Inclusive Business, Strategi Perusahaan untuk Pengentasan Kemiskinan

Junardy

Kemiskinan yang masih menjadi masalah bersama di seluruh dunia, mendorong bisnis bukan lagi menjadi ajang kompetisi namun sebagai kolabarasi untuk meningkatkan lingkungan sosial. Paradigma baru mengenai keberlangsungan bisnis (sustainable business) dimana perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar kembali (pay back) kepada masyarakat, dengan menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kelaparan, mengurangi pencemaran lingkungan, menyadari pentingnya hak pekerja, dan kegiatan sosial lainnya pun berlaku.

Strategi yang dapat dilakukan adalah melalui inclusive business, yaitu melakukan kerjasama dan memberdayakan orang-orang kurang yang kurang mampu. Pendekatan bisnis ini menggabungkan tujuan bisnis perusahaan dengan pengentasan kemiskinan.

“Kemiskinan, kelaparan, dan isu sosial lainnya membuat sudah saatnya bisnis dapat transform pada isu global, dengan pendekatan kolaboratif, bukan lagi kompetisi, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, kesetaraan sosial, mengurangi resiko lingkungan, dan good governance. Perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar kembali (pay back) kepada masyarakat,” ungkap Yaya Winarno Junardy, President Commisioner Rajawali Corpora dan President Global Compact Network dalam Roundtable Discussion yang diselenggarakan oleh Global Indonesian Network kemarin (7/5) di Jakarta.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah manfaat yang didapat perusahaan saat menerapkan inclusive business? Sebenarnya strategi ini memberikan manfaat kepada kedua pihak, perusahaan dan pihak inclusive. Bagi perusahaan partnership ini akan memperluas network, meningkatkan profit, dan membuka sumber daya alternatif bagi perusahaan. Sedangkan untuk pihak inclusive kesejahteraan hidupnya dapat meningkat namun bukan dalam bentuk donasi, akan tetapi dalam suatu bentuk kerjasama.

Ibaratnya kita memancing ikan, dalam Inclusive business  perusahaan tidak hanya memberikan kailnya saja, namun juga mengajarkan cara memancing dan membudidayakannya. Inclusive business ini sebenarnya sudah dilaksanakan oleh beberapa perusahaan di Indonesia.

Yaya juga menjelaskan bahwa implementasi inclusive business tidak mengenal apakah perusahaan tersebut masih dalam level start up atau hanya diharuskan kepada perusahaan yang sudah growth. Semuanya dapat mengimplementasikan pendekatan bisnis ini. Seberapa besar  inclusive, tergantung dari kebijakan setiap perusahaan masing-masing, bisa dalam porsi besar ataupun porsi kecil.

“Salah satunya kita ambil contoh Express Taksi yang menerapkan inclusive business dalam mayoritas besar usahanya. Dengan jumlah driver sebanyak 15.000, perusahaan menganggap driver Express Taksi sebagai mitra kerja, bukan sebagai karyawan. Perusahan menawarkan kerjasama, dimana driver dapat menjadi pemilik taksi yang ia kemudikan setelah menjalani taksi tersebut dengan waktu yang telah disepakati,” ungkap Yaya.

Bagi perusahaan yang ingin menjalankan inclusive business, model manajemen yang dapat dilakukan adalah:

  1. 1. Leadership commitment

Buatlah isu mengenai pentingnya sustainbilty.

  1. 2. Asessment

Ukurlah resiko dari setiap organisasi saat akan menjalankan inclusive business ini, karena beda perusahaan, beda pengimplementasiannya.

  1. 3. Definisikan tujuan dan strategi
  2. 4. Implementasikan
  3. 5. Ukur

Ukurlah progress dan dampak dari implementasi inclusive business apakah sudah sejalan dengan strategi dan tujuan awal saat akan mengimplementasikan.

  1. 6. Komunikasikan progress dari implementasi kepada stake holder

Di sini change mindset harus dilakukan dengan memandang  bahwa inclusive business jangan dipandang sebagai kompetisi,  namun sebagai sebuah strategi marketing yang dapat memperluas akses marketing. Change dalam implementasi juga diperlukan dalam penerapan inclusive business. “Cara kita masuk ke marketnya, channelnya, proses, sales yang dealnya juga berbeda”, jelas Yaya. (*/@shinnyislamiyah)

 

 

 

 

 

 

 

Tags: ,