Kelesuan Bisnis: Kontribusi HR dan SP dalam Menjaga Kelangsungan Bisnis

paulusbambangws

 

Oleh: Paulus Bambang WS (www.paulusbambangws.com)

twitter @paulusBWS

FB : www.facebook.com/paulusbambangws

 

 

 

Semester pertama sudah berlalu, hasilnya banyak yang sudah menunjukkan penurunan baik ‘Top Line, Middle Line dan Bottom line’. Nilai saham sudah terjungkal di bawah nilai buku sehingga banyak yang sudah layak untuk dikoreksi lagi. Belum terlihat pemulihan di kuartal ketiga ini. Bahkan hampir semua pengamat dan praktisi yang mengamini prediksi IMF bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan bertengger di 5,2 % yang artinya pertumbuhan marginal bagi kita yang sudah terbiasa dengan pertumbuhan di atas 6 persen.

CEO sudah mulai ancang-ancang untuk melakukan gerakan pengetatan ikat pinggang karena biaya menjadi lebih besar, diperparah lagi yang sangat bergantung pada impor dan yang terbelit hutang dalam $. Laporan dari team pemasaran dan penjualan, pasar menjadi mengecil. Lebih kritis lagi kalau akibat pasar yang mengecil ini, pesaing melakukan tindakan berjibaku dengan perang harga dengan asumsi menghabiskan persediaan secepatnya. Akibatnya, pangsa pasar mengecil dan untuk mengembalikan ke tingkat sebelumnya harus ada pengorbanan besar yakni perang diskon. Artinya lagi, tidak ada tambahan dana untuk menutupi kenaikan biaya yang meningkat akibat naiknya dollar.

Lalu, apa kontribusi praktisi HR dalam situasi warna kuning ini?

Pertama, HR harus segera bergerak dengan melakukan penghematan ‘opex’ agar tidak terjadi pengurangan karyawan. Ini menjadi tujuan pertama dan utama. Mempertahankan ‘employment’ adalah tugas mulia para team HR. Jangan sampai karyawan dijadikan sasaran penghematan pertama oleh CEO karena ini hal yang paling mudah yang sekaligus memberi dampak penghematan finansial jangka pendek yang cepat. Padahal bagi perusahaan, termasuk bagi HR, ini adalah cara yang paling berbahaya untuk kelangsungan usaha di kemudian hari karena kepercayaan karyawan menjadi berkurang kalau karyawan dianggap sebagai ‘liabilities’ yang selalu dijadikan korban pertama.

Karenanya, HR dan Serikat Pekerja harus bergandeng tangan untuk melakukan penghematan biaya secara bersama selain aspek karyawan. Pengurangan jam lembur, mengurangi biaya rekreasi karyawan, menunda ‘family day’, menunda acara kebersamaan lain disamping menghemat proses produksi secara revolusioner. Ini adalah strategi defensif dengan untuk mengurangi ‘middle line’.

Kedua, HR bersama serikat pekerja, memotivasi karyawan untuk mengencangkan ikat pinggang di keluarga masing masing. Edukasi agar karyawan merubah gaya hidupnya. Kurangi jajan di luar, kurangi jalan jalan, kurangi pengeluaran yang tidak perlu. Turunkan ‘life style’ agar memiliki dana lebih sebagai ‘cushion’ kalau ekonomi tambah jelek sehingga perusahaan tidak bisa membagi bonus yang sama seperti tahun yang silam. Ini harus disosialiasikan secara kontinyu. Karyawan harus sadar, kondisi ini akan berdampak pada ‘total income’ tahun ini, sehingga mereka harus merevisi pengeluaran mereka di akhir tahun. Karyawan harus membuat ‘outlook dua’ agar tidak terbelit hutang dan defisit neraca pendapatan di kemudian hari.

Ketiga, HR bersama Serikat pekerja, memotivasi seluruh karyawan untuk justru mengencangkan semangat untuk terjun ke pasar mengais rejeki di pelanggan secara ‘all out’. Kalau Serikat Pekerja juga berperan aktif untuk menjadi motivator dan inspirator karyawan untuk mencapai hasil maksimal di bagiannya, maka sinergi ini akan berdampak luas bagi perusahaan. Di sini akan terlihat bipartit yang sinergi atau bipartit yang egois karena masing masing hanya memperjuangkan agendanya sendiri.

Keempat, team HR dan Serikat Pekerja harus menangkal hasutan pihak luar yang justru memperkeruh suasana krisis ini dengan membawa krisis baru berupa tuntutan tuntutan yang tidak masuk akal. Tuntutan apa saja yang ingin mengacaukan kelangsungan usaha harus ditolak bersama. Perusahaan adalah rumah bersama antara manajemen dan serikat pekerja, jangan sampai diporakporandakan oleh orang luar yang hanya ingin memanfaatkan setiap kesempatan untuk meraih simpati jangka pendek. Di sini akan terlihat, keharmonisan di waktu susah.

Kalau suasana di dalam sudah kompak dan memiliki kesamaan visi dan misi, maka keharmonisan ini akan memperkuat karyawan bergerak bersama di luar untuk menaklukkan hati pelanggan. Kalau ini terjadi perusahaan ini akan paling akhir terkena dampak krisis. Kalau sudah begini, kelanggengan usaha tetap terjaga dan krisis telah memperkuat dan bukan memperlemah.

Tags: ,