Human Development Strategy: Gugus ‘Black Swan’ (Bag. 1)

GMP

Pengantar Penulis :
Salam jumpa kembali. Sudah lama saya tidak muncul karena sedang menyelesaikan naskah buku kedua saya yang berjudul ‘Lead to Bless Leader : Kepemimpinan yang menjamin perusahaan SEJAHTERA dan karyawan BAHAGIA’. Akhirnya sesuai jadwal buku tersebut dapat saya selesaikan pada ulang tahun emas saya, alias 50 tahun bulan ini. Rencananya grand launching akan diadakan tanggal 27 Mei 2009 di City Walk Sudirman.

Krisis yang masih menghantui banyak perusahaan membuat banyak CEO kalang kabut. Di satu sisi ingin tetap mempertahankan ‘employment’, sisi yang lain ingin mengurangi tenaga kerja karena permintaan yang menurun. Ukuran matematis menyebabkan manusia tak berbeda dengan sumber daya lain yang dianggap sebagai resource yang bisa ditambah dan dikurangi secara cepat. Kenyataannya, tidak semudah itu.

Pengurangan karyawan, berapapun kecilnya, selalu menyisakan luka batin yang mendalam. Yang terberat tentunya karyawan yang terpaksa harus di PHK, kondisi perekonomian yang masih gonjang-ganjing membuat alternatif lapangan kerja menjadi semakin sempit. Masa depan menjadi semakin tidak menentu. Di pihak lain, karyawan yang masih tersisapun terluka oleh goresan kecil, bahwa merekapun tidak memiliki kepastian kapan akan tetap bekerja. Giliran menunggu untuk mendapat perlakuan sama apalagi ketika mengamati produksi tidak semakin meningkat. Ini akan menorehkan luka yang semakin dalam. Kepercayaan akan masa depan dan harapan untuk bekerja menjadi semakin tipis.

Lebih rusak lagi kalau program ini, yang secara biaya sebenarnya tidak terlalu besar atau nyata penghematannnya di beberapa industri, membuat virus ketidakpercayaan pada manajemen secara keseluruhan. Ini akan membuat karyawan tidak mungkin bekerja sepenuh hati. Apalagi karyawan yang berpotensi baik dan memiliki kemampuan yang ‘laku’ di pasaran. Akan ada kecenderungan baru mereka melirik pasar kerja baru ketika kesempatan itu ada. Ini bukan sekedar untuk cari penghasilan yang lebih tinggi tapi mencari perusahaan yang dapat dipercaya. Lost of trust adalah virus yang amat berbahaya, jauh lebih berbahaya dari H1N1.

Sebagai mitra CEO, sikap ini harus dicermati secara terinci oleh para profesional HR. Penghematan karena pengurangan karyawan harus dilihat secara komprehensif karena kemungkin besar terjadi pemborosan dalam jangka panjang kalau terjadi distrust.

Padahal masih banyak cara lain yang bisa dilakukan, dan ini harus diupayakan secara sunggguh-sungguh sampai pada satu titik yang secara rasional sudah tidak mungkin lagi. Misalnya pengembangan karyawan dalam bentuk retraining dan newtraining untuk mencari solusi baru pada bisnis yang sedang dikerjakan.

Retraining digunakan untuk ‘sharpen the saw’, tidak harus melakukan penambahan biaya. Menggunakan waktu yang ada dengan mengajarkan kembali pokok penting pada ketrampilan teknis dan non teknis yang tidak sempat diasah kembali ketika kondisi pasar sedang ‘booming’ seperti awal tahun 2008 yang lalu.

New training dengan melibatkan karyawan antar sektoral dan fungsi untuk menyusun strategi baru dalam pemasaran dan produksi agar bisa memenangkan persaingan di tengah suilitnya mendapat pelanggan baru dengan pendekatan lama.

Cara ini memang memerlukan ‘political will’ yang kuat dari CEO. Membebaskan karyawan dari pekerjaan rutin dan membentuk gugus tugas ‘black swan’ untuk suatu project tertentu dan harus diselesaikan pada waktu tertentu dengan tujuan yang amat spesifik dan jelas. Misalnya gugus tugas penghematan biaya sebesar 10 % di lini gudang yang dilakukan oleh team pemasaran dan HR, penghematan sebesar 15 % di pembelian bahan baku oleh kelompok tim teknologi informasi, penghematan sebesar 20 % di logistik oleh team penelitian dan pengembangan, peningkatan pangsa pasar sebesar 20 % dengan mencari pasar baru dari produk lama oleh tim rekayasa dan akunting, peningkatan penjualan sebesar 10 % di pasar lama dengan produk atau solusi baru yang merupakan package dari sekumpulan produk lama oleh tim produksi dan human resources.

Ketika CEO dan CHR langsung terjun untuk memotivasi gugus tugas yang mungkin dikatakan ‘aneh’ pada mulanya, akan tercengang hasilnya. Karena pada dasarnya manusia bisa di’stretch’ secara baik dan diberi kesempatan untuk berpikir ‘out of the box’ maka ide baru yang terbentuk dapat membuat sang pemimpin geleng kepala. Tidak masuk akal atau pendekatan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Gaya ini akan memunculkan inovasi proses bisnis, solusi bisnis dan bahkan bisnis baru yang tak kalah cemerlangnya dibandingkan dengan yang biasa. Ide dari staf akunting yang bergabung dengan staf general affairs akan menghasilkan usulan teknik penjualan ‘cost/ton’ sebagai ganti menjual ban dengan cara biasa yang akhirnya bermuara pada price war. Solusi baru yang ditawarkan oleh staf kasir ketika bertemu dengan pelanggan lama atau baru, dapat membuat pakar pemasaran akan kebingungan karena ternyata mereka mampu berpikir yang non linear dan tidak sesuai pakem. Padahal ini bukan soal aneh, banyak staf bidang lain mampu membawa cara berpikirnya masing-masing ke fungsi baru. Pendekatannya menjadi tidak kontinyu, artinya discontinuity dalam strategi baru yang mungkin justru melahirkan strategi baru pada produk dan proses yang ada.

Ini adalah cara Human Development Strategy yang menghancurkan arogansi tembok kompetensi fungsional. Sampai tahap tertentu, konsep bisnis dan solusi serta pemasaran harus ditimbulkan oleh karyawan yang tidak terlibat secara langsung dengan bidang itu. Teknik ini akan memunculkan strategi yang non linear dan inovatif. Akan muncul strategy ‘black swan’ yang paling ditakuti oleh pesaing karena tidak berada pada pakem yang sudah ada.

Andaikan anda berhasil melahirkan banyak ‘black swan’ baru, maka anda tidak perlu mengurangi karyawan. Karena mereka mampu diajak melahirkan karya yang lebih besar dengan ongkos yang anda tanggung untuk mempertahankannya. Tinggal anda berani atau tidak ? CEO dan CHR harus melihat potensi lahirnya ‘black swan’ dari gugus ini.

Penulis, Paulus Bambang WS adalah Author buku ‘Best Seller’: ‘Built to Bless’ dan buku terbaru ‘Lead to Bless Leader’ Kepemimpinan yang menjamin perusahaan SEJAHTERA dan karyawan BAHAGIA.

Tags: ,