Simple, Kunci Indonesia Kompetitif di Era Global

Handry-Satriago

Di era globalisasi saat ini, persaingan usaha semakin ketat. Siapa yang bisa mengeksekusi lebih cepat, dialah yang menang. Menurut Handry Satriago, CEO GE Indonesia dalam kumpulan tweetnya (kultwit), kesalahan beberapa perusahaan adalah seringkali membuat proses yang tidak perlu.

Simplification adalah salah satu jurus sakti agar perusahaan menjadi winner in their competition,” tulis Handry.

Handry mengakui simplification ini memang lebih mudah diterapkan kepada perusahaan yang baru beberapa lama terbentuk. Namun ketika perusahaan membesar, manajemen perlu menerapkan kontrol, managing risk, menambah tenaga kerja, praktis prosesnya menjadi kompleks.

Melalui hashtag #Simply, Handry menekankan bahwa simplification bukan sebuah project. “Simplification has to be a culture, not a project. A company should have people who want to simplify things, avoid bureaucracy,” pesannya.

Sayangnya menurut Handry, berdasarkan riset empiris, orang Indonesia cenderung suka dengan ‘power distance’ yang merupakan bibit birokrasi dan anti simplifikasi. Kultur birokrasi membuat prosedur menjadi semacam dogma yang tak boleh dilanggar.

Speed bukanlah kata yang populer dalam sejarah dan kultur kita. We like more ‘alon-alon asal kelakon’. Kita tak terlatih bergerak dan menghasilkan sesuatu lebih cepat, ‘Belanda masih jauh’ sering menjadi kredo untuk tak perlu cepat,” ulasnya.

Cara berpikir dan bertindak yang lamban, dan kesukaan untuk menunda-nunda sesuatu membuat kita tidak kompetitif. Padahal di era kompetisi global, speed menjadi isu yang kritikal. Untuk mengubah sistem kelambanan tersebut, tidak hanya diperlukan good leader, tetapi juga followers.

“Mengubah sistem birokrasi dan kelambanan, jauh lebih berat daripada membuatnya. Makanya revolution leader diperlukan. Diperlukan lebih dari hanya seorang leader untuk dapat melakukan revolusi. Kalau leader-nya berjuang jungkir balik, tapi followers-nya takut untuk melakukan perubahan, tak jalan itu revolusi,” terang Handry.

Ia menegaskan bahwa sosok leader sangat berpengaruh dalam proses simplification. “Agar Indonesia bisa lebih maju, future leader-nya diharapkan terus melakukan perbandingan dengan global competition,” tutur Handry. Membandingkan keadaan perusahaan dengan prestasi yang lebih baik adalah salah satu cara agar prosesnya terus bisa ditingkatkan.

Selain speed, leader, ada satu syarat lagi agar simplifikasi bisa berjalan. “Karena tak semua proses bisa dibuang, maka simplification adalah orchestrating multiple process secara efisien. Oleh karena itu, selain speed, maka skill leader yang dituntut dalam simplification adalah multi-tasking,” terangnya.

Handry juga menyinggung cara berkomunikasi yang panjang lebar sudah tidak dibutuhkan. “Cara berkomunikasi juga perlu diubah. Email yang panjang lebar seringkali tak terbaca. Fokus dan singkat lebih dibutuhkan,” sampainya.

Oleh sebab itu menurutnya yang terpenting bukan hanya membenarkan prosesnya, tetapi juga cara berpikir individunya. “Tak bisa semuanya dilakukan, tak bisa kita satisfy everybody, ada pilihan yang harus dibuat. We have to make priority dan focus,” lanjutnya.

Simplification dimulai dari awareness, mapping, assess risk, dan keberanian untuk take action. Simplification adalah salah satu jawaban agar Indonesia menjadi lebih competitive di global world,” pungkas Handry menutup kuliah onlinenya. (*/@nurulmelisa)

 

Tags: ,