Berani Menjadi Moral Guardian?

GMP

Paulus Bambang WS

Vice President Director PT United Tractors Tbk.
Author buku ‘Best Seller’: Built to Bless. The 10 Commandments to transform your Visionary Company – Built to last – to a Spiritual Legacy.

Mengurai satu persatu benang kusut persoalan budaya perusahaan, antara yang tertera di dinding dan yang dilakukan di dunia nyata memang tidak mudah. Siapa yang merasa bertanggung jawab bila terjadi ‘gap’ antara ‘the way we WRITE around here’ dengan ‘the we DO around here’? Siapa yang merasa ‘resah’ bila terjadi ketidak samaan antara ‘the way we TALK around here’ dengan ‘the way we WALK around here’?

Seharusnya para petinggi yang duduk di atas sana yang sangat tidak nyaman melihat kesenjangan itu. Apalagi kalau kesenjangan itu sudah sangat kasat mata di mata seluruh karyawan, petinggi seharusnya memprioritaskan hal ini sebagai sesuatu yang segera harus dilakukan penanganan. Ini adalah penyakit kronis yang berbahaya dan menular serta kalau sudah menular tidak mudah dilakukan penyembuhannya. Membentuk budaya memerlukan waktu yang lama, demikian juga merubuhkan dan merobah budaya memerlukan waktu yang lama dan enerji yang jauh lebih besar dibandingkan enerji sewaktu pembangunannya.

Masalah yang paling besar adalah tatkala petingi ‘tidak’ mau melihat sebagai sesuatu yang harus ditangani ‘sekarang’. ‘Tomorrow is another day’. Petinggi yang berfokus pada kinerja keuangan dan jangka pendek senantiasa hanya melihat prestasi keuangan saja. Kalau angka-angka di neraca dan laporan laba rugi masih ok, atau bahkan semakin ok, soal adanya ‘penyakit’ dalam budaya etika dan moral masih dapat ‘dimaafkan’ atau dibiarkan.

Ada pula petinggi yang sadar ada masalah budaya tapi hanya berteriak-teriak soal perlunya budaya baru tanpa menyebutkan adanya budaya lama yang harus dibasmi. Budaya ‘Garang dalam pidato like a Tiger. Lemah dalam menangani like a Loser‘ menjadi tontonan yang lucu buat si Karno, yang baru saja mendapat SP3 gara-gara ditemui telelap tatkala kelelahan menjaga gardu jaga.

Benang menjadi semakin kusut, kalau pemimpin puncak adalah aktor yang harus ‘dibudayakan’ dulu sesuai dengan butir-butir falsafah perusahaan yang sudah ditanda tanganinya sendiri. Siapa yang berani melakukannya ?

Bagi saya, HRD harus merasa ini adalah tugas yang tak boleh ia lepaskan. Ini adalah tuntutan tugas diatas job description. Ini adalah ‘calling’, panggilan yang nilainya jauh diatas job value atau position value pada ‘Hay atay Mercer system’. Panggilan yang bersumber pada hati nurani mewakili pemangku kepentingan yang bernama ‘etika dan moral’.

HRD bukan saja menjadi ‘moral guardian’ tapi juga harus menjadi ‘culture developer’, pembangun budaya yang benar bukan hanya baik. Menjadi perusahaan menjadi ‘great’ tidak sekedar puas hanya menjadi ‘good’. Itu sebabnya saya menyebutkan ini adalah tantangan ‘Calling’ yang diatas Career dan Compensation. Resikonya ya seperti Pak Karno, kalau sampai petinggi puncak merasa tidak ‘berkenan’ dengan program budaya HRD seperti yang sebenarnya bukan sandiwara opera sabun yang pantas untuk tontonan geguyonan.

Apa yang harus dilakukan kalau ‘gap’ nya sangat jauh ?

HRD harus membangun ‘jembatan’ agar terjadi suatu kondisi satunya kata dan perbuatan buat si petinggi. Itu prioritas nomor satu. Jangan pernah mulai dari paling bawah, karena yang dibawah itu gampang di’budayakan’ setelah melihat ‘contoh’ dari yang atas. Aktor utama yang diatas, dari para manajer sampai direksi.

