Lanskap Baru Pengelolaan SDM

paulusbambangws

 

Oleh : Paulus Bambang WS (www.paulusbambangws.com)

twitter @paulusBWS

FB : www.facebook.com/paulusbambangws

 

 

Dunia sudah, sekali lagi telah – yang artinya ‘past tense’ – berubah. Dan perubahan itu akan terus berubah lagi dengan kecepatan perubahan yang lebih besar lagi. Ketika kita menengok ke belakang melihat apa yang sudah berubah, baru berpikir sebentar lalu melihat ke depan lagi, semua sudah berubah lagi. Sehingga banyak yang bingung dan terkejut, karena perubahan itu membuat semua yang sudah kita lakukan di masa perubahan pertama sudah kelihatan menjadi usang dan menjadi resep kuno yang sudah tak bisa digunakan lagi.

Demikian pula dengan banyak prinsip buku soal SDM yang ditulis beberapa tahun lalu, apalagi buku teks yang diajarkan di bangku kuliah, sudah menjadi kerangka ‘usang’ yang sudah tidak ‘njamani’ lagi. Dalam platform internet dengan kecepatan superwifi seperti sekarang ini, praktek dasar pengelolaan SDM harus ditulis ulang dan ditulis ulang lagi dalam satuan waktu yang berbeda dibandingkan dengan jaman kita kuliah dulu. Prinsip dasar mungkin hanya berubah satu derajat di pusaran perubahan, tapi praktek dasar di hilir bisa memerlukan ‘adjustment’ yang cukup besar.

Kecepatan ini sayangnya tidak di-response cepat oleh para pemikir dan praktisi SDM yang masih terkungkung dengan praktek SDM masa lalu dengan format prinsip kuno yaitu majikan-buruh, superior-subordinate, employee-executive, exemp-nonexemp, asing-lokal, tetap-kontrak dan berbagai dikotomi status sosial hasil pemikiran filosuf jaman kolonial dulu.

Dunia sudah berubah Bung. Bangun. Jangan ngelindur. Jangan lupa bahwa kita sudah berada di lanskap baru. Dunia baru yang disebut dunia kontribusi dan kemitraan bukan sekedar dunia kerja dengan sistem kerja rodi seperti dulu.

Mari kita lihat, setidaknya ada tujuh prinsip dan praktek yang sudah diluluhlantahkan oleh perubahan jaman yang harus diresponi secara positif dan proaktif oleh semua orang yang disebut sebagai kontributor.

1. Tidak ada lagi rezim upah murah, kenaikan gaji dengan tingkat akselerasi tinggi sudah menjadi sesuatu gelombang yang sulit dibendung lagi sampai suatu batas kejenuhan antara penawaran dan permintaan yang mengerem upah menuju tingkat yang wajar.

2. Tidak ada lagi jaman buruh lemah, kekuatan buruh yang digalang oleh para serikat lokal dan internasional akan semakin meningkat. Apapun upaya pengusaha, harus menyikapinya dengan kenalaran dingin bukan dengan kekerasan panas yang akan membuat dua kutub ini menjadi saling bersebarangan, padahal seharusnya dilakukan kemitraan karena tujuannya sama yakni membuat perusahaan tempat buruh dan pengusaha berkarya semakin kompetitif.

3. Entah apa itu namanya, mau buruh, pekerja, karyawan, pegawai mereka bukan sumber daya tapi mereka adalah manusia. Mereka harus diperlakukan sebagai mitra kerja alias manusia kontributor yang memberi nilai tambah pada produk dan jasa bukan hanya memberi biaya tambah. Nilai tambah dan biaya tambah inilah yang harus disikapi bersama oleh para mitra.

4. Informasi yang terbuka luas di internet membuat social media adalah cara berkomunikasi yang sehari-hari akan semakin menjadi bagian dari globalisasi, itu sebabnya perusahaan harus mengadopsi gejala ini menjadi bagian strategi komunikasi internal. Masih banyak yang justru mengisolasi karyawan dari lingkungan global ini dengan dalih nanti karyawan terlalu banyak ‘bermain’ pas jam ‘kerja’. Kalau ini disikapi dengan positif keterbukaan informasi akan mempercepat peningkatan kompetensi karyawan juga khususnya mengenal dunia lain yang lebih kompetitif. Semakin tempurung dibuka maka karyawan tidak akan terkungkung dengan tempurungnya sendiri.

5. Otomatisasi dengan penggunaan teknologi informasi yang canggih adalah suatu keniscayaan, tak dapat dielakkan lagi agar bisa bersaing di kompetisi global. Di satu sisi ini akan mengerem penambahan jumlah karyawan secara fisik tapi di sisi lain akan meningkatkan kualitas karyawan yang dipekerjakan. Kuantitas dan kualitas ini akan berpengaruh terhadap biaya dan produktivitas. Itu sebabnya CEO harus melek teknologi agar bisa ‘survive’ bersaing di masa depan.

6. Kompetisi terbuka, baik dalam kerangka Asean Economic Community  2015 atau AFTA 2020 bersama mitra kerjasama regional lainnya, adalah suatu keniscayaan dan kebutuhan bersama. Kita tak dapat mengelak kalau ingin menjadi bagian dari dunia global yang sudah semakin tanpa sekat lagi. Kesiapan supra struktur dan infrastruktur termasuk SDM menjadi ‘priority action’ dari CEO dan Dir SDM agar perusahaan tidak menjadi penonton tapi pemain yang tangguh pada saatnya nanti. Kalau tidak siap, SDM handal akan hengkang ke perusahaan multinasional dan yang lokal hanya mendapat SDM kelas dua.

7. Prinsip remunerasi harus ditata ulang secara mendasar. Sistem bulanan karena kehadiran tanpa memperhatikan produktivitas dan kinerja akan sangat memberatkan perusahaan yang membuat perusahaan semakin gemuk biayanya. Harus ada kaitan yang sangat erat antara produktivitas dan remunerasi.

Masih banyak aspek lain yang perlu kita kaji secara mendalam dalam lanskap baru ini. Tapi waktunya sudah tidak lama lagi, keterbukaan dunia akan mengerus perusahaan yang masih mengelola SDM nya dengan cara lama.

Agar kita menjadi terdepan atau yang sudah di depan bisa tetap mempertahankan posisinya, maka CEO dan CHRO harus bergandengan tangan erat dengan Chief Business Function lain untuk menyusun prinsip dan praktek di era lanskap baru.

Selamat memasuki era baru.

 

*) Paulus Bambang WS adalah penulis buku BUILT TO BLESS, LEAD TO BLESS LEADER, dan BALANCING YOUR LIFE. Good Morning Partner (GMP) dari Paulus Bambang WS hadir setiap hari Senin di PortalHR.com. Edisi-edisi sebelumnya dapat dibaca melalui link di bawah ini. Kami juga mengharapkan partisipasi pembaca melalui form komentar. Komentar-komentar menarik akan mendapatkan hadiah buku dari penulis.

 

Tags: ,