan yang dibajak dan membajakkan diri.

Tanpa ini perusahaan akan membuang waktu dan biaya tanpa hasil yang nyata. Menyedihkan bukan ?

 

Tags: , ,