Keberanian menjadi jembatan untuk kalangan atas ini harus ditingkatkan. Banyak HR yang sangat garang terhadap orang bawah, yang tak berdaya ketika melakukan tindakan tak berbudaya, tapi seakan mati kutu dan mati kata ketika berhadapan dengan petinggi. Macan ompong yang hanya mengaung kalau berhadapan dengan Serikat Pekerja tapi diam seribu bahasa kalau berhadapan dengan Serikat Petinggi. Pekerja yang seharusnya dibantu dan diproteksi sering dijadikan korban. Petinggi yang seharusnya diberikan SP3 hanya diberi surat teguran dan diselesaikan secara kekeluargaan dengan makan siang di Bumbu Kota. Yang model begini, tak mungkin mampu menjadi jembatan untuk menyatukan kata dan perbuatan.

Dalam bahasa jawa saya sering katakan orang HR yang berperilaku seperti itu adalah ‘Ora Sembodo”. Berani hanya sama yang kecil. Galak sama yang minta kenaikan upah sedikit diatas UMR. Bungkam dan diam seribu bahasa ketika melihat petinggi tidak berbudaya seperti yang ia pidatokan. Saya hanya mampu mengelus dada. ‘They are not my partner’.

Tantangan semacam ini memang tak mungkin bisa di’valuasi’ dengan point system yang canggih sehingga menaikkan posisi gaji para HR. Resiko tinggi tanpa Return yang memadai. Itulah fakta yang sering terjadi dilapangan. Orang HR tak mampu menyajikan alasan yang bisa diterima oleh para petinggi bahwa ‘value’ pekerjaannya setara dengan bidang keuangan atau pemasaran dengan ‘resiko’ yang hanya mencakup aspek keuangan yang terukur. Persoalan budaya, etuka dan moral adalah resiko kehancuran jangka panjang yang tak sering tak terukur pada saat ini.

Baru setelah kasus Enron, Worldcom dan Arthur Andersen terjadi, semua mata terbelalak. Etika dan moral yang merusak mampu meruntuhkan bangunan organisasi sekuat apapun. Ternyata resiko moral itu lebih dahsyat dari resiko kekeliruan main di bursa saham.

Karenanya, saya menghimbau. Para HR jangan pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu atau tidak memprioritaskan program pembudayaan etika dan moral sebagai salah satu program utama HR anda. Target anda adalah your Partner, CEO dan perangkat yang diatas. Ini tugas yang lebih mulia dari program canggih seperti ‘competence based pay’, ‘successful career planning’, ‘strategic recruitment’ dan segala macam pernak pernik lain yang harus dilakukan tapi tanpa mengabaikan ‘ethics and moral planning’.

Untuk menjadi ‘jembatan’ yang efektif harus tahu masalahnya dimana dan oleh siapa. Ini yang membedakan dengan banyak problem identification. “Who is the Problem”bukan hanya What is the Problem”. Kalau Who dan What sudah diidentifikasi dengan cermat, barulah HR mampu melakukan langkah-langkah strategis dan praktis untuk mulai program kolosal pembangunan jembatan yang menyatukan kata dan perbuatan.

Setelah itu terjadi, barulah kita diskusikan langkahnya. Pertanyaannya adalah : Apakah anda sendiri adalah orang yang menjunjung etika dan moral ? Kalau masih suka memberi upeti pada pejabat negara agar KIMS orang asing cepat keluar atau menerima ucapan terima kasih berupa renovasi rumah dengan discount ‘buy ONE get ONE free’ dari pemasok bidang ‘general affairs’, maka anda tak akan mampu berbuat banyak. Apalagi kalau kartu truf itu dimiliki oleh rekan sekolega. Anda akan jadi bulan-bulanan diri sendiri.

Untuk menjadi ‘guardian’ yang ‘sembodo’, saya teringat akan pesan Bapak T.P Rachmat yakni ‘You have to be more Catholic than The Pope’. Berani ? Mau ?

Tags: , ,