Pengusaha Harus Ciptakan Karyawan Hebat

NL18102011

Nukman Luthfie

Prinsip pengusaha sesungguhnya sederhana: memberikan “laba” kepada seluruh stakeholder, bukan hanya kepada investor. Siapa stakeholder lain? Pertama: pelanggan, yang memberi uang untuk perusahaan. Kedua, mitra bisnis, yang ikut memperlancar usaha. Dan ketiga: KARYAWAN, yang menjadi penggerak usaha. Tapi, seringkali, hanya investorlah yang diingat oleh para pengusaha. Idealnya, keempat stakeholder itu mendapat “laba” dari perusahaan. Lebih ideal lagi jika “laba” itu juga merembes ke pemerintah (via pajak) dan masyarakat (via penciptaan lapangan kerja dan CSR).

Apa “laba” buat karyawan? Tentu segala macam benefit yang layak diberikan: gaji, tunjangan, bonus, dan lainnya, termasuk pelatihan dan pendidikan. Untuk perusahaan yang sudah mapan, “laba” untuk karyawan ini sudah tersistemkan. Tapi untuk perusahaan baru, yang belum punya sistem, seringkali terlupakan. Bahkan, tak sedikit pengusaha pemula yang enggan berbagi ilmu kepada karyawannya, dengan alasan: jika karyawannya pintar, mereka berpotensi keluar dan membuat perusahaan sejenis yang kemudian menjadi pesaing. “Ini sering terjadi pada industri yang entry barriernya rendah,” kata Nukman Luthfie, pengusaha digital, CEO Musikkamu.com yang setiap hari Rabu berbagi tips wirausaha di Twitter dengan tagar #wiRABUsaha.

Seorang tukang vernis furniture di Jepara misalnya, bisa saja kemudian membuka bisnis baru sebagai penjual furniture jati, setelah paham ilmu pemasaran dari bosnya. Seorang programmer juga dengan mudah membuat software house baru. Seorang web designer juga bisa membuka jasa web development. Pengusaha yang takut karyawan handalnya lari dan jadi pengusaha pesaingnya kemudian pelit berbagi ilmu, biasanya kemudian membatasi peran karyawan itu agar tidak terlibat ke hal-hal strategis. Akibatnya, mereka sulit menciptakan karyawan handal. Dan ini merepotkan pengusaha karena hidup mati perusahaan tergantung pada campur tangannya. Tanpa kehadirannya, perusahaan jalan di tempat. Bayangkan jika sang pengusaha sakit atau berhalangan. “Padahal, semakin handal karyawannya, semakin mudah pengusaha mengelola bisnisnya,” lanjut Nukman.

Menurut Nukman, “laba” perusahaan yang berupa ilmu ini justru yang terlebih dulu dibagikan para pengusaha pemula. Tidak perlu takut karyawan keluar dan membangun usaha sendiri. “Jika karyawan memang berniat jadi pengusaha, siapa pun sulit menahannya,” lanjut pendiri Virtual Consulting tersebut. Lagi pula, kata Nukman, tidak ada karyawan yang tak tergantikan. Sejarah membuktikan, banyak perusahaan kehilangan karyawan handalnya masih mampu bertahan, mendapatkan penggantinya, dan malah kemudian berkibar.

Majalah TEMPO beberapa kali ditinggal eksodus wartawannya yang membuat majalah baru (seperti Editor, Gatra, Prospek dan lainnya) toh tetap kokoh hingga sekarang. Orang-orang hebat di Citibank diambil bank-bank lain, masih juga berdiri tegak.

Pengusaha, kata Nukman, memang harus punya kemampuan “menciptakan” karyawan hebat, tanpa takut kehilangan karyawan hebatnya itu